‘Ngemis’ Dana Ala Kelembagaan

A Cover Awal Januari 2014

BICARA SOAL INSTITUSI, tak lepas dari sistem dan mekanisme yang berlaku. Baik sistem dan mekanisme, menjulanglah prestasi dan kemampuan.

Tak ubahnya sebuah perguruan tinggi. Sebagai kawah candradimuka, sistem dan mekanisme yang baik jadi unsur utama. Baik sistem, tentu bernas lulusannya. Mantap mekanisme, unggul produk ciptaanya. Harapan ini bisa terwujud di Universitas Riau sangat besar dan didambakan seluruh civitas akademika.

Universitas Riau sebagai insitusi pendidikan tinggi berfungsi mencetak kaum intelektual. Menjadi penerus bangsa—tentunya mahasiswa—menimba ilmu di institusi ini diberi ruang bebas untuk berkreatifitas. Gunanya membiakkan bakat serta kemampuan dari diri sendiri untuk khalayak ramai. Caranya? Ikut kapal yang namanya organisasi.

Disini mahasiswa belajar jadi awak sekaligus nakhoda kapal. Mengurus keperluan selama berlayar hingga menentukan kemana arah kapal hendak ditambatkan. Mantap awak dan nakhoda, tempat nan indah jadi pelabuhan. Salah-salah, terima nasib karam di tengah laut.

Kapal seperti ini banyak tersedia di UR. Yang besar ada dalam lingkup Unit Kegiatan Mahasiswa, biasa disingkat UKM atau Badan Eksekutif Mahasiswa dan Badan Legislatif Mahasiswa (BEM dan BLM). Awak yang hendak bergabung bisa dari seluruh mahasiswa UR. Agak lebih kecil—namun juga penting—ada dilingkungan fakultas ataupun jurusan. Sebutannya BEM fakultas serta Himpunan Mahasiswa Jurusan. Yang hendak gabung tentu berasal dari lingkungan dekat situ saja.

Kapal ada, anggota ada. Tapi apa jadinya kalau peralatan yang dibutuhkan tak ada? Tentu semuanya menyorot ke Tuan Bandar yang jadi pemasok kebutuhan. Tak ada tuan bandar, kapal tak jalan. Dipaksa jalan, mati megap-megap habis persedian ditengah laut. Untung kalau dapat pelampung penyelamat, kalau tak? Mati tenggelam habis tu dimakan buaya.

Seperti inilah gambaran keadaan organisasi tempatnya mahasiswa UR belajar kini. Wadah pengembangan kreatifitas, melatih kepemimpinan serta kerjasama tim, yang katanya harus bergiat harumkan nama universitas. Banyak program pengembangan kreatifitas dirancang, saat pelaksanaan, pengurus gigit jari, pusing tujuh keliling. Alasannya, dana untuk pelaksanaan tak ada.

Banyak sudah lembaga mahasiswa jalan ditempat karena terkendala dana yang susah didapatkan dari universitas selaku induk semang penyalur dana. Kegiatan terlaksana tentunya tak hanya butuh semangat dari pengurus serta ide kreatif. Tapi juga dana untuk realisasi perlengkapan pendukung ide kreatif.

UKM tempatnya mahasiswa berwirausaha, Koperasi Mahasiswa atau Kopma. Wadah para enterpreuner membiakkan jiwa usaha ini teredam. Pasalnya tak jelas dana untuk mereka berwirusaha dari mana. Uang simpanan pokok mahasiswa yang seharusnya diserahkan ke mereka untuk dikelola tak jelas juntrungannya.

M Zulkarnain, Ketua Kopma paparkan hendak buat koperasi untuk mahasiswa berisi bahan kebutuhan pokok. Jadi mahasiswa butuh, tinggal ke koperasi. “Kalau tak ada uang bisa ngutang. Kan mereka juga anggota Kopma, walaupun  pasif. Nanti sebelum wisuda, minta surat bebas kopma, bayar hutangnya,” ujar Zulkarnain.

Beralih kesebelah, Andra dari UKM Olahraga buka cerita. Berkali-kali anggota UKM Olahraga ikut lomba tingkat nasional, dana yang diberikan dari universitas sedikit.

Padahal ini untuk harumkan nama universitas dan kenalkan para olahragawan asal UR.

Tak hanya itu, 2013 lalu ia gagas Open Tournament Taekwondo undang kawan-kawan dari Sumatera Barat dan Jambi. “Proposal yang kita kasi cuma tembus Rp 20 jutaan. Padahal taekwondo itu lomba yang perlu dana besar,” ujar Andra.

Untuk hadapi persoalan keuangan ini, alternatif pertama, ya cari Tuan Bandar dari luar induk semang. Jika organisasi hendak berkegiatan, mereka juga harus kreatif cari dana dari luar. Tak lagi mengharap air cucuran dari rektorat. Sebab jika ada bantuan dana untuk kegiatan dari rektorat, tak jamin 100% full dana yang dibutuhkan diberi.

Opsi kedua, ini terkait dengan mekanisme institusi. Kegiatan dibantu tapi buat dulu laporan kegiatan serta laporkan semua kwitansinya. Bisa cepat, bisa juga berbulan-bulan setelah kegiatan baru dana dilansir ke kelembagaan. Atau yang lebih tragis, bisa jadi tak ada bantuan sama sekali.

“Disana ada hak kelembagaan mahasiswa, janganlah kalian seperti mengemis-ngemis. Lucu jadinya mengemis hak kalian sendiri,” ujar Zulfikar Djauhari, Kepala BKP UR.

Ya inilah yang terjadi. Bagaimana hendak harumkan nama universitas, jika kegiatan yang dibuat untuk capai tujuan itu tak didukung? Tentu harapan kosong jadinya.

Ada bantuan yang diberikan, tapi berupa doa, duit nanti dululah. Kalau ini pun kami jawabnya tunda dululah mengharumkan nama universitas.#

 

Leave a Reply