Buku Dosa dan Nasionalisme Johannes

Yohannes Kho di meja mengajarnya.

Mengawali kuliah dengan lagu wajib nasional. Johannes terinspirasi setelah mengikuti penataran Pancasila dan Kewarganegaraan

Oleh Ade Syntia

SAMBIL MENENTENG DUA TAS, ia masuk ruang kelas jurusan Ilmu Ekonomi. Tasnya berisi peralatan untuk mengajar. Lelaki yang mengabdi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan—FKIP—Universitas Riau sejak 1981 ini,  bersiap untuk memberi kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Ia Johannes Kho, akrab disapa Johannes.

Dua puluh menit sebelum kuliah dimulai, Johannes sudah berada di kelas. Satu per satu mahasiswa datang dan bergegas mengeluarkan alat tulis. SementaraJohannes menyusun lima kursi di depan kelas. Gunanya untuk menggelar diskusi. Tidak diperbolehkan mahasiswa datang terlambat.

Tepat pukul 9.25 perkuliahan dimulai. Sebanyak 39 mahasiswa mengikuti kuliah pagi itu. Johannes memulai materi diskusi minggu lalu. “Kemarin kekurangan waktu, jadi diskusi sering dilanjutkan pada pertemuan berikutnya,” ujar Johannes. Tanya jawab mahasiswa dan Johannes pun meramaikan kelas pagi itu. Begitu Johannes mengisi kuliahnya dengan memberi nomor undian pada mahasiswa secara bergantian memimpin diskusi.

“Teknik nomor undian ini sangat efektif , agar semua kelompok dapat persiapkan  diri untuk tampil,” ujarnya.

Sebelum memulai kuliah, Johannes punya kebiasaan. Mahasiswa diminta menyanyikan lagu wajib nasional. Sambil berdiri, mahasiswa bernyanyi dengan iringan musik lewat speaker kecil yang dihubungkan ke laptop. Lirik lagu sudah disediakan di layar proyektor. Tak ketinggalan, seorang pemandu memimpin rekan-rekannya bak paduan suara, suasana hikmat pun terasa.

Mahasiswa diperbolehkan memilih lagu wajib nasional lainnya.

“Memasukan lagu nasional dalam pembelajaran itu sangat unik karena jarang dosen menerapkan hal semacam itu,” ujar Eddy Ahmad, rekan Johannes yang juga mengampu mata kuliah serupa.

Johannes mengaku mendapat ide seperti ini ketika mengikuti pelatihan di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada 2012. Dosen mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dari berbagai universitas ikut dalam pelatihan ini. Kebetulan waktu itu materinya tentang lagu wajib nasional. “Sepulang dari pelatihan itu saya semakin giat untuk merubah metode pembelajaran dengan menerapkan lagu wajib nasional,” kenang Johannes.

JOHANNES LAHIR DI PADANG,  21 Maret empat tahun setelah Indonesia merdeka. Ia lulusan FMIPA Matematika Universitas Sumatera Utara. Di universitas yang sama ia menyelesaikan studi Magister Sainsnya. Pada 1971 Johannes tercatat sebagai tenaga pengajar di Universitas Riau. Karena Universitas Riau kekurangan tenaga pengajar mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, pada 1981 Johannes diminta mengemban tugas ini.

Satu tahun sebelum diminta mengajar mata kuliah ini, Johannes telah mengikuti Pendidikan Guru di Jawa. Johannes juga aktif mengikuti berbagai pelatihan dan penataran terkait Pancasila dan Kewarganegaraan.

Menurutnya, sejak menerapkan lagu wajib nasional sebelum memulai kuliah, banyak perubahan yang terjadi pada mahasiswanya. “Mahasiswa mulai rajin mencari berbagai lagu nasional, yang dulunya tidak peduli menjadi peduli,” ujar Johannes bangga.

Kata Anggelina Minchi, mahasiswa Ilmu Ekonomi 2015, ia senang dengan diterapkannya lagu wajib nasional dalam pembelajaran. “Selain sebagai media pelestarian lagu nasional, juga dapat meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap lagu-lagu wajib nasional. Cara ini juga mengajarkan cinta terhadap budaya dan tanah air.”

Diawal menerapkan kebiasaan ini, Johannes mengaku banyak mahasiswa yang mengeluh karena tidak bisa menjadi pemandu suara. Kendala ini tidak berlangsung lama.

“Yang terpenting bagaimana mereka dapat menyanyikan lagu wajib nasional dengan benar dan tahu maknanya,” tambah Johannes.

Bagi Muhammad  Iman Rizky yang juga mahasiswa Johannes, belajar dengan metode lagu wajib nasional sangat unik dan bagus. “Semangat untuk mengikuti perkuliahan juga timbul dengan cara ini.”

MUHAMMAD RASYAH SYAPUTRA mengetuk pintu kelas dan bergegas masuk. “Terlambat empat menit ya,” tegur Johannes sambil melihat jam tangannya. Rasyah langsung diminta menuliskan nama dan nomor induk mahasiswa disecarik kertas. Kertas itu disebut Buku Dosa oleh Johannes.

Mahasiswa yang masuk Buku Dosa nilainya akan dikurangi. “Agar mahasiswa serius dengan perkuliahan,” jelas Johannes. Biasanya Johannes akan meletakan buku ini dekat pintu masuk. Berkat kebijakan ini mahasiswa jarang hadir terlambat lagi.

“Saya merasa jera datang terlambat lagi,” ujar Rasyah.#

Views – 30

Leave a Reply