Roadshow EADC 2015 di Pekanbaru

Penyerahan kenang-kenangan dari pihak Eagle Institut pada Kemahasiswaan UR

Kamis (21/5), Eagle Institute Metro Tv bekerja sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Bahana Mahasiswa dan Kemahasiswaan Universitas Riau gelar Roadshow Eagle wards Documentary Competition (EADC) 2015. Kegiatan yang bertajuk Merajut Indonesia helat di Rektorat Lantai IV.

Hadir sekitar 459 peserta dari berbagai universitas dan komunitas film di Pekanbaru, serta SMA di Riau. Sekitar pukul 10 kurang hingga istirahat makan siang, diisi dengan diskusi kebangsaan bersama Mayjen TNI (Purn) Mar. Edddy Oetomo selaku Tenaga Profesional Bidang Wawasan Nusantara Lemhannas Republik Indonesia dan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Eddy Utomo sampaikan bahwa penerapan nilai kebangsaan harus berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Ia sebutkan, nilai tersebut adalah nilai demokrasi, nilai kesamaan derajat dan nilai ketaatan hukum. Pengaplikasian nilai kebangsaan untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) diantaranya, mencintai produk dalam negeri, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta meningkatkan daya saing. “Tanpa memahami nilai kebangsaan maka akan hilang jati diri bangsa,” tutur Eddy diakhir penyampaian materinya.

Komaruddin Hidayat singgung tema kegiatan saat berikan materi. Ia katakan terkait dengan penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Menurutnya, faktor yang paling penting bagaimana merajut Indonesia sebagai pertemuan lintas budaya dan lintas agama hingga batas antar etnis bisa terlampaui.

Sesi kedua, usai makan siang hingga pukul 4 sore dilanjutkan dengan coaching clinic film dokumenter yang diisi oleh Budiyanto dan Tonny Trimarsono Alumni EADC, dan Bambang Hamid Sekjen Eagle Institut. Tonny jelaskan bahwa film dokumenter adalah film yang menceritakan kembali tentang kejadian atau peristiwa nyata. “Namun, yang terpenting adalah bagaimana melakukan pendekatan kepada subjek dalam film dokumenter agar pembuatan film bisa berjalan lancar,” ucap Tonny.

Menurut Budiyanto film dokumenter itu membuat manusia lebih jeli dan peka terhadap lingkungan. Keduanya jelaskan tahapan yang harus dilalui untuk membuat film dokumenter, diawali dengan ide, riset, seleksi peristiwa, dan sabar dalam mencari moment saat syuting. “Membuat film dokumenter itu mengenali jati diri,” ujar Budiyanto diakhir penyampaiannya.

Bambang Hamid sebutkan, roadshow EADC dilaksanakan untuk mengajak sineas muda Pekanbaru bergabung dalam kontes film dokumenter. Hal yang diharapkan dalam pembuatan film dokumenter adanya perubahan sosial yang terjadi dalam ironi yang terjadi di Indonesia. “Hal yang harus diingat dalam pembuatan film dokumenter ini adalah bahwa semua adegan harus sesuai fakta dan tidak ada yang dimanipulasi,” ucapnya.

“Materi yang disampaikan sangat menarik, hal ini dibuktikan dengan antusias peserta yang aktif dalam sesi tanya jawab,” ucap Ade Nur Ashfiah salah satu peserta. Ia berharap, media di Indonesia bisa selalu berikan tayangan edukasi, seperti film dokumenter yang menayangkan kehidupan nyata masyarakat Indonesia. #Nirma

Views – 14

Leave a Reply