Email dari Jayawijaya

img_9645

HAMPIR satu tahun lalu, Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan (LPTK) Universitas Riau, memberangkatkan 91 guru muda yang tergabung dalam program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal atau SM-3T. Ini angkatan ke lima.

Para guru ini disebarkan didua lokasi. Di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur ditempatkan 37 guru, sedangkan 54 guru lainnya di Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Mereka berasal dari berbagai universitas di Indonesia. Seperti, Universitas Riau, Universitas Islam Riau, Universitas Negeri Medan, Universitas Negeri Padang,  Universitas Jambi, Universitas Bung Hatta, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Nomenssen serta beberapa universitas lainnya.

Meski berbeda universitas, jurusan, angkatan dan umur, semuanya tetap dalam naungan SM-3T LPTK Universitas Riau Kemenristekdikti.

SM-3T merupakan program dari Direktorat Pendidikan Tinggi atau Dikti era Pemerintahan Presiden SBY dan Wapres Boediono. Angkatan pertama program ini dimulai pada 2011. Tahun ini merupakan angkatan ke enam yang akan diberangkatkan.
Mulai tahun 2016, program SM-3T beralih dibawah naungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tujuan diselenggarakannya program ini  semata untuk membantu daerah terdepan, terluar dan tertinggal dalam mengatasi permasalahan pendidikan, terutama dalam hal kekurangan tenaga pendidik.

Selain itu, sarjana pendidikan yang diturunkan ke lokasi diharapkan mampu meraih pengalaman mengajar dan mendidik. Sehingga terbentuk sikap profesional, cinta tanah air, bela negara, peduli, empati, terampil memecahkan masalah kependidikan dan bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa, serta memiliki jiwa ketahanmalangan dalam mengembangkan pendidikan pada daerah-daerah tergolong 3T.

Yang paling penting, menyiapkan calon pendidik yang memiliki jiwa keterpanggilan untuk mengabdikan dirinya sebagai pendidik profesional pada daerah 3T, sebelum mengikuti program Pendidikan Profesi Guru atau PPG.

TIDAK terasa, setahun akan berlalu berlalu. Agustus ini, kami akan kembali ke kampung halaman masing-masing. Tugas dan tanggungjawab telah usai. Namun kenangan dan pembelajaran akan tetap tinggal dalam pikiran.

Satu hal yang akan saya ingat sampai kapanpun ialah, bagaimana anak-anak dan masyarakat sangat menghormati guru. Mereka sangat sayang sama guru. Perlakuan itu membuat kami lupa dengan segala keterbatasan dan zona nyaman yang dulu pernah kami rasakan.

Bahkan ada seorang teman, yang awalnya tidak ingin menjadi guru dan hanya ingin jalan-jalan di Papua lewat program SM-3T ini, justru mengalami gejolak perasaan setelah melihat kondisi pendidikan anak-anak di pelosok Jayawijaya. Sejak itu ia bulatkan tekad untuk tetap mencintai profesi guru, mecintai anak-anak dan akan tetap menjadi guru.
Bila kita bertemu masyarakat Jayawijaya Pegunungan Tengah Papua di jalan, mereka akan menyapa dengan ramah. “Pagi buk guru atau hormat pak guru.”

Anak-anak akan membawakan sayur, ikan, rica (cabe rawit), erom (ubi) bahkan mereka tak segan menyuci piring atau mengakat air untuk keperluan sehari-hari. Mengingat, daerah ini masih sulit mendapatkan air. Begitu sayang dan hormatnya mereka terhadap guru.

Saya mengangkat dua anak murid untuk tinggal bersama selama saya mengajar. Saya memanggil mereka Kosong Satu dan Kosong Dua. Istilah tersebut lazim digunakan di Kabupaten Jayawijaya untuk menyebut Bupati dan Wakil Bupati. Semoga kelak mereka akan menjadi generasi penerus  Papua yang akan membawa Papua dalam kesejahteraan dan kedamaian. Kami tidur bersama. Kami membicarakan banyak hal seperti nasionalisme hingga kemerdekaan Papua. Ini pendidikan non-formal yang saya ajarkan kepada mereka.

Saya selalu berpesan, papua adalah Indonesia dan Indonesia sangat peduli pada Papua. Karena itulah pak guru Anju datang kemari anak. Jadi, anak-anak harus percaya bahwa negara kita adalah Indonesia.

Sesekali saya mengajak mereka ke Wamena. Anak-anak ini sangat jarang ke kota karena takut dibunuh. Memang benar, di Jayawijaya sering terjadi perang antar distrik atau suku, mabuk dan pemalakan. Jika terjadi pembunuhan jarang diproses hukum.

Denda adat lebih dominan dalam menyelesaikan banyak pemermasalahan termasuk pembunuhan. Denda nya berupa Wam, sebutan untuk babi dalam bahasa Jayawijaya.

Meski begitu, kekerasan terhadap guru tidak pernah ada terjadi di Jayawijaya. Beda dengan polisi atau tentara yang sedikit banyak masih menjadi musuh mereka.

Saya pernah terselamatkan dari pemalakan karena profesi ini. Saat sedang mengendarai sepeda motor dari Wamena ke Distrik Piramid—lokasi saya ditempatkan mengajar—segerombolan pemabuk mencoba menghadang.

“Saya adalah pak guru yang betugas di Piramid.”

“Aaeee… mintaaa maaf pak guru,” kata mereka sambil menggaruk-garuk kepala dan mengulurkan tangan untuk bersalam. Parang panjang yang mereka pegang tak jadi ditujukan ke leher saya. Tentunya, keselamatan itu hakikatnya berasal dari Tuhan.
Selain rasa hormat dari anak murid dan masyarakat di distrik Piramid, kami juga mendapat ucapan terimakasih dan apresiasi atas kontribusi  untuk kabupaten Jayawijaya. Seperti yang diutulis  dalam majalah Lani, Juni 2016 lalu, guru-guru SM-3T angkatan lima dari Universitas Riau telah “Menggairahkan Pendidikan di Jayawijaya.”

SELAIN mengajar, kami juga membuat beberapa kegiatan di bidang pendidikan dan dibidang lainnya. Seperti, peringatan HUT Kota Wamena 10 Desember 2015, Maulid Nabi Muhammad Saw, Natal SM-3T se-Kabupaten Jayawijaya, Pekan Generasi Emas Jayawijaya tahun 2016 dan Gerakan Donasi 1001 Seragam untuk Papua.

Rasa hormat terhadap guru dari masyarakat pelosok Kabupaten Jayawijaya, sangat berbeda dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini di belahan Indonesia lainnya. Banyak kasus hukum yang melibatkan guru. Jika pimpinan KPK di kriminalisasi maka guru pun demikian.
Wali murid tidak segan-segan mempolisikan guru karena dianggap kasar terhadap anaknya. Bukankah guru adalah orangtua anak di sekolah. Eloknya, dialog dan mediasi menjadi solusi.

Gurupun harus mampu menjiwai seorang anak dengan berbagai pendekatan. Seperti yang saya dapatkan saat menjadi guru PPL di SMAN 9 Pekanbaru. Tentunya dengan berbagai macam sifat dan tingkah laku dari anak-anak.

Semoga guru-guru muda dari LPTK Universitas Riau menjadi guru sejati  dan profesional dalam mendidik murid kelak. Kasus kriminalisasi terhadap guru bahkan sampai pemukulan segera berhenti. Karena, baik guru maupun orang tua harus bersinergi untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia di tahun 2045.

Jangan sampai masyarakat kota kalah terdidiknya dengan masyarakat desa yang mampu menghargai guru. Guru pahlawan tanpa tanda jasa. SM-3T maju bersama mencerdaskan Indonesia.*

Anju Nofarof
Penulis adalah Guru SM3T Angkatan V LPTK UR di distrik Piramid, Kab. Jayawijaya.
Selain menjadi guru, juga sebagai Ketua Divisi Pendidikan SM3T Angkatan V LPTK UR dan Ketua Pekan Generasi Emas Jayawijaya 2016.

Leave a Reply