Bahana Mahasiswa Mengembangkan Tradisi Akademis yang Kritis

img_7130

Sejak berdiri, Bahana Mahasiswa terus memberikan informasi pada civitas akademika dan pembaca di luar kampus. Formatnya terus berganti. Dari koran, tabloid, majalah hingga online. Budaya kritis tak lekang.
Oleh Suryadi

JULI lalu menjadi bulan yang paling menggemberikan. Terutama bagi awak Bahana Mahasiswa Universitas Riau. Pasalnya, setelah melaksanakan ibadah puasa dan disambut dengan idul fitri, Bahana Mahasiswa telah sampai pada usia 33 tahun. Beberapa kru di luar Pekanbaru bergegas kembali ke kantor redaksi.
Kami semua hendak buat acara kecil-kecilan. Undang alumni, makan bersama dan bernostalgia dengan mereka. Meski tak banyak yang sempat hadir, beberapa diantara mereka cukup mewakili generasinya. Cerita soal berdirinya Bahana, masa-masa sulit di Bahana, hingga cerita lucu-lucuan.

Tulisan ini tidak mengulang cerita mereka. Hal itu sudah pernah ditulis oleh generasi sebelumnya. Made Ali mantan Pemimpin Umum Bahana Mahasiswa 2009 hingga 2011, pernah menulis sekilas perjalanan BM—singkatan Bahana Mahasiswa—menuju perak. Tulisan ini dimuat dalam majalah Bahana menyambut hari jadi Bahana ke 25.

Tulisan yang dimuat dalam laporan khusus majalah Bahana itu, menceritakan peristiwa yang terjadi di masing-masing generasi. Pada usia ini, saya hendak bercerita sedikit soal peralihan format cetak Bahana dari koran ke majalah, berikut kupasan singkat isi laporan utamanya.

NOVEMBER lima tahun silam, saya mengikuti Diklat Jurnalistik Bahana Mahasiswa. Pelatihan ini berlangsung di kantor redaksi Bahana selama tiga hari. Pelatihan ini bagian dari rekrutmen untuk menjadi wartawan di Bahana. Ditahun ini, awak Bahana tetap rutin menerbitkan tabloid yang ditutup dengan majalah tiap akhir tahunnya.

Cikal bakal menerbitkan majalah diawali oleh generasi Anggara Fernando. Ia Pemimpin Umum Bahana Mahasiswa 2007. Kala itu, seluruh awak kru Bahana mulai dari Pimum, Pimred, Pimprus dan jajaran Redaktur termasuk reporter serta kru magang hendak buat satu terobosan baru.

Ada yang mengusulkan agar Bahana buat jurnal yang terbit skala periodik. Ide ini lalu berkembang dan penuh pertimbangan. Jurnal dianggap tidak memberi kesempatan yang luas bagi reporter bahana untuk menulis. Jurnal hanya akan diisi oleh penulis atau akademisi yang hendak mencurahkan hasil penelitiannya.

Usulan untuk menerbitkan majalah jadi pilihan. Semua awak kru Bahana sepakat. Tiap hari jadi Bahana, 17 Juli, kru akan menerbitkan majalah. “Majalah juga akan lebih tahan lama untuk disimpan,” kenang Angga dalam video milad Bahana ke 30.
Majalah perdana terbit 68 halaman. Karena momen pengabdian mahasiswa pada masyarakat atau biasa disebut KKN, laporan utama majalah Bahana mengkritisi keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan sosial di masyarakat.

Mahasiswa dianggap kurang merespon isu yang berkembang di tengah masyarakat. Apatisme mahasiswa menjadi perbincangan dikalangan aktivis. Peran lembaga mahasiswa juga dirasa kurang berdampak pada masyarakat itu sendiri. Kegiatan yang dilakukan usai pada saat itu saja. Tidak menemukan tindak lanjut. “Mahasiswa tidak lagi menyandang gelar agen of change,” ujar Jhoni S Mundung, mantan aktivis mahasiswa, dalam laporan Bahana.

Persoalan ini bisa dilihat dari program kerja yang dibuat oleh masing-masing kelembagaan, mulai dari tingkat jurusan, fakultas dan universitas. Program kerja yang dibuat lebih banyak berkutat disektor internal. Pengabdian pada masyarakat yang menjadi poin tri dharma perguruan tingga hanya sedikit menyentuh dalam program kerja yang dirancang.

Tak pelak, mahasiswa juga dicap kurang bergaul, merasa hebat dan ingin dihormati. Komentar ini disampaikan Muhammad Sarfai Ketua BLM Faperta waktu itu, dalam laporan yang ditulis kru Bahana, Ridhwan Bey.

TAHUN BERGANTI. Penanggungjawab Bahana juga beralih pundak. Giliran Suprapto memimpin Bahana sekaligus bertanggungjawab terhadap keredaksian. Namun nazar awal menerbitkan majalah tak lekang. Format dan ukuran majalah yang diterbitkan tak jauh berbeda dari generasi Anggara Fernanddo. Hanya saja jumlah halaman sedikit bertambah menjadi 72 halaman.

Generasi Suprapto mengkritisi visi Riau 2020. Tujuan jangka panjang ini hanya dianggap sebatas seremonial. Begitu tertulis pada sampul majalah.

Harapan pemimpin negeri Riau ini terpatri dalam lembaran Peraturan Daerah No 36 tahun 2001. Bunyinya, Mewujudkan Provinsi Riau sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu dalam Lingkungan Masyarakat yang Agamis, Sejahtera Lahir Batin di Asia Tenggara tahun 2020.

Sejak itu, tampilan fisik tiap gedung terutama gedung pemerintahan di negeri melayu ini mulai menampilkan ciri khas kemelayuannya. Selembayung teronggok ditiap atap gedung dan menjadi simbol. Berbusana melayu digalakkan. Pegawai hingga siswa sekolah diwajibkan berbusana ini pada hari tertentu.

Bermacam event dihelat. Pemerintah Provinsi Riau pernah melaksanakan malam penganugerahan Festival Film Indonesia atau FFI. Artis ibu kota datang. Malam penganugerahan bagi insan perfilman Indonesia ini seyogyanya berlangsung di Jakarta. Namun malam itu Riau mendapat kehormatan gara-gara perhelatan yang menghabiskan anggaran Rp 7,2 milyar.

Perhelatan akbar lain yang pernah ditaja negeri lancang kuning adalah, Dunia Melayu Dunia Islam atau DMDI, semacam festival budaya  Melayu sedunia. Event ini disebut proyek orang Malaka. “Agenda-agendanya ditentukan oleh orang Malaka,” terang Al Azhar dalam liputan Bahana.

Sastrawan Riau, Marhalim Zaini berujur lain. Ia menyebut, budaya Riau budaya seremoni.
Budayawan juga mengkritisi hal ini. UU Hamidy mengatakan, yang perlu digalakkan adalah nilai-nilai budaya Melayu itu sendiri. Almarhum Tenas Effendi berucap senada. “Melayu tidak mengacu pada etnik. Tetapi lebih kepada nilai-nilai bukan hanya fisik.” Sebelum wafat, almarhum pernah berujar pada kru Bahana, saya risau 20 tahun mendatang orang Melayu tak tahu dengan Melayu itu sendiri.

SUPRAPTO mengakhiri tanggungjawabnya pada 2009. Giliran Made Ali yang menakhodai Bahana hingga April 2011. Pada masanya, tabloid Bahana cetak tiap dua minggu sekali dan tiap akhir tahun tetap menerbitkan majalah.

Majalah pertama saat Made memimpin berukuran lebih kecil dibanding dua tahun sebelumnya. Dari 4 kolom tulisan menjadi 3 kolom. Halamannya juga berkurang. Dari 68 halaman menjadi 44 halaman. Edisi kali ini menyoal aktivis Rohis yang memegang tampuk kekuasaan BEM Universitas Riau.

Sejak Ade Angga mengakhiri masa jabatannya memimpin BEM Universitas Riau pada 2004, mereka aktivis Rohis di kampus, mulai menguasai jabatan yang ditinggalkan oleh Ade Angga. Pendakwah-pendakwah di Kursi Kekuasaan, begitu judul laporan utama yang ditulis oleh Made Ali.

Berikut mereka yang pernah memegang tampuk kekuasaan BEM Universitas Riau. Dodi Armawan-Anis Murzil periode 2004-2005; Hamdani-Effendi Muharram periode 2005-2006; Alfajri-Syahrul Fadillah periode 2006-2007; Fajri Ariefyanto-Budiono 2007-2008; Hendra Gunawan-Dimas Pradasumitra 2008-2009; Anshori-Azmansyah 2009-2010; Adi Hamdani- periode 2010-2011; Nofri Andri Yulan-Julian Caesar periode 2011-2012; Fadli-Iskandar periode 2013-2014.

Pada saat Kongres Mahasiswa Universitas Riau, bertepatan akan disahnya Fadli dan Iskandar sebagai Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa, terjadi keributan antar mahasiswa. Keributan ini berlangsung lama. Tiga kali lokasi Kongres berpindah tempat. Hasilnya, hampir setengah tahun kekuasaan BEM universitas vakum. Namun Fadli dan Iskandar tetap disahkan sementara BLM dipresidumkan.

Ketua BLM yang seyogyanya dipilih dan ditetapkan pada Kongres, karena persoalan tersebut dianggap tidak sah. Solusinya, tiap BLM Fakultas diwajibkan merekomendasi dua orang anggotanya untuk mengisi kekosongan BLM Universitas.
Dari sini cikal bakal BLM berubah menjadi BPM atau Badan Perwakilan Mahasiswa. Pemilihannya tidak lagi di Kongres tapi melalui Pemilihan Raya bersamaan dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Sistem pemilihannya memakai e-voting, tidak lagi menggunakan kertas suara.

Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan atau PUOK berubah menjadi Undang-Undang Dasar Kelembagaan Mahasiswa disingkat UUD KM. Rapat tahunan kelembagaan mahasiswa yang semula dinamai Kongres diganti menjadi Musyawarah Mahasiswa.
Meski merombak konsep pemilihan anggota BPM dan pemungutan suara dengan sistem e-voting, kekuasaan aktivis Rohis tidaklah padam. Tercatat nama-nama penerus generasi mereka, Zulfa Hendri-Hendri periode 2014-2015; Andres Pransiska-Asnawir periode 2015-2016. Sekarang giliran A. Khoir dan Bayu Kumbara menjalankan perintah Dewan Syuro hingga 2017.

Mereka dikatakan sangat kompak. Dalam laporan utama majalah Bahana, Masjid Arfaunnas kampus UR Panam, Masjid Akramunnas kampus UR Gobah serta mushalla ditiap fakultas jadi tempat mereka berkumpul sehari-hari.

“Ya biasa ada pengkajian-pengkajian setiap pekan. Bahkan dulu anak Rohis tidak mau ketika ditunjuk jadi presiden kayak saya dulu. Kalau pribadilah diturutkan semester segitu tentu mau selesai kuliah. Tapi karena amanah harus dijalankan,” kata Hamdani MS, mantan Ketua BEM UR, dalam laporan utama majalah Bahana.

Mereka merekrut kader dengan berbagai cara. Bahkan asistensi yang di kelola oleh UKMI Ar-Royyan, sebagai salah satu syarat tambahan nilai mata kuliah Agama Islam, dijadikan alat sebagai ajang kaderisasi. Mahasiswa yang sudah terjaring di sini dimanfaatkan pada saat pemilihan Presiden dan Wakil Presiden berlangsung.

“Hampir setiap hari saya selalu di SMS anak Rohis untuk pilih kader mereka,” ungkap Kiki.

“Saya sering dirayu agar memilih pasangan Hendra Gunawan-Dimas Pradasumitra (mantan Ketua dan Wakil Ketua BEM UR periode 2008-2009),” terang Anto, mahasiswa Faperta.

“Kami pernah diiming-imingi dapat nilai B tanpa ujian praktek, asal pilih pasangan Hendra-Dimas,” ujar Parlindungan. Begitu keterangan beberapa mahasiswa saat diwawancar oleh kru Bahana pada majalah tahun 2009 lalu.

Sebelum mengakhiri tanggungjawabnya, generasi Made Ali kembali menerbitkan majalah pada akhir tahun 2010. Ukurannya tidak berubah. Tapi halamannya bertambah menjadi 52 halaman. Kali ini laporan utamanya menyoal Prof. Bustari Hasan Dekan Faperika, tak kunjung dilantik oleh Prof Ashaluddin Jalil yang sedang menjabat Rektor masa itu.

Sepuluh bulan setelah terpilih, Prof Bustari Hasan ‘terkatung-katung’ tak kunjung dilantik. Pasalnya Inspektorat Kementerian Pendidikan Nasional berkirim surat pada Prof Ashaluddin Jalil.

Surat itu menyampaikan temuan Inspektorat terkait pemilihan Dekan Faperika, diantaranya: Jasril sebagai anggota senat utusan pegawai, pemilihannya tak melalui rapat pegawai. Soal status Deni Elfizon ikut pemilihan saat tugas belajar. Soal lobi-lobi selama pemilihan. Soal surat perjanjian antara Prof Bustari dan Prof Dewita Bukhari.

Dari empat temuan tersebut, dua dinyatakan terbukti oleh Inspektorat setelah dilakukan verifikasi di lapangan. Soal Deni Elfizon dan perjanjian.

Kesimpulan dari temuan diatas, Inspektorat merekomendasikan agar dilakukan pemilihan ulang. Hasil rapat senat Faperika yang dipimpin oleh Prof Bustari berkehendak lain. Senat Faperika sepakat menolak untuk pemilihan ulang.

Ceritanya begini. Pemilihan Dekan Faperika periode 2010-2014 berlangsung dua putaran. Calonnya, Prof Bustari Hasan, Prof Thamrin dan Prof Dewita Bukhari. Putaran pertama Prof Bustari dan Prof Thamrin sama-sama meraup 11 suara dan 8 suara milik Prof Dewita Bukhari. Untuk menyiapkan surat suara pemilihan putaran kedua, Ridwan Manda memberi jeda 15 menit. Ridwan Manda Ketua Panitia pemilihan Dekan Faperika masa itu.

Anggota senat yang berada dalam ruangan saat pemilihan berkehendak lain. Secara serentak mereka minta waktu jeda satu jam sambil keluar ruangan. Di sinilah lobi-lobi antar tim terjadi. Tim Thamrin berkumpul di ruang Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan. Tim Dewita di ruang Pengelolaan Sumber Daya Perairan. Bustari dan timnya memilih berkumpul di ruang Dekan.

Sebagai penghubung antar tim, dua tim Dewita, Aprizal Tanjung dan Rifardi aktif melobi Bustari dan Thamrin. Kedua orang ini menawarkan syarat yang sama pada tiap calon. Jika ingin dipilih, semua Pembantu Dekan (PD) harus dari tim Dewita. Bustari minta satu PD saja dari timnya. Thamrin menawarkan dua PD dari timnya dan dua PD dari tim Dewita.

Singkat cerita, tim Dewita memilih opsi Bustari. Agar kesepakatan tak dikhianati dikemudian hari, tim ini buat surat perjanjian. Bustari bersama saksinya Deni Elfizon dan saksi dari Dewita, Soeardi Loekman ikut bertanda tangan dalam surat tersebut. Dewita sendiri tak ikut tanda tangan. “Saya saja tak pernah lihat suratnya, bagaimana mau tanda tangan,” elak Dewita dalam majalah 2010 lalu.  Alhasil, Bustari menang 17 suara dan Thamrin hanya 13 suara. Dari sinilah surat kaleng diterima oleh inspektorat sampai akhirnya keluar rekomendasi untuk pemilihan ulang.
Persolan ini menunggu kebijakan rektor saat itu. Udin—sapaan Ashaluddin Jalil—mencermati permasalahan ini dengan tidak gegabah. “Kita sedang bicarakan dengan kementerian. Kita kan tidak sendiri, institusi ini berada di bawah kementerian,” Katanya, dalam tulisan Aang Ananda Suherman pada laporan utama majalah Bahana edisi September-Oktober 2010.
Meski begitu, Udin akhirnya melantik Bustari pada November 2010.
LOVINA menggantikan Made Ali sejak pertengahan 2011. Memasuki awal tahun 2012, generasi ini buat perubahan. Majalah tidak lagi cetak pada akhir tahun. Tapi menjadi rutinitas tiap dua bulan sekali. Isi liputannya penuh dengan tulisan panjang atau feature. Sementara berita pendek dan perca dimuat melalui website bahanamahasiswa.co.
“Perkembangan new media cukup pesat. Kita tidak ingin ketinggalan menyampaikan informasi. Jadi berita sehari-hari di kampus harus cepat kita menyampaikannya,” ujar Lovina, dalam video milad Bahana ke 30.

Tercatat, majalah pada masa Lovina memimpin diantaranya: 327 Datang Pulau Padang Perang, Tanah Ku atau Tanah Mu, Kongres Ribut Lagi Kelahi Lagi, Mengapa FE Begini, Surat Kekerasan Bersama dan UPT PPL Tolong Kami. Jumlah halaman majalah tidak menentu. Kisaran 30 hingga 60 halaman.

Tiap kali usai cetak, Bahana kerap menerima respon dari pembaca baik dari civitas akademika hingga pembaca luar kampus.
Pernah satu pagi, saya baru saja keluar dari kamar mandi. Depan pintu Bahana satu mobil Suzuki APV parkir. Dua orang keluar dari mobil tersebut. Memakai kopiah, celana di atas mati kaki sambil membawa satu majalah. Setelah mengucapkan salam, seorang dari mereka menanyakan Lovina dan menunjukkan majalah Surat Kekerasan Bersama.

Lovina belum datang ke Bahana pagi itu. Hanya ada saya dan Hidayat Sulaiman, lay outer Bahana. Mereka komplain terhadap liputan Bahana yang menyebutkan salah satu organisasi mereka. Kami ikut menjelaskan perihal liputan tersebut. Sekitar 15 menit kami terlibat diskusi. Akhirnya saya memberikan nomor kontak Lovina dan mempersilakan kedua orang itu untuk datang lagi malamnya.
Seluruh kru berkumpul malam itu di Kantor Redaksi Bahana termasuk Lovina. Yang kami tunggu pun tak kunjung datang. Lain lagi respon civitas akademika, terutama pejabat universitas dalam menanggapi liputan Bahana. Biaya cetak Bahana selalu jadi kambing hitam bila majalah ini mengkritik kampus.

Hal ini sebenarnya kerap terjadi dalam ‘hidup’ Bahana. Alumni terdahulu sering menuturkan masa-masa sulit Bahana seperti ini.
DARI Bahana saya banyak belajar. Kebenaran haruslah disampaikan. Yang salah jangan pula ditutupi. Hidup penuh dengan kritikan. Jika tak begitu tak akan ada perbaikan. Bahana juga begitu. Kami selalu menerima kritikan dan masukan. BUKAN PENGEKANGAN. Karena tugas Bahana Mahasiswa mengembangkan tradisi akademis yang kritis.*

Views – 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *