Lagi, Presiden Mahasiswa dari FKIP

Mereka terpilih secara aklamasi pada pemira universitas April lalu.

Abdul Khoir Presiden Mahasiswa UR ketiga dari FKIP sejak 2013. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang terpilih lewat pemungutan suara, ia terpilih secara aklamasi.

Oleh Badru Chaerudin

PEMILIHAN RAYA UNIVERSITAS RIAU—atau biasa disebut Pemira UR—telah usai diselenggarakan. Pasangan Abdul Khair dan Bayu Kumbara dinyatakan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Riau untuk satu tahun mendatang. Abdul Khoir dari jurusan Fisika, FKIP, sedangkan Bayu Kumbara dari jurusan Budi Daya Perairan, Faperika.

Sebelum keduanya maju pada ajang pemilihan orang nomor satu di kelembagaan mahasiswa Universitas Riau, Abdul Khoir menjabat sebagai Gubernur FKIP sedangkan Bayu Kumbara tercatat sebagai anggota Resimen Mahasiswa atau Menwa. Berikut cerita pasangan ini terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa.

Sejak Panitia Pemilihan Raya Universitas atau PPRU memulai tahapan Pemira pada 21 Maret lalu, seyogyanya tahapan ini berakhir pada 20 April. Dimulai dari sosialisasi, pendaftaran hingga pemungutan suara yang ditutup dengan pengumuman pemenang.

Panitia memasang spanduk, menyebarkan 2 ratus pamflet dan 5 ribu brosur ke tiap fakultas guna mensosialisasikan pesta demokrasi mahasiswa tahunan ini. Panitia juga memanfaatkan media sosial seperti: facebook, twitter, instagram, dan line. “Banyak juga bertanya mengenai ruang lingkup saya,” ujar Ade Ruslan, Ketua PPRU.

Mulai 24 Maret hingga 1 April, Panitia membuka jadwal pendaftaran. Hingga pendaftaran ditutup, 21 pasang bakal calon Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa mengambil berkas pendaftaran. “Berkas pendaftaran ada yang diambil oleh tim suksesnya, ada juga pasangan calon langsung yang mengambil,” tambah Ade Ruslan.

Namun, setengah jam sebelum pendaftaran ditutup, hanya tiga pasang calon yang mengembalikan berkas. Diantaranya: Abdul Khair berpasangan dengan Bayu Kumbara, Faizal Indra Rangkuti dari FE berpasangan dengan Agus Riadi dari FISIP dan yang paling akhir mengumpulkan berkas, Fathur Rozi dari FKIP berpasangan dengan Adli Satria Sandika dari FT.

Suasana sekretariat BEM dan DPM cukup ramai sore Jumat itu. Sebagian Panitia berkumpul di depan, sebagian lagi berada di dalam bersama steering commite dan bakal calon yang telah mengembalikan berkas. Pertemuan ini dilakukan secara tertutup. Tampak beberapa orang berjaga di depan pintu.

Hal ini tak berlangsung lama. Esoknya, Panitia bersama steering commite dan dihadiri oleh bakal calon, melakukan verifikasi berkas di sekretariat DPM Universitas Riau. Hasil verifikasi hari itu diketahui semua bakal calon belum melengkapi berkas.

Pasangan Abdul Khair dan Bayu Kumbara belum menyertakan visi misi dan surat keterangan non aktif organisasi. Pasangan Faizal Indra Rangkuti dan Agus Riadi juga belum menyertakan visi misi, Kartu Rencana Studi, curiculum vitae dan pas foto. Tak hanya itu, pasangan ini juga belum melengkapi surat keterangan aktif kuliah dan keterangan non aktif organisasi. Sementara pasangan Fathur Rozi dan Adli Satria Sandika belum melengkapi, surat non aktif organisasi, Kartu Hasil Studi, curriculum vitae dan pas foto.

Setelah dilakukan verifikasi, Panitia memberi tenggat waktu hingga Senin. “Kalau tidak melengkapi sampai waktu yang ditentukan maka dinyatakan gugur,” ujar Ade Ruslan.

Alhasil, hanya pasangan Abdul Khoir dan Bayu Kumbara yang melengkapi kembali berkas tersebut. Esoknya, Panitia langsung mengumumkan pasangan ini menang secara aklamasi.

REPORTER BAHANA MAHASISWA, Badru Chaerudin mewawancarai dua pasang bakal calon yang tidak melengkapi berkas. Masing-masing dari mereka menyampaikan alasan yang berbeda.

Usai shalat ashar, di halaman mushalla samping rektorat, Faizal Indra Rangkuti mengatakan, setelah berembuk, dia dan pasangannya kesulitan merumuskan visi dan misi. Pasangan ini juga sempat berdebat dalam merumuskan hal tersebut. “Agus Riadi pun belum ada pengalaman untuk memimpin organisasi,” terang Indra. Dari sini Indra mulai menyampaikan keraguannya untuk maju bersama Agus.

Indra juga mengeluhkan kesiapan tim nya untuk membantu mereka maju di Pemira. “Agus juga baru tahap belajar, yang menjalankan koordinasi serta instruksi semua dari saya.”

Lain halnya dengan pengakuan Agus. Penyebab mundurnya mereka dalam ajang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa, dikarenakan Indra tidak mendapat restu dari orangtua.

Berbeda dengan pasangan Faizal Indra Rangkuti dan Agus Riadi, pasangan Fathur Rozi dan Adli Satria Sandika justru mendapat dukungan dari berbagai teman. Mulai dari mahasiswa Pendidikan Fisika hingga teman-temannya di paguyuban. Baik paguyuban mahasiswa Tanjung Pinang maupun Lingga. Fathur Rozi mengaku, ia juga telah mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

Namun desakan untuk mundur mulai muncul terhadap pasangan ini setelah berkas pencalonan dihantar ke sekretariat BEM Universitas Riau. Fathur Rozi bertemu dengan Abdul Khoir yang ternyata juga mencalonkan diri. Keduanya sama-sama dari Pendidikan Fisika. “Saya kaget juga melihat Abdul Khoir di ruangan itu. saya kira dia tidak mencalonkan diri,” ujar Fathur.

Sore Jumat 1 April, setelah mengantarkan berkas bersama pasangannya Adli Stria Sandika, Fathur Rozi dihubungi oleh Toni Erawijaya melalui telepon seluler. Toni mantan seniornya di jurusan Fisika, kini menjadi staf Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni. Dalam pembicaraan itu, Fathur diminta mempertimbangkan kembali keinginannya untuk maju sebagai Presiden Mahasiswa.

Ujung dari percakapan itu, Toni mengajak Fathur duduk bersama. Fathur menjawab belum bisa menentukan waktu untuk bertemu dan sedang sibuk dengan pekerjaannya sebagai guru privat.

Tak hanya Toni, Fathur juga dihubungi oleh beberapa senior lainnya. “Sebagian ada yang mendukung, sebagian lagi tidak,” kenang Fathur. Karena Fathur dan Abdul Khoir sama-sama dari Pendidikan Fisika, mereka juga mendapat dukungan dari dosen hingga Kepala Program Studi Pendidikan Fisika.

“Namun Kepala Prodi dan dosen mengkhawatirkan akan terjadi perpecahan di keluarga Hima Pefsi jika kami tetap bersaing,” jelas Fathur. Hima Pefsi adalah Himpunan Mahasiswa pendidikan Fisika.

Setelah mendengar berbagai masukan, minggu malam, satu hari sebelum masa perpanjangan melengkapi berkas berakhir, Fathur menyatakan mundur dari pencalonan. Pasangannya, Adli Satria Sandika mengaku kaget dengan keputusan Fathur.

Pada Adli, Fathur mengatakan, tidak mendapat restu dari orangtua untuk maju di Pemira Universitas Riau. Kemudian, Fathur juga tidak mau dipandang buruk di Hima Pefsi karena ikut mencalonkan diri seperti yang dilakukan teman sejurusannya, Abdul Khoir.

“Kalau sudah begitu keputusan Fathur, mau bagaimana lagi?” ujar Adli.

Alhasil, Senin 4 April hanya Abdul Khoir dan Bayu Kumbara yang melengkapi berkas. Pasangan ini pun dinyatakan menang secara aklamasi.#

Views – 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *