Talkshow dan Pembukaan PJTLN di UINAM

20161010_1146331

Jam terus berdetak, detik berganti. Waktu Indonesia Tengah atau WITA menunjukkan pukul delapan lewat 50 menit. Kursi berjejer rapi, beberapa sudah diduduki. Lima buah kursi tersusun di panggung dengan layar putih terbentang di belakangnya. Hari ini, 10  Oktober 2016 sedang diselenggarakan talkshow dengan tema Budaya Literasi Kita, sekaligus pembukaan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional disingkat PJTLN yang ditaja oleh Lembaga Pers Mahasiswa LIMA Washilah. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar biasa disingkat UINAM.

Selang beberapa waktu master of ceremony muncul dari sisi kiri panggung. Menyapa mahasiswa yang hadiri Talkshow dan peserta PJTLN yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia. Ada Bahana, Aklamasi, dan Visi dari Riau. Pijar, Teropong, Dinamika dan Suara USU dari Sumatera Utara. Patriotik dari Jambi. Sketsa dari Samarinda. Ganto dari Sumatera Barat. Identitas dan Profesi dari Makassar.

Tepat pukul setengah sebelas acara dimulai. Lantunan ayat suci Al Quran jadi pembuka kegiatan ini, disambung dengan dinyanyikannya Indonesia Raya dan Hymne UINAM. Selang beberapa waktu muncul empat penari gunakan pakaian kuning lengkap dengan ornamen di kepala dan aksesoris, mereka membawakan tarian empat suku Makassar. Gerak demi gerak dilakukan sampai pada akhir tarian para penari keluar melewati penonton. Layaknya acara seremonial pada umumnya, beberapa sambutan disampaikan lalu berujung pada sambutan perwakilan Walikota Makassar sekaligus membuka secara resmi kegiatan PJTLN ini.

Setelah pembukaan, kegiatan selanjutnya ialah Talkshow sesi pertama dengan pemateri Qasim Mathar, guru besar UINAM. Penulis tetap kolom di harian Fajar dan Tribun Timur ini ceritakan bahwa sejak kecil ia senang membaca dan selalu menyempatkan untuk beli buku, bukan hanya untuk dirinya tapi juga keluarganya. “Membaca itu membuat kita mengerti, kalau kita membaca lalu tidak mengerti itu sama saja tidak membaca,” ujar Qasim.

“Literasi adalah aksi membaca dan dibaca,” terang Alwi Rahman, dosen Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Menurutnya jika kita enggan membaca literasi dari agama ataupun budaya orang lain maka kita terkukung dalam gua persepsi, isi sebuah kenyataan adalah literasi.

Pemateri ketiga ialah Sabri Ar, memberikan pandangan literasi yang berkenaan dengan Islam. Sabri sampaikan bahwa ada dua pintu Allah memuliakan manusia yaitu tradisi takwa dan membaca. Berkenaan dalam literasi Islam, Al Quran adalah produk luar biasa yang di anugerahkan Allah. Sabri juga sampaikan bahwa literasi adalah sebuah ilmu untuk membaca kode dan juga memproduksi kode.

Setelah disuguhkan materi tentang literasi dari berbagai perspektif, talkshow sesi kedua dibuka. Kali ini pematerinya lebih muda yang sesuai dengan pembahasannya yaitu meningkatkan budaya literasi di kawula muda yang dihadapkan dengan peradaban teknologi  saat ini.

Penulis buku Tidak Ada New York Hari ini menjadi pemateri pertama. Ia Aan Mansur yang merupakan sosok dibalik puisi Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2. Aan berikan solusi untuk meningkatkan budaya literasi anak muda. Setiap membuka mata di pagi hari buatlah minimal dua pertanyaan tentang apa saja, pertanyaan yang kemudian membuat kita penasaran dan berusaha mencari tahu jawabannya dari berbagai sumber bacaan. Teknologi yang digalakan untuk mempermudah pekerjaan manusia, sebenarnya adalah usaha untuk membuat manusia terpukau. “Internet membuat kita terpukau, dan sesuatu yang memukau itu bisa menghilangkan fikiran,” tambah Aan yang pernah pindah sekolah hanya karena sekolahnya tidak memiliki perpustakaan.

Beralih ke Ruslan, pengelola RumahTulis.com menjadi pemateri. Ia jelaskan bahwa penggunaan internet yang baik adalah memanfaatkan internet menjadi ruang untuk berproses dan belajar menulis serta membagikannya.

Pemateri yang terakhir adalah Arief Balla, penulis kumpulan cerpen Kata-kata yang Menolak Dikatakan bercerita bahwa literasi terbagi atas tiga. Pertama pra-literasi artinya orang-orang yang tidak memerlukan sebuah bacaan misalnya pengemis yang untuk makan saja susah apalagi untuk beli bahan bacaan. Yang kedua adalah literasi adalah orang-orang yang membaca hanya karena tuntutan tugas atau profesi. Yang ketiga adalah pasca literasi artinya orang-orang yang merasakan bahwa literasi adalah nutrisi dan kebutuhan. *Nirma

Leave a Reply