Kehidupan Puak Melayu Sumatera Dulu

Silsilah Keluarga Sultan Mahmud Syah

PULAU Sumatera adalah tanah air orang Melayu. Begitu beberapa pendapat dari beberapa orang saat air bah besar zaman nabi Nuh meninggalkan bahteranya. Selanjutnya menetap di pantai timur Sumatera. Tepatnya di muara sungai Palembang dan Jambi.

Di bumi Melayu pengaruh agama Islam tampak mentradisi dan orang Melayu menganggap mereka adalah penghuni asli pulau tersebut.

Namun tidak diketahui cara dan waktu perjalanan serta tempat asal mereka awalnya. Ketika orang Melayu menetap di sana, waktu itu Sumatera belahan selatan belum ada penghuni. Tidak ada petunjuk jelas mengenai pendaratan mereka, perlawanan yang didapat sewaktu mereka menembus ke daerah pedalaman dan mendirikan kerajaan Minangkabau. Lambat laun mereka bermukim di sepanjang hulu sungai Jambi.

Kerajaan Minangkabau yang terletak di daerah Sumatera Barat sekarang pernah terbentang sepanjang hulu sungai Jambi. Mereka mendiami daereh ini dalam kurun waktu tidak berapa lama. Karena orang Hindu Jawa menyerbu ke Sumatera Tengah dan mengembangkan kekuasaan sedemikian besarnya. Sampai ke daerah kekuasaan orang Melayu.

Akibatnya orang Melayu terdesak dan sebagian meninggalkan daerah kediamannya. Kekuasaan orang Hindu bertahan lama di daerah Sumatera. Bukti-bukti mengenai hal ini tampak jelas di monumen-monumen yang menggambarkan pengaruh Hindu Jawa. Tetapi sejarah mengenai hal ini masih diliputi kegelapan tidak ada kejelasan yang pasti dan baru sekitar abad 12 ada sedikit penjelasan.

Pada tahun 1160 sejumlah besar orang Melayu meninggalkan Sumatera, apakah karena pengaruh Hindu atau karena kesulitan melebarkan sayap perkembangannya ke utara. Sebab daerah utara sudah didiami suku Batak. Di bawah kepemimpinan Raja Sri Tri Buwana para pemukim ini bertolak dari Palembang menyusuri pantai utara sampai muara sungai Indragiri.

Dari sana mereka menyeberang ke Bintan, sebagian menetap. Bahkan putra Sri Buwana menikah dengan putri ratu pulau tersebut. Teman-temannya melanjutkan pelayaran ke Semenanjung Malaya (Malaka) dan menetap di ujung tenggara jazirah yang disebut ujung tanah.

Penduduk asli pada zaman daerah tersebut tidak diketahui berasal dari ras Melayu. Atau semata-mata terdiri dari suku-suku Negrito seperti suku Samang yang sampai sekarang masih mendiami pegunungan Kedah.

Agaknya baru pertama itulah mereka menggunakan nama Orang Melayu (pengembara). Menurut keterangan lain pembelot, penyeberang bagi yang masuk agama Islam atau pelarian. Yang sebelumnya tidak sebagai nama suku atau bangsa. Sebelum itu mereka dikenal sebutan orang di bawah angin. Di sini mereka dirikan kota Singapura. Bertambahnya kekuasaan mereka ternyata mengundang iri hati terutama pihak raja Hindu di Pulau Jawa (Kerajaan Djengala sebelum Majapahit berdiri).

Mereka bertahan selama pemerintahan Sri Buwana (-1208), Sri Pikrama Wira (1208-1233), Sri Rana Wikrama (1233-1236), dan Sri Maharaja (1236-1249). Pada saat pemerintahan raja Iskandar Syah mereka terpaksa menyerah kalah oleh serangan bertubi-tubi kerajaan Djenggala.

Selanjutnya mereka menyusuri pantai barat semenanjung menuju ke utara. Sepanjang perjalanan disana-sini mereka meninggalkan pemukiman kecil-kecil. Akhirnya menetap di tepi sungai kecil tempat mereka mendirikan sebuah kota (1252) yang disebut Melaka. Diambil dari nama asli pohon tersebut. Selama 22 tahun raja Iskandar Syah memerintah dengan aman dan sentosa. Daerah kekuasaannya semakin bertambah membuat orang asing tidak berani menyerang. Orang Melayu melebarkan sayapnya meliputi seluruh semenanjung yang dikenal tanah Melayu. Dan merangkum pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Setelah Raja Sri Iskandar Syah wafat, digantikan raja Ketjil Besar (atau raja Besar Muda). Waktu naik tahta ia memakai nama Megat. Setelah 2 tahun memerintah ia memeluk agama Islam dan berganti nama Sultan Mahmud Syah. Sejak itulah orang Melayu bergelar Sul-tan.

Diketahui sebelum itu pun orang Melayu telah berhubungan dengan orang luar terutama dalam hal perdagangan. Namun tidak mempengaruhi agamanya. Semenjak pemerintahan raja Mahmud Syah kemakmuran rakyat bertambah. Hal inilah yang menarik orang asing, seperti bangsa Arab menjalin hubungan lebih akrab dengan orang Melayu. Melaui orang Arab ajaran Nabi Muhammad mulai tersebar terutama dari kalangan pedagang.

Setelah Islam menjadi agama Sultan, sebagian besar penduduk memeluk agama ini. Sultan Muhammad Syah memerintah selama 57 tahun dengan aman sentosa. Ia meninggalkan 2 putra Radja Ibrahim dan Radja Qasim. Putra pertama dibenci oleh rakyat umum atas pengaruh ibunya sempat memerintah dengan nama Aboe Sjaid. Lebih setahun memerintah, ia dibunuh. Selanjutnya adiknya yang dicintai rakyat naik tahkta dengan nama Mosafar Syah.

Baru beberapa tahun memerintah raja Siam menyerbu kerajaan meraka (1350). Dengan mendarat di pantai Timur Pahang, bala tentara Siam melintasi semenanjung dan menyerang kota Melaka. Serangan pertama gagal dan mereka diusir ke negerinya. Selanjutnya mereka mencoba lagi untuk kedua kalinya. Dengan mengitari seluruh Semenanjung Malaka dan mendarat di pantai barat batu Pahat. Untuk kali kedua ini pun gagal dan berakhir dengan menyedihkan. Ternyata kegagalan yang diderita kerajaan Siam memberikan pelajaran bagi bangsa lain. Sultan Mosafar Syah memerintah selama 40 tahun dengan aman dan sentosa.

 

Irhas Mardiati, sumber Pedoman Bahasa dan Sastra Melayu

Edisi November-Desember 2002

Leave a Reply