Suwondo : Kukerta Kebangsaan Tambahkan Satu Item

foto : doc UR atau unri.ac.id

Rapat koordinasi Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri (BKS PTN) wilayah barat sudah dilakukan pada 29 Maret lalu. Penyerahan mandat, saat ini Universitas Riau (UR) sebagai tuan rumah Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) 2015.

Sebelumnya terhitung sebanyak 23 PTN, namun ada penambahan satu tergabung dalam BKS PTN wilayah barat. Namun, tidak menutup kemungkinan menerima dari PTN yang ada di Indonesia. Targetkan peserta undangan sekitar 60 PTN. Dan tidak menutup peluang bagi PTS. “Tapi akan kita batasi dari luar, jadi tiap PTN sekitar 10 hingga 15 orang. Dan diseleksi oleh pihak universitas bersangkutan,” ujar Suwondo, saat dijumpai di ruangannya, Kamis (9/4).

Suwondo katakan, tahun 2015 direncanakan maksimal seribu peserta. Menurutnya, sekitar 700 sudah cukup, dan tahun lalu hanya 500. Jika pesertanya banyak maka dibutuhkan pengelola yng cukup besar. “Menurut rencana, kita bertanggungjawab penuh pada peserta luar saat tiba hingga balik lagi ke bandara,” jelasnya.

Secara adminitratif UR, terima kuota 100 orang. “Namun, tidak menutup kemungkinan bisa lebih atau kurang,” jelas Suwondo. Dengan catatan, Suwondo katakan seandainya tidak tercapai 700, maka kita ambil peserta dari UR. Ia sebutkan, pendaftaran tetap pada Kukerta Reguler. Namun yang membedakan hanya tambahkan satu item, membuat paper. Mengacu pada judul strategi implementasi program yang sudah ditentukan.

Program pertama, inisiasi dan optimalisasi kelembagaan Masyarakat Peduli Api atau disebut MPA. Selanjutnya, fasilitas pembentukan Peraturan Desa (Perdes) pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Ketiga, pembangunan canal blokcing untuk perbaikan sistem tata air mikro pada lahan gambut terdegrasi. Keempat, revetasi dengan tumbuhan lokal pada lahan gambut terdegrasi. Kelima, edukasi informal pencegahan karhutla melalui kelembagaan sosial masyarakat. Terakhir, pembelajaran pencegahan karhutla pada pendidikan dasar dan menengah.

Suwondo jelakan, paper atau makalah ditulis dengan huruf times new roman, font 12, satu spasi dan maksimal 3 halaman A4—margin kiri dan atas 4 cm, kanan dan bawah 3 cm. Formatnya seperti biasa, tegas Suwondo terdiri dari penduhuluan, pembahasan dan penutup. Paling lama diterima pada 20 April 2015, di email kknkebangsaanlppm@unri.ac.id dengan format pdf. Tentunya cantumkan nama, nomor induk mahasiswa, program studi atau jurusan.

“Bedanya dengan Kukerta Reguler mahasiswa hanya buat paper sesuai dengan 6 program tersebut. Kita akan menilai motivasi dan kreativitas mahasiswa membuat programnya,” papar Suwondo.

Suwondo tegaskan lagi, jika mahasiswa ingin buat program lain diluar 6 tersebut, bisa saja. Namun prioritas hanya 6 itu, sebab waktu yang singkat. Juga tiap desa tentu miliki masalah yang berbeda. Maka bisa gunakan satu atau dua bahkan gabungan program yang diharuskan. “Itu tergantung kebutuhan desa,” ucapnya.

Suwondo beraharap, kejadian karhutla berikan edukasi pada masyarakat bahwa pencegahan itu penting. Dan lembaga yang sudah ada seperti MPA bisa optimal berjalan. Bagi mahasiswa bisa memberi dan menimba ilmu ditempat kukerta. Kalau mahasiswa yang datang dari luar, bisa pelajari kultur budaya dan ekosistem kita. Dan isu karhutla ini tidak hanya lokal, nasional bahkan internasional. “Kampus memandang ini salah satu kontribusi kita ke negara dan bangsa ini,” tegasnya lagi. #Trinata Pardede

Leave a Reply