Masjid Agung An-Nur, Kubahnya Dicor Mahasiswa UNRI

Annur

BERLANTAI dua dengan lima kubah. Satunya kubah induk adalah ciri khas mesjid kebanggaan masyarakat Riau. Dari menaranya berkumandang suara azan menyapa seluruh pelosok kota. Dari menara itu pula sirene tanda waktu berbuka selalu ditunggu-tunggu.

Tak ada bukti sejarah menyebutkan kapan masjid berpilar banyak ini berdiri. Hanya, ketika Pekanbaru baru saja berubah status jadi ibukota propinsi gantikan Tanjungpinang, Kaharuddin Nasution, saat itu Gubernur Riau kedua cetuskan ide: sebagai ibukota, Pekanbaru mestilah punya masjid bercirikan Melayu. Sebagai pimpinan daerah, dia memusyawarahkan pembangunan mesjid bersama sesepuh adat Melayu; Soeman Hs, Nahar Effendi, Wan Abdul Rahman, dan Wan Ghalib.

Masyarakat menyambut baik gagasan itu. Dimulailah pembangunan. Karena pembangunannya spontanitas dan tanpa program terlebih dahulu, Kaharuddin belum berani memasukkan dana pembangunannya ke dalam anggaran daerah sehingga dana sepenuhnya ditanggung masyarakat.

Pembangunan terhenti sejenak saat G 30 S/PKI. Setelah situasi kembali normal, barulah pembangunan diteruskan. Menyadari dana pembangunan tak sedikit, maka Gubernur Riau, saat itu dijabat Arifin Ahmad, masukkan dana pembangunan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Bersama masyarakat, pembangunan terus dilaksanakan. Bahkan Unri, menurut penuturan Prof. Muchtar Lutfi (alm) 1989, Unri pernah mengirim mahasiswanya bergotong royong selesaikan pembangunan masjid. Bukti yang tinggal adalah pembangunan kubah induk yang sampai sekarang tetap menjulang kokoh. Pengecorannya dahulu oleh mahasiswa Unri.

Pada 1968 baru berdiri mesjid sederhana itu. Ariffin Achmad resmikan dengan nama Masjid Agung An-Nur. Nama itu adalah ide H. Abdul Nurdin Jalil, waktu itu jabat Kakanwil Departemen Agama Propinsi Riau.

 

Terus Berkembang

Selama perkembangannya hampir mencapai tiga puluh tahun, masjid Agung An-Nur telah alami banyak perbaikan sehingga bentuknya kini berubah indah mengagumkan. Meski begitu, ciri khas yang telah dirintis pendahulunya tetap dipertahankan.

Interior masjid dipenuhi kaligrafi-kaligrafi indah berbagai jenis dan beberapa ornamen ditambah pilihan warna lembut menambah kekhusyukan tiap orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah.

Pada tahun 1992 bangunan pendamping ditambah lagi. Menara setinggi 42 meter habiskan dana Rp 81 juta dibangun di sisi utara masjid. Di bawah menara itu bernaung beberapa kantor guna perlancar beberapa aktivitas pelayanan umat. Untuk menunjang rutinitas masjid, dibentuklah yayasan An-Nur.

Selain mengelola keuangan masjid, yayasan juga taja dakwah dan pendidikan. Hingga saat ini Yayasan An-Nur menyelenggarakan pendidikan mulai dari tingkat dasar dan taman kanak-kanak sampai tingkat lanjutan atas. Semua instansi yang bernaung di bawah yayasan gunakan nama sama: An-Nur.

Di masjid juga dipusatkan bermacam fasilitas pelayanan umat. Misal Islamic Center, berkantor di samping SMA An-Nur. Sedang ICMI, MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan BAZIS (Badan Amil Zakat Infaq dan Sadakah) berkantor tepat di bawah menara di samping masjid. Sedang di lantai satu bernaung kantor yayasan, kantor Ikatan Haji In-donesia dan ruang pertemuan.

Di bidang dakwah di masjid ini diselenggarakan Majelis Taklim, Kuliah Subuh, Pengajian Kaum Ibu. Sedang untuk menanamkan kaidah Islam pada para siswa dan remaja diadakan Kultum (Kuliah Tujuh Menit).

Di samping itu masih ada TK Al-Qur’an. TK Al-Qur-an adalah yang pertama di propinsi Riau dan telah beberapa kali mewisuda mu-rid-muridnya. Masjid juga seenggarakan perpustakaan dikelola remaja masjid. Sampai saat ini perpustakaan masjid Agung An-Nur punya koleksi buku 4791 eksemplar dengan 3030 judul.

Remaja masjid diberi kebebasan berkreasi sepanjang tidak keluar dari apa yang digariskan Islam. Biasanya, tiap Ramadhan, remaja masjid adakan pesantren ramadhan. Dana kegiatan capai Rp 3 juta didapat dari sumbangan masyarakat dan bantuan Pemda.

Bagi masyarakat Riau, Masjid Agung punya nilai tersendiri. Setiap sore, di bulan Ramadhan, masyarakat terus memantau siaran RRI dipancarluaskan dari masjid. Selain itu air wudhunya dipompa dari sumur artesis adalah air panas alami sehingga berikan keunikan khas bagi masjid Agung An Nur.

Terdorong beragam kelebihan di atas, banyak masyarakat datang ke Pekanbaru merasa kurang puas sebelum sempat shalat di mesjid Agung An Nur.

 

Ernawilis dan Nasori, dari beberapa sumber

Edisi April 1994

Views – 79

Leave a Reply