Dua Museum di Kota Balige

Jpeg

Balige punya dua museum yang letaknya bersebelahan. Mengunjungi museum ini tidak hanya melihat benda-benda peninggalan. Tapi juga akan menyaksikan keindahan panorama alam dan pemukiman orang batak.

Oleh Martha Novia Manullang

SEBUAH PATUNG dengan pakaian perwira berdiri gagah. Patung harimau sebelah kanannya. Tak jauh dari patung tersebut, ada helikopter dan kendaraan tempur yang seolah siap pakai.

Patung ini berdiri di depan museum yang diberi nama Museum TB Silalahi Center. Patung tadi merupakan replika dari orang yang punya nama. Patung tersebut seolah menyambut pengunjung yang hendak masuk ke dalam museum dan mencari jejak langkah siempunya.

Museum ini terletak di Jalan Dr. TB Silalahi No. 88 Balige, Toba Samosir, Sumatra Utara. Berdiri pada 7 Agustus 2006 atas prakarsa TB Silalahi sendiri.

Saat melewati gerbang museum akan terasa hawa sejuk. Pepohonan dengan daun yang lebat tumbuh di sekitar museum. Bergerak menuju pintu masuk museum, pengunjung akan dipungut biaya Rp. 10 ribu. “Sementara untuk pengunjung dari mancanegara dikenakan biaya lima kali lipat,” ucap Lesmi penjaga pintu masuk.

Sisi luar gedung terdapat ukiran khas batak yang disebut Gorga Batak. Pintu masuk gedung juga menyerupai rumah khas orang batak. Bentuk segitiga lancip terdapat  di atas pintu masuk. Ada dua pintu utama dengan model seperti ini saat memasuki museum.

Saat berada di ruang utama museum, pengunjung akan disambut foto-foto Presiden RI. Mulai dari Soekarno, Soeharto, Habibie, Abdurrrahman Wahid, Megawati, SBY hingga Jokowi. Lengkap dengan profil singkat masing-masing presiden.

Sebelah kanan ruangan terpampang karikatur TB Silalahi memakai pakaian perwira, menunggang kerbau sambil membaca buku. Bagian atas karikatur dijelaskan, penggembala kerbau menjadi Jenderal dan Mentri.

Beranjak ke ruangan selanjutnya, berbagai patung TB Silalahi akan dijumpai. Patung-patung tersebut lengkap dengan pakaian kebanggaannnya saat menjadi perwira TNI. Banyak koleksi pribadi TB Silalahi yang juga dipamerkan di musem ini. Kendaraan pribadi yang sering digunakan, cendera mata, meja dan kursi belajar saat masih sekolah di Sekolah Rendah.

Di ujung ruangan tersedia miniatur Museum TB Silalahi Center yang ditutup oleh kaca tembus pandang. Miniatur ini memudahkan pengunjung untuk mengetahui denah kompleks museum.

TB SILALAHI—singkatan dari Tiopan Bernhard Silalahi—merupakan putra kelahiran Pematangsiantar, 17 April tujuh puluh delapan tahun silam. Ia lulusan Akademi Militer Nasional pada 1961. Jabatan terkahirnya di militer pada 1988 sebagai Asisten 1 Kepala Staf Angkatan Darat dengan pangkat Mayor Jenderal. Ia pun dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pertambangan dan Energi.

Dimasa pengabdiannya pada negara dibidang militer, TB Silalahi juga menyempatkan untuk berkuliah dibidang hukum. Ia lulus sebagai Sarjana Muda di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung dan Strata satu pada Sekolah Tinggi Hukum Militer dengan predikat cumlaude.

Atas prestasinya dibidang pemerintahan dan sosial, TB Silalahi peroleh Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gregorio Araneta, Manila Filipina.

Karir TB Silalahi tidak habis di militer. Pada masa Kabinet Pembangunan VI Pemerintahan Soeharto, ia pernah menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara. Pada masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono, TB Silalahi pernah menjadi Penasehat Presiden dan juga pernah diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang pertahanan dan keamanan pada 2007.

Atas prakarsanya membangun museum, lima tahun setelah didirikan, tepatnya pada 18 Januari 2011, Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke  enam RI meresmikannya.

TAK HANYA museum TB Silalahi, sebelah kiri terdapat satu museum lagi. Diberi nama Museum Batak. Jarak antar museum sekitar 100 meter.

Museum ini dibagun secara modern dan elegan. Bagian depan museum terdapat patung Raja Batak, lengkap dengan pakaian adat batak serta tongkat yang dipegang erat. Dinding depan museum dibuat relief  enam sub suku batak. Diantaranya: Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Mandailing, Batak Angkola dan Batak Karo.

Masing-masing sub suku memiliki ciri khas tersendiri. Baik adat istiadat, pakaian dan bentuk rumah yang dimiliki. Di museum ini dijelaskan perbedaan ciri khas tersebut.

Menuju lantai dua museum, pengunjung akan menaiki jalan yang menanjak. Tiba di atas akan disambut oleh Hombung, benda yang terbuat dari kayu nangka, diukir dengan motif Gorga Batara Siang. Hombung merupakan tempat tidur pada zaman dahulu yang dimiliki masyarakat bertaraf hidup cukup mapan.

Hombung memiliki bagian untuk menyimpan berbagai barang berharga, seperti emas, perak, ulos dan barang pusaka lainnya.

Meninjau sebelah kanan ruangan, pengunjung akan bertemu enam pasang patung laki-laki dan perempuan memakai pakaian adat enam sub suku batak tadi. Pada tiap patung diberi penjelasan mengenai masing-masing sub suku.

Batak Mandailing, memiliki pakaian adat yang serba merah. Dibalut perhiasan  berupa kuningan pada baju dan kepala. Perempuan Mandailing menggunakan penutup kepala yang disebut Bulang dan Hampu penutup kepala bagi laki-laki. Rumah tradisional Mandailing disebut Bagas Godang.

Orang Mandailing pada umumnya berada di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara. Berkembang hingga ke Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidimpuan, Labuhan Batu dan beberapa tempat lainnya di Sumatra Utara. Mereka menamakan wilayahnya rura Mandailing yang terbagi menjadi Mandailing Julu dan Mandailing Godang.

Orang mandailing memiliki marga khas seperti : Lubis, Nasution, Pulungan, Daulay, Rangkuti dan lain-lain. Sistem perkawinan yang dianut adalah exogami. Kedatangan Islam sebagai kepercayaan baru masyarakat telah menyesuaikan adat dan kebudayaan setempat.

Batak Karo, memiliki pakaian adat merah pada perempuan dan hitam pada laki-laki. Juga memakai perhiasan pada leher baik laki-laki dan perempuan. Penutup kepala perempuan dan laki-laki disebut tudung.

Salah satu penanda orang Karo yang tak bisa ditinggalakn adalah Uis, kain tadisional. Rumah adat tradisional Karo disebut Siwaluh Jabu.

Masyarakat Karo umumnya berdomisili di Kabupaten Karo dan berkembang ke Kabupaten Langkat Serdang Bedagai, Binjai, Deli Serdang dan Kuta Cane. Ada lima marga utama di tanah Karo yang dikenal dengan Merga Silima, yakni: Karo-karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin-angin.

Batak Pakpak, ciri khas pakaian adatnya berwarna gelap dan polos dipadu dengan ulos. Juga memiliki penutup kepala pada perempuan dan laki-laki. Kain tradisional nya disebut dengan Oles, hasil tenun benang katun berwarna putih, merah dan hitam.

Oles dipandang sebagai kriya adibusana yang bermakna filosofis dan magis sebagai penghangat jiwa serta pengikat hubungan.

Orang Pakpak secara umum bermukim di Kabupaten Pakpak Barat dan Kabupaten Dairi. Berkembang hingga wilayah Singkil dan Subulussalam. Marga utama orang pakpak seperti : Ujung, Maha, Matanari, Berutu, Banuarea, Boang Sikettang, Tumangger, Tinambunan, Cibero, Berasa dan lain-lain.

Batak Toba, pakaian adatnya dikenal dengan sebutan ulis. Masing-masing dikenakan pada laki-laki dan perempuan. Bagian pinggang dan kepala perempuan dililit seutas kain yang disebut sor tali, berwarna hitam, merah dan putih.

Rumah adat tradisionalnya disebut Rumah Bolon. Rumah panggung beratap ijuk dan berdinding kayu. Bagian bawah rumah dijadikan tempat hewan ternak.

Masyarakat Batak Toba umumnya berdomisili di Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan , Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Samosir. Meluas hingga Kabupaten Tapanuli Tengah dan beberapa daerah di Sumatra Utara.

Orang Toba percaya bahwa leluhurnya Siraja Batak, diturunkan di Pusuk Buhit. Dari sini muncul asal-usul dan marga orang Toba serta percabangannya. Diantaranya: Purba, Lumban Tobing, Manullang, Siagian, Sihotang, Munthe dan lain-lain.

Sistem kepercayaan orang Toba disebut dengan Malim. Penganutnya disebut Parmalim. Kepercayaan ini mengedepankan kesucian.

Batak Simalungun, pakaian khasnya disebut Hiou. Memiliki tiga warana dasar, hitam, merah dan putih. Sama dengan Batak Toba, rumah tradisional Batak Simalungun juga disebut Rumah Bolon.

Sistem kepecayaan sub bagian suku batak satu ini dikenal dengan sebuatan Habonaron, paham yang mengedepankan kebenaran. Hal ini tercermin pada falsafah Habonaron do Bona.

Masyarakat Batak Simalungun bermukim di Kabupaten Simalungun dan Kota Pematang Siantar. Orang Simalungun disebut dengan etnis hataran atau batak timur. Sebab posisi wilayahnya berada disebelah timur Danau Toba. Marga orang Simalungun tediri dari Damanik, Saragih, Purba dan Sinaga.

Batak Angkola, kain ulos merupakan pakaian khas adat.  Jenis tenun kain ini ada dua. Abit Godang dan Parompa Sadum yang marsimata atau marambu. Arsitektur rumah tradisonalnya disebut Bagas Godang.

Orang Angkola bermukim di Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidimpuan, Padang Lawas Utara dan Padang Lawas. Marga khas orang Angkola adalah Siregar, Harahap, Hasibuan dan lain-lain.

Tak cukup berkenalan dengan beberapa sub suku batak. Di ruangan tersebut pengunjung juga akan diperkenalkan dengan beberapa perkakas orang batak ketika mencari nafkah. Peralatan bertani dan berkebun berupa cangkul, kampak dan sabit. Juga peralatan nelayan berupa jaring dari  bambu dan rotan.

Tak ketinggalan, alat tenun untuk menenun ulos juga anda temukan di ruangan yang sama. Di ujung ruangan, dibuat miniatur rumah tradisional orang batak. Panjangnya sekitar 2 meter dan lebar sekitar 1 meter.

Puas berada di ruangan sebelah kanan, sedikit beranjak ke ruangan sebelah kiri. Beberapa koleksi benda orang Batak dapat dijumpai. Penjelasan mengenai cara menenun ulos tertera di ruangan ini. Ulos ditenun dengan benang yang sudah diwarnai oleh pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan.

Ulos memiliki motif dan warna yang bervariasi. Memiliki makna dan fungsi tertentu. Misalnya Ulos Ragi Hotang, ulos ini sebagai kado kepada pengantin saat ritual adat pernikahan.

Ada lagi Ulos Sibolang Rasa Pamontari, yang digunakan saat berduka. Bila seorang kehilangan suami atau istri akan mengenakan ulos ini. Banyak lagi jensi ulos lainnya, Ulos Ragi Huting, Ulos Pinan Lobu-lobu, Ulos Ragi Pakko, Ulos Ragi Harangan.

Benda peninggalan lainnya berupa barang-barang Raja Batak. Tungkot Tunggal Panaluan, tongkat raja dari kayu yang diukir dengan mengisahkan sebuah cerita masa lalu. Tempat ramuan yang dipakai oleh Datu atau orang sakti. Tempat ramuan dari kuningan tersebut dipakai untuk menyembuhkan orang sakit atau diganggu roh jahat.

Orang batak juga memiliki aksara sebagai alat komunikasi dalam bentuk tulisan. Aksara Batak Toba disebut dengan aksara si sia-sia. Terdiri dua perangkat huruf, masing-masing disebut ina ni surat dan anak ni surat.

Di ruangan ini juga ditemukan jejak masuknya Islam dan Kristen di tanah batak. Berbagai macam buku dan Al-Quran dari kulit kayu dapat dilihat langsung. Usianya diperkirakan 300 tahun. Miniatur Masjid dan Gereja juga mengisi ruangan.

Di sudut ruangan terdapat satu ruangan lagi. Di depannya tertulis the battle of Sisingamangaraja. Isi ruangan patung orang Belanda dan Sisingamangaraja, seorang Pahlawan Nasional. Patung-patung tersebut menceritakan perlawanan Sisingamangaraja terhadap Belanda.

“Museum ini cocok bagi anak didik sebagai sarana edukasi, motivasi dan menambah pengetahuan tentang adat batak,” kata seorang guru Sekolah Menengah Pertama.

AKHIR dari perjalanan mengitari dua museum ini, ada beberapa pemandangan yang cukup menarik. Tepat di belakang Museum TB Silalahi ada satu pemukiman yang disebut  Huta Batak. Pemukiman ini diresmikan oleh Presiden SBY bersamaan dengan peresmian Museum TB Silalahi.

Rumah tradisional beserta ornamen khas Batak memenuhi pemukiman ini. Berdiri kokoh dan tersusun rapi. Rumah-rumah tradisional orang batak ini sumbangan dari beberapa orang.

Ditengah pemukiman Huta Batak ada patung Sigale-gale. Patung dari kayu yang dapat Manortor, bila musik tor-tor dinyalakan. Manortor satu tarian khas batak. Patung ini bisa menari dengan digerakkan oleh seseorang. Sigale-gale satu mitos dalam kehidupan masa lalu masyarakat batak yang erat kaitannya dengan upacara kematian.

Di ujung pemukiman Huta Batak berdiri satu pohon besar, disebut Pohon Hariara. Pohon ini sebagai penanda adanya sebuah kampung di kawasan tersebut. Pohonnya besar, daunnya lebat, dapat untuk berteduh bagi masyarakat setempat.  Disebelah pohon terdapat kuburan batu. Dulu tempat orang yang sudah meninggal.

Tak jauh dari pemukiman ini, hamparan sawah yang hijau terbentang luas. Kala mata memandang, nampak petani sedang bekerja. Pemandangan lainnya, dari hamparan sawah juga nampak sebuah danau yang di kelilingi pegunungan. Danau Toba biasa disebut.*

Views – 107

Leave a Reply