Internasionalisasi Universitas di Jepang

foto : http://gagasanriau.com/mantan-rektor-unri-jadi-ketua-pansel-pejabat-eselon-ii-pemprov-riau/

PENDIDIKAN tinggi sedang dalam transformasi yang radikal. Dari studium generale menuju universitas internasional, maya dan cuma-cuma. Dari suatu akademia penyelenggara penelitian memperkaya jiwa dan kemurnian, menuju universitas yang memecahkan masalah universal dan kemanusiaan lainnya.

Sekarang banyak perguruan tinggi sedang bergerak ke arah internasionalisasi—go internasional. Di Jepang upaya menginternasionalkan perguruan tingginya, dengan mudah ditelusuri gejala dan arahnya sejak tahu 1970-an.

Belajar dari internasionalisasi universitas di Jepang, diawali penerimaan mahasiswa asing penerima beasiswa sejak tahun 1960. Namun baru pada awal abad 21 ini, dirumuskan langkah dan mekanisme sistemik menuju internasionalisasi universitas di negara sakura itu. Yakni ketika kekuatan ekonomi Jepang berada di peringkat kedua, menggeser Inggris.

Para dosen muda dibiayai negara melakukan penelitian di beberapa negara ataupun ‘magang’ di negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Australia dan lainnya. Para peneliti senior dan guru besar melakukan penelitian lapangan di negara yang masih berkembang di Asia, Amerika Latin, dan Afrika.

Di Riau misalnya, Tim penelitian ikan yu dari Universitas Tokyo dan Universitas Nagasaki yang dipimpin Prof Kazuhiro Mizue, pernah meneliti ikan yu air tawar di sungai Indragiri sekitar kota Rengat pada tahun 1976. Tentang antropologi Melayu di kepulauan Riau pernah diamati Prof. Norifumi Maeda selama lima tahun. Sedangkan Sosiologi Minangkabau oleh Prof TsuyoshiKato dari Universitas Kyoto, suatu universitas negeri nomor dua terkemuka di Jepang. Semua penelitian itu ditaja oleh Universitas Riau, yang merupakan penjaminnya di Indonesia (LIPI).

Tidak sedikit rintangan yang dihadapi negara itu ketika menginternasionalisasi penelitian universitasnya. Teristimewa penelitian di Indonesia dan negara yang pemerintahannya di tangan militer atau sosialis seperti Burma, Vietnam, Laos dan negara lainnya. Sampai sekarang pun prosedurnya yang terbatas dan semula semakin wajar, tetapi belakangan ini kembali menjadi semakin dipersulit.

Persetujuan visa peneliti asing maupun menghadiri seminar internasional jadi persoalan. Untuk mendapat visa penelitian harus melalui sidang di Kementerian Riset dan Teknologi (BPPT). Walaupun untuk perpanjangan penelitian yang sudah dilakukan sekalipun.

Tim penelitian geografi Riau, Prof Nakata dari Universitas Tokyo, telah melaksanakan penelitian sejak lima tahun lalu tentang perkebunan sawit, mendapat banyak rintangan. Akhirnya tim itu membatalkan penelitiannya di Riau pada tahun lalu. Sebab banyak sekali larangan sehingga tidak mungkin dipenuhi tim. Pada hal baik laporan kemajuan maupun penerbitan yang dibuat tim peneliti selama lima tahun belum ada dipermasalahkan sama sekali.

Prosedur baru itu diterapkan karena kejadian dipatenkannya beberapa temuan di Indonesia oleh peneliti asing. Kejadian itu, menyebabkan pelbagai tanggapan. Kecenderungannya, semakin banyaknya tulisan dari kalangan akademisi Indone-sia di surat kabar, yang mencurigai adanya pencurian hak kekayaan intelektual oleh masuknya peneliti asing ke Indonesia.

Di Jepang mahasiswa dan peneliti asing tidak pernah menemukan kendala melakukan penelitian apapun dan dimanapun. Apalagi semuanya ditaja atau dijemput oleh peneliti Jepang dalam rangka kerjasama dan internasionalisasi universitas negeri itu.

Amat terasa dari pelayanan yang diberikan pada mahasiswa asing, bahwa internasionalisasi universi- tas di Jepang mendapat dukungan kuat dari birokrasi terkait. Seperti bagian kebudayaan pada kedutaan Jepang, imigrasi, dan tentu saja pelayanan administrasi di universitas negeri itu. Demikian pula masyarakatnya menyambut peneliti dan mahasiswa asing dengan amat memperhatikan keselamatan dan kenyamanan mereka belajar di negara itu.

Hampir tidak pernah terjadi para peneliti dan mahasiswa asing mendapat pelayanan buruk, diskriminasi ataupun pelecehen di universitas maupun di masyarakat. Internasionalisasi universi-tas membuka jalan bagi Jepang memperagakan kompetensi teknologi dan budayanya. Juga memperluas wawasan dan pengetahuan masyarakat tentang negara asing dan budayanya. Suatu promosi yang amat bagus bagi orang dan perusahaan Jepang untuk memasuki gelanggang internasional, dalam ekonomi, politik dan budaya.

Secara umum, hasil karya peneliti asing di Jepang terkenal di internasional dan negara asal peneliti. Apalagi dalam jangka panjang tidak sedikit yang meneliti dan belajar di Jepang pada pelbagai tingkat ternyata di kemudian hari menjadi tokoh penting di lingkungan akademis maupun juga pemerintahan.

Dalam rangka internasionalisasi melalui kerjasama internasional, universitas Jepang semakin banyak membuat kontrak dengan para peneliti, pengajar atau guru besar asing. Hampir setiap universitas besar dan terkenal ada professor tamu maupun professor yang dikontrak dari negara-negara maju khususnya.

TAHUN 2000 saya ke Universitas Tsukuba untuk penelitian dan menghadiri konferensi UNESCO tentang pertanian berkelanjutan. Saya sampaikan makalah soal ladang berpindah dan pertanian terpadu di rawa-rawa pada konferensi ilmiah itu. Waktu lowong saya gunakan untuk melengkapi bahan tentang sagu dan rawa-rawa, yang sedang saya kaji menjelang tahun 2000 itu.

Simposium internasional sagu diselenggarakan setiap dua tahun, yang ditaja dan didukung oleh akademisi Jepang. Simposium Sagu Internasional ke 6 dilakukan di Pekanbaru pada tahun 1996 bersamaan dengan Simposium Sagu Nasional yang ke-3. Tahun 2013 ini. Simposium Internasional ke 13 diselenggarakan di Universitas Papua di Manokwari.

Memang dalam rangka internasionalisai itu Jepang semakin giat mengadakan pertemuan ilmiah internasional dan otomatis pertemuan ilmiah dengan ruang lingkup nasional pun juga ter-”internasionalisasi’. Sebab dengan kehadiran dan penyampaian makalah para peneliti asing yang diundang sebagai pembicara kunci maupun para mahasiswa pascasarjana asing yang mengambil program S2 dan S3 hal-hal yang dibahas dalam pertemuan ilmiah itu juga terinternasionalisai.

Menyampaikan makalah pada pertemuan ilmiah nasional atau internasional merupakan suatu keharusan bagi mahasiswa S2 dan S3 pada universi-tas tertentu, teristimewa yang sudah terintenasionalisasi. Untuk menyampaikan makalah di pertemuan ilmiah nasional itu, pemakalah cukup mendaftar dengan melampirkan ringkasannya tidak lebih dari 200 kata. Ringkasan itu dibukukan sebagai terbitan awal (prosiding) yang dibagikan kepada para peserta.

Penerbitan makalah ilmiah di jurnal internasional adalah sasaran utama para peneliti Jepang, baik dari universitas maupun pusat dan lembaga penelitian. Sangat umum para dosen juga sebagai peneliti, minimal menerbitkan dua makalahnya dalam jurnal ilmiah nasional dan internasional. Secara nasional perhimpunan bidang ilmu menerbitkan jurnal 3-12 kali setahun.

Internasionalisasi universitas juga diikuti pengembangan prasarana dan sarana khusus untuk para akademisi tamu. Di kampus universitas itu disediakan atau dibangun penginapan bagi peneliti dan professor tamu, ruang kerja bagi tamu, serta ruang kecil di suatu laboratorium dan perpustakaan, yang dapat digunakan para akademisi tamu.

Pendidikan tinggi di masa ini hampir sampai pada masa memasuki bahkan pasca-internasionalisasi. Banyak universitas besar dan termasyhur sedang menuju globalisasi. Mula-mula dengan internasionalisasi kurikulum dan menyediakan kurikulum itu secara online. Kini kurikulum itu boleh digunakan secara cuma-cuma, sehingga terbentuk universitas terbuka yang ‘gratis’.

Demikianlah gambaran sederhana perkembangan internasionalisasi universitas yang membawa manfaat dengan nilai tertentu bagi banyak negara. Dampak internasionalisasi suatu universitas dianggap jauh lebih banyak positifnya daripada negatifnya bagi kemanusiaan. Dengan disebarluaskan secara internasional atau melalui kerjasama universitas yang ada, internasionalisasi hasil penelitian terjadi secara alamiah.#

*Penulis, Muchtar Ahmad Guru Besar Universitas Riau

Views – 39

Leave a Reply