Aktivis Cumlaude

foto: istimewa

WAJARKAN kalau mahasiswa yang hanya kuliah saja bisa dapat IP tinggi?” tanya Elfizar. Hari itu ia tengah mengajar di jurusan Manajemen Informatika. Salah satu jurusan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau biasa disingkat FMIPA UR.

Elfizar yang juga merupakan alumni dari fakultas tersebut kini mengajar di almamaternya. Ia kerap memberikan pesan kepada mahasiswa. “Jangan hanya kuliah untuk dapat IP tinggi, tapi kalian juga harus belajar berorganisasi,” ujarnya.

Baginya, jika seorang mahasiswa yang setiap hari kerjaannya hanya belajar dan mendapat Indeks Prestasi atau IP tinggi adalah hal wajar. Berbeda jika hal itu dilakukan oleh mahasiswa aktif berorganisasi. “Itu artinya dia pandai membagi waktu, bersosialisasi dan bekerja dengan orang banyak,” jelas pria yang hobi berenang ini.

Ia tambahkan ketika melamar pekerjaan, skill dalam berinteraksi dan berorganisasi yang dibutuhkan. Bukan hanya nilai dari kuliah.

SULUNG dari lima bersaudara ini lahir di Teluk Latak, daerah Bengkalis. Pada 27 Maret 1974. Masa kecilnya ia lewati di gugusan pulau bagian dari Provinsi Riau ini.

Anak dari pasangan Muhammad Deka dan Nurmi awali pendidikannya di SDN 021 Teluk Latak, setelah itu ia meneruskan ke SMPN Kelapa Pati.

Semasa SMP, kurang lebih 13 kilometer harus ia tempuh untuk sampai ke sekolah. Sepeda jadi teman setianya menuju tempat ia belajar. Menuju kesana, hanya 6 kilometer jalanan yang sudah diaspal, sisanya jalan tanah kuning. Hujan dan panas jadi tantangan.

Jika hujan tanah menempel di ban sepeda, membuatnya susah melaju. Ia tak hilang akal. Ban berselimut tanah itu ia ceburkan ke parit, lalu mencari kayu untuk mengikis tanah liatnya.

Tak hanya itu, jika hujan turun, Elfizar akan tetap ke sekolah. “Tak ada alasan tak ke sekolah,” ujarnya. Sampai disekolah, jaket basah ia letakkan di kursi. “Guru tertawa melihat saya, karena lantai banjir,” ujar Elfizar sambil tertawa.

Begitu tamat, ia lanjutkan pendidikan di SMAN 1 Bengkalis. Dari SMP hingga SMA Elfizar selalu mendapat juara umum. Hal ini membuat atuknya selalu berujar Elfizar akan menjadi dokter. Sehingga Elfizar bercita-cita menjadi dokter.

Namun semasa kuliah, ia memilih untuk mendapat gelar sarjana di Jurusan Matematika. Ia lebih tertarik ke matematika.

Elfizar tidak menjadi maha-siswa yang pasif, ia aktif diberbagai organisasi. Salah satunya ia terlibat aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika di FMIPA UR.

Organisasi lainnya ia tekuni ialah Bahana Mahasiswa. “Saya tahu Bahana Mahasiswa itu dari surat kabarnya dulu,” kenang Elfizar. Ia

banyak mendapat informasi seputar kampus dari lembaran kertas tersebut. Ia juga tertarik dengan opini yang dibuat oleh mahasiswa. Ketertarikannya semakin menjadi ketika ia tahu bahwa kru dari Bahana semuanya adalah mahasiswa.

“Saya pergi main-main ke Gobah, sekedar jalan-jalan,” ceritanya. Niat jalan-jalannya berbuah informasi bahwa sedang ada perekrutan kru untuk Bahana Mahasiswa. Elf izarpun berniat untuk gabung. “Waktu itu Pemimpin Redaksinya Bang Zulmizan,” kenang pria yang kental berbicara dialek melayu ini.

Pria yang raih gelar magister dalam Ilmu Komputer di Universitas Gadjah Mada ini menjalani proses bergabung dengan Bahana Mahasiswa. Mulai dari membuat surat lamaran, lalu diwawancara hingga ikuti Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar atau DJMTD. Ia ceritakan pelajaran yang diperoleh. Mulai dari bagaimana menulis berita, teknik reportase, menulils panjang dan lainnya. Jadilah ia bergabung di Bahana Mahasiswa pada 1994.

Pengurus Badan Perwakilan Mahasiswa FMIPA ini punya pengalaman paling berkesan di Bahana ketika ia buat berita terkait laboratorium komputer di kampusnya. Saat itu jika mahasiswa ingin menggunakan komputer harus membayar. Dengan kata lain, rental komputer. Ia pun menanyakan kejelasan soal pemakaian komputer tersebut kepada pengelolanya. “Saya tanya kenapa seperti itu. Harusnya mahasiswa bebas memakai. Itu gratis,” cerita pria yang pernah meraih juara 2 dalam lomba karya tulis ilmiah di fakultasnya itu.

Elfizar membuat liputan terkait persoalan laboratorium ini dan dimuat di Bahana Mahasiswa. Setelah berita itu, tidak ada lagi pungutan yang diminta kepada mahasiswa untuk menggunakan komputer. Ia tekankan Bahana Mahasiswa jadi kontrol dalam kebijakan yang ada di kampus. “Ketika kita melihat ada yang tidak benar, kita mempertanyakan kenapa bisa jadi seperti itu,” ujarnya menjelaskan pada kru Bahana.

foto:istimewa

Elfizar bersama rekan-rekannya menghadiri Rakornas Aptikom

Pria yang memiliki moto hidup dengan ilmu kita bisa menjadi terbaik ini berproses di Bahana selama 2 tahun. Mulai belajar soal tulis menulis dari kru magang hingga menjadi kru tetap dijabatan redaktur. Ia juga pernah ikuti Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut di Bandung. Dilema ia hadapi. Selama seminggu ia akan menimba ilmu di luar bangku kuliah. Selama itulah ia harus meninggalkan kuliah.

“Saya putuskan tetap berangkat bersama Zulmansyah, kru Bahana juga,” kenangnya. Ia menganggap bahwa ikuti pelatihan ini menjadi kebutuhan dasarnya. Ia yakin akan banyak ilmu yang ia dapat disana. Ia akan merasa rugi jika tak ambil kesempatan ini. Elfizar menemui dosennya untuk meminta izin. “Saya harus tanya ke kawan-kawan apa pelajaran hari itu, dan jika ada tugas, ya dikerjakan,” ujarnya.

Mahasiswa berprestasi FMIPA UR ini merasa enak menjadi aktivis. Apalagi di Bahana. Ketika ia mewawancarai narasumber, ada perasaan was-was. “Bahwa tindakan yang diambil jadi beresiko ketika di ekspos,” kata Elfizar. Ia mengenang bagaimana mereka perlu berhati-hati karena pers tidak bebas di zaman orde baru. “Kita berhadapan langsung dengan penguasa,” kenangnya.

Ia ceritakan kala itu ada kritik soal Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah atau SDSB. Tujuan kegiatan ini adalah pengumpulan dana sosial. Sayangnya justru pengumpulan dana ini membawa aspek negatif dijadikan tempat berjudi. “Ini seperti siji zaman sekarang, tapi legal karena dikelola Dinas Sosial,” jelasnya. Karena mendapat kritikan keras dari mahasiswa dan masyarakat akhirnya kegiatan ini dibubarkan.

KINI Elfizar tak lagi sibuk didunia jurnalistik. Setelah mendapatkan gelar Doktor di bidang komputer dari University of Malaya, ia fokus mengajar. Sebagai dosen, kegiatan seperti meneliti dan menulis buku tak boleh ia tinggalkan. “Harus dibiasakan, kalau tidak bisa lupa,” ujarnya.

Elfizar tak sepenuhnya meninggalkan dunia tulis menulis. Ia terkadang masih menyempatkan diri menulis opini dan dimuat di Harian Riau Pos ataupun di Bahana Mahasiswa. Ia tak ingin sampai lupa teknik menulis yang ia dapat selama ini.

Ia ceritakan kemampuannya dibidang tulis menulis semakin meningkat ketika bergabung di Bahana. Ia berpikir bahwa menulis bukanlah hobi. Itu adalah skill yang harus ia kuasai. Karena kemampuan menulis bagi mahasiswa sangat berguna, apalagi dalam pembuatan skripsi.

“Akan terlihat perbedaan penulisan skripsi dari kru Bahana dan yang tidak biasa menulis,” jelasnya. Menu-rutnya kelebihan setelah mempelajari hal ini adalah waktu yang digunakan untuk menulis lebih singkat dan lebih terstruktur.

Elfizar juga merasa kemam-puan menulis itu dapat ia rasakan manfaatnya ketika ia menjadi dosen. Karena ia harus membuat jurnal atau-pun bahan seminar hingga menulis buku. Semuanya menjadi lebih mudah untuk dirinya.

Ia yang dulu pernah menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Statistika Wilayah Sumatera ini kerap berpesan ke mahasiswanya. “Menjadi aktivis juga bisa berprestasi di perkuliahan,” ujarnya. Ia berharap dirinya bisa menjadi contoh untuk mahasiswanya.

“Saya aktif di organisasi tapi juga bisa lulus dengan predikat cumlaude,” ujarnya. Menurutnya yang penting adalah bagaimana mahasiswa dapat mengatur waktunya. Antara kegiatan organisasi dan perkuliahan. Tidak baik jika salah satu dijalani namun yang lainnya ditinggalkan.

Ia tidak sepakat dengan anggapan bahwa menjadi aktivis harus tamat dengan waktu yang lama. Apalagi jika ada yang mengatakan bahwa aktivis adalah orang yang kurang pintar karena IPnya rendah. “Harusnya orang pintar menjadi aktivis, dengan begitu makin banyak kelebihannya,” jelas Elfizar.

“Intinya time management.”#

Leave a Reply