Dua Penghargaan Buat Toto

Toto di ruang kerjanya

Saktioto aktif mengirim karya ilmiah di berbagi jurnal baik dalam maupun luar negeri. Keaktifannya ini berbuah hasil. Ia jadi dosen terbaik universitas 2015.

Oleh Wilingga

SEBUAH panggung dihiasi berbagai macam bunga. Tirai kuning dibentuk hingga menjulur ke lantai. Dinding belakang panggung didominasi ungu dengan tulisan Milad UR ke 53 Universitas Riau. Dua layar proyektor berada disisi kanan dan kiri panggung. Lampu sorot dipancarkan hingga menerangi seorang laki-laki atas panggung.

Ia Saktioto, sapaan akrabnya Toto, seorang Doktor dibidang Fisika Fotonik. Malam itu dua penghargaan ia peroleh. Sebagai dosen dan peneliti terbaik yang diumumkan pada malam puncak ulang tahun Universitas Riau.

Sejak 2001, 68 penelitian Toto dipublikasikan diberbagai jurnal dalam dan luar negeri, 63 dintaranya terekam didalam Scopus. “Sayang sekali jurnal yang saya buat  kurang dimengerti mahasiswa,” ujarnya kecewa.

Scopus merupakan sebuah pusat data terbesar di dunia yang menyimpan puluhan juta literatur ilmiah sejak puluhan tahun lalu. Data ini berupa jurnal ilmiah, buku, serta makalah konferensi ilmiah. Scopus dimiliki oleh Elsevier, satu penerbit utama dunia.

Usman Muhammad Tang, Ketua Lembaga Pengembangan dan Penjamin Mutu Pendidikan katakan, syarat agar jurnal dapat diakui internasional harus memuat penelitian bermutu. “Tulisannya juga harus berasal dari berbagai negara,” ujarnya. Hal ini pula yang dilakukan oleh Toto.

Salah satu penelitian Toto yang menjadikannya sebagai peneliti terbaik di Universitas Riau, mengenai Fisika Plasma dan Fisika Fotonik. Plasma dan Fotonik saling berkaitan, namanya Plasmonik. “Pernah punya ide untuk membuat mata kuliah tentang ini, namun ternyata sudah ada diluar negeri,” ungkap Toto.

Dikutip dari buku Selekta Plasma yang ditulis Toto, Plasma digunakan untuk menggambarkan suatu wujud zat atau substansi netral yang secara umum berinteraksi dengan elektron bebas dan atom atau molekul yang terionisasi. Plasma secara sederhananya adalah ionisasi. Bentuk nyatanya berupa api, matahari dan sinar pijar. Katanya, hampir seluruh dunia ini adalah Plasma. Bintang dan galaxi juga adalah bentuk nyata dari Plasma. “Namun orang tidak begitu tertarik dengan galaxi karena terlalu jauh.”

Sedangkan Fotonik adalah spektrumnya, berupa cahaya yang masuk kemata.

Penelitian Toto mengenai Plasma telah digunakan untuk alat operasi dan pelapis kaca mata. Toto memproduksinya dengan menggunakan magnetron. Magnetron yang digunakan semacam microwave alat pemanggang roti yang biasa digunakan didapur. Kemudian dibongkar menggunakan busi yang biasa dipakai oleh sepeda motor lalu diaplikasikan. “Sudah banyak yang menggunakan penelitian saya ini,” ujar Toto.

Selain peneliti terbaik, Toto juga menyandang gelar dosen terbaik di Universitas Riau.

“Menurut saya bukan dosen terbaik, itu memang sudah tugas saya,” katanya merendah. Sebagai dosen, Toto ingin mahasiswa nya lebih baik dari dia. Sehingga Toto berusaha semaksimal mungkin dalam mengajar. Menurut Toto, Keberhasilan itu bisa dikatakan berhasil ketika generasi penerus lebih hebat dari generasi sebelum nya.

Sosok Toto dikenal sebagai dosen yang jenius dan selalu bersikap objektif. “Bahkan menurut saya dia adalah dosen yang paling jenius,” ungkap Yesy Puspita Sari, mahasiswa Fisika.

Selain menjadi dosen terbaik di UR, Toto juga masuk dalam finalis dosen terbaik tingkat nasional. Peringkat lima belas besar dari 293 calon dosen terbaik tahun 2015. Toto pernah menjabat sebagai ketua tim jurnal komunikasi fisika indonesia pada tahun 2001.

Pria berkulit putih ini juga aktif sebagai Reviewer/ Editorial Board sejak 2007 silam. Reviewer bertugas mengoreksi kepantasan jurnal layak atau tidaknya untuk dipublikasikan. Ratusan jurnal dari enam negara seperti Polandia, Malayasia, China, Croasia, Jepang dan Spanyol sudah ia nilai. Komponen penilaiannya mencakup kebaruan informasi, metodologi penelitian dan juga hasil. “Untuk mengoreksi satu jurnal dalam waktu sebulan saja sudah capek,” ujar Toto.

Selain kesibukannya meneliti dan menjadi penilai jurnal, pria ini juga hobi menulis diwaktu senggang. Sejak 2008 sudah 7 buku yang ditulisnya. Diawali  Investigation of Photonic Devices Pigtailing Using Laser Welding Technique, diterbitkan World Scientific Publishing Co – eBook. Dua tahun berikutnya, ia terbitkan buku Power Parametrics of Single Mode Fiber Fusion.

Pada 2011 ada tiga buku yang ditulisnya. Yaitu  Matrix Transfer Method of Power Propagation, Directional Fiber Coupler Model Induced by Voltage, Cadmium Sulphide Nanoparticles formed by the Langmuir Boldgett Technique. Semuanya diterbitkan oleh VDM Verlag, sebuah lembaga penerbit di Jerman.

Tahun berikutnya Nonlinear Optics in Fiber Bragg Grating, diterbitkan pada In Tech, Polandia. Terakhir, Fisika Fotonik: Dunia Komunikasi Abad XXI  pada 2015 diterbitkan di Universitas Riau. Banyak bukunya yang diterbitkan di luar negeri. Toto beralasan, agar dapat tingkatkan kualitas, bersaing dengan pakar-pakar dunia.

TOTO LAHIR DI BAGANSIAPI-API, 30 Oktober sekitar 46 tahun silam. Punya dua orang anak, Sayyidati Khalisah Azzahra Putri dan Sayyidina Anshari Ahmad. Istri Toto, Okfalisa sekarang emban tugas sebagai Wakil Dekan tiga di Fakultas Sains Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Toto menamatkan pendidikan sarjana di Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau selama tiga setengah tahun. Setamat kuliah ia memilih mengabdi jadi dosen di almamaternya.

“Dulu orang starata satu sudah bisa menjadi dosen,” jelas Toto.

Tiga tahun mengajar, Toto ingin melanjutkan jenjang pendidikannya. Kebetulan UR punya program untuk sekolahkan dosen. Sayangnya, Toto tak ikut direkomendasikan dalam calon dosen yang sekolah keluar negeri. Tak patah arang, Toto dapat bantuan dari bank dunia untuk mengikuti kursus bahasa inggris di Palembang. Enam bulan ia lewati untuk belajar bahasa asing tersebut.

Perjuangan Toto terbayar, ia diterima di University of Manchester Institut of Scince and  Technology.

Selama hidupnya, ia baru pertama kali keluar negeri. Tantangan pertama yang ia hadapi, harus beradaptasi dengan udara dingin. Selain itu, Toto juga kesulitan dalam hal makanan. “Saya makan kentang rebus disana,” ungkapnya sambil tertawa. Butuh waktu selama setengah tahun untuk membuat Toto bisa terbiasa.

Tak genap tiga tahun, Toto tamatkan pendidikan magister. Tugas akhirnya tentang Studies of Nitrogen Plasma Species at Atmospheric Pressure Sources.

Lulus dari Inggris, Toto ingin lanjutkan pendidikan doktoralnya ke Rusia. Niatnya ingin dapat ilmu yang lebih banyak. Ia diterima di Moscow dan harus kursus bahasa Rusia. Disaat yang sama, ia punya pilihan yang sulit. Istri Toto saat itu diterima jadi dosen di Johor, Malaysia. Anaknya juga masih kecil, sehingga sulit untuk ditinggalkan.

Ia ambil pilihan tidak tinggalkan keluarga. Lalu melanjutkan kuliah di Universiti Teknologi  Malaysia atau UTM.

Di UTM, Toto bertemu Jalil Ali sebagai pembimbing. Jalil memberi Toto tantangan. Toto harus publikasi jurnal internasional yang banyak dan cepat. Selain itu, Toto harus mengikuti konferensi dalam dan luar negeri. Selama itu juga Toto habiskan waktu untuk meneliti di laboratorium.

“Saya tulis setiap harinya apa yang diteliti dan dilakukan,” kata dosen yang juga hobi bermain musik ini. Selain itu, Toto juga berkomunikasi dengan pakar-pakar fisika lewat internet.

Sekitar dua tahun delapan bulan, Toto dinilai sudah layak untuk selesaikan tugas akhir. Disertasinya tentang Power Parameters of Single Mode Fusion Fiber coupler. Jalil Ali sempat kawatir sebab Toto memilih pembimbing dari Spanyol dan Thailand untuk tugas akhir itu. Percaya akan dirinya, Toto selesaikan dengan nilai sempurna. “Nah, saya lulus dengan nilai terbaik,” kata pria yang menjabat Ketua Laboratorium Fisika Fotonik ini.#Dian Sherly Asnavia

Views – 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *