Sumbi dan Gigi Imitasi dalam Pekan Teater Mahasiswa V

sumbi

Rabu (18/5) kami tiba pukul delapan malam di sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra (UKM Batra) Universitas Riau (UR). Saya, Beta dan Adi Prabowo ditugaskan untuk meliput pementasan kali ini. Malam ini Batra menyuguhkan pementasan berjudul Sumbi dan Gigi imitasi. Gadis berjilbab ungu dengan tahi lalat disekitar hidung sedang menjaga buku tamu, buku ini wajib diisi oleh penonton sebelum memasuki ruang pementasan.

Suasana gelap terasa begitu kami memasuki ruangan. Hanya beberapa lampu yang menerangi. Beberapa lukisan pemandangan alam dan foto wajah menempel di sekitar ruangan. Kursi kayu, lemari, dua kaleng cat hijau dan kuning serta kain putih dengan lukisan abstrak tersusun di panggung.

Sekitar seratus penonton datang malam ini. Tepuk mereka memenuhi ruangan saat pementasan dimulai. Dua orang pemain berdiri di panggung. Rendy Kusuma Wijaya memerankan Ahmad Sangku, Nurul Rizki memerankan Sumbi. Cerita ini diangkat dari kisah Sangkuriang yang telah dimodernisasi. Mengisahkan tentang Sumbi yang menikahi anaknya sendiri yakni Ahmad Sangku. Konflik yang ingin diangkat dari cerita ini ialah bahwa pernikahan dapat diperdagangkan.

Sumbi yang diperankan oleh Nurul hanya mengenakan baju tak sampi menutupi lutut dibalut piyama krem melewati betis. Kefullgaran tokoh sumbi tak menjaadi kesulitan bagi nurul, hanya saja gerakan sekaligus berdialog membuatnnya cepat lelah.

Nurul, sutradara sekaligus pemain ungkapkan bahwa banyak kesulitan saat pemilihan tokoh, musik dan artstiknya. “Memang tak mudah menjadi sutradara sekaligus pemain,” ujarnya.

Vino sebagai pemain piano yang iringi pementasan ungkapkan bahwa latihan yang ia lakukan hanya dua minggu. Kesulitan yang dialaminya saat menentukan letak musik untuk suasana marah, sedih dan bahagia. “Namun perasaan puas dan senang dengan hasil pementasan ini,” ujarnya. Tak hanya reno yang iringi musik, adapula Imul sebagai pemain biola dan Endah sebagai pemain gitar.

Penonton mengapresiasi akan penampilan ini. “Ceritanya bagus dan bisa membuat suasana hidup, namun pesannya belum tersampaikan karena terlalu banyak bagian fullgar,” ungkap Puspa dan Puspi selaku penonton pementasan ini.

Syafrial selaku dosen pembimbing Batra ungkapkan bahwa tokoh dan sutradara pada pementasan masih pemula jadi wajar jika banyak terjadi kekurangan namun ia tetap memberi apresiasi. “Tidak ada teori yang bisa mengatur seni. Seni dulu lahir baru teori,” ungkap Syafrial yang saat itu kenakan peci hitam. Senada dengan itu, Aryo sebagai penilai juga berkomentar bahwa bagian yang kurang ialah saat gerakan yoga. “Selebihnya, sudah bagus,” imbuh Aryo. *Latifa, Beta, Bowo

Views – 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *