Pembukaan PJTLN di LPM Teknokra Lampung.

img-20161017-wa0000

Sabtu, lima belas oktober 2016. Beberapa mahasiswa dengan almamater berbeda berjalan menuju perpustakaan Universitas Lampung (Unila). Ada almamater biru cerah, merah, hijau, biru tua dan kuning. Mereka peserta Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional disingkat PJTLN yang berasal dari berbagai pers mahasiswa di Indonesia. Jalan di Unila pagi itu cukup ramai oleh kendaraan bermotor. Seorang perempuan dengan kerudung merah muda mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan tas bawaan sedang memandu peserta menuju sebuah gedung di ujung jalan.

“Ruangannya dimana kak?” tanya salah seorang peserta.

“Kita harus naik tangga yah, soalnya ruangan materi di lantai 3”.

“Naik tangga lagi rupanya,” peserta lain menghela nafas.

Mereka kemudian menaiki anak tangga menuju ruangan yang dimaksud. Begitu sampai, mereka diarahkan panitia untuk melakukan registrasi, menulis nama, nomor handphone dan tanda tangan. Barulah memasuki ruangan materi.

Beberapa menit kemudian, dua orang pembawa acara maju. Pagi ini Lembaga Pers Mahasiswa Teknokra Jejama 2016 adakan workshop Writter Prenuer. Dimulai dengan doa, laporan ketua pelaksana kegiatan serta tari tradisional yang dibawakan oleh 5 orang mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unila. Mereka kenakan hiasan kepala, lengan dan jari yang berwarna emas  dengan corak khas Lampung. Mereka bawakan tari Sigeh Pengunten, merupakan tradisi penyambutan tamu agung di Lampung. Di akhir pertunjukan tari, mereka membagikan sirih kepada tamu. Hadir pada saat itu Rektor Unila Hasriadi Mat Akin, Wakil Rektor Unila bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Kepala Biro Humas Protokol selaku perwakilan Gubernur Lampung, alumni Teknokra serta Rulli Nasrullah yang menjadi pemateri.

Hasriadi Mat Akin beri sambutan. Ia jelaskan bahwa fungsi dasar pers harus bertanggung jawab, tidak boleh memberi opini yang dibuat-buat. “Pers kampus harus memperlihatkan kode etik pers yang baik,” lanjutnya.

Usai sambutan, acara kemudian dibuka. Ditandai dengan dimainkannya alat musik khas Lampung, yakni gamolan.

Kemudian seorang pria bertubuh tinggi kenakan baju hitam dan celana jeans maju. Jam tangan dan gelang hitam terlihat di tangan kirinya. Ia adalah pemateri yang akan mengisi worksop pagi itu. Disebelah ia berdiri terdapat sebuah proyektor yang menampilkan materi yang akan ia sampaikan untuk beberapa jam kedepannya.

“Panggil aja kang Arul,” ujarnya sambil tersenyum. Arul adalah dosen Ilmu Komunikasi, ia juga menulis 345 judul buku dan pernah aktif sebagai wartawan di Kompas Gramedia.

Kang Arul kemudian meletak mikrofon yang dipegangnya. “Sudah biasa tidak memakai mikrofon”.

Kang Arul kemudian bercerita memulai materi. Ia sampaikan bahwa media sosial merupakan medium di internet yang memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya, berinteraksi, bekerjasama, berbagi, serta berkomunikasi dengan pengguna lain dan membentuk ikatan sosial secara virtual.  Media sosial memberikan ruang baru bahkan kehidupan baru bagi penggunanya. Dalam hal ini Kang Arul lebih menekankan kepada peserta bahwa dengan media sosial kita juga bisa mendapat penghasilan, salah satunya dengan menulis di blogger. Hal yang harus di perhatian dalam menulis di blogger adalah berpikir lebih kreatif untuk tulisan kreatif.

“Belajarlah dari Jurnalisme Sastrawi dan Jurnalis Invertigasi,“ kalimat itu yang selalu di ucapakan di sela-sela Kang Arul menyampaikan materinya. Kang Arul juga sarankan untuk membuat target menyelesaikan tulisan. Dalam membuat sebuah tulisan, menulis tidak harus dari awal tulisan, biarkan mengalir begitu saja. “Intinya tulislah senatural mungkin tanpa berbohong”.

Pembawaan materi yang santai, disertai dengan lelucon yang membangkitkan semangat peserta,  serta membawa peserta untuk dapat berinteraksi adalah ciri khas Kang Arul dalam memberikan materinya. Di sela-sela Kang Arul memberikan materi, peserta di ajak untuk menulis sebuah paragraf demi paragraf. Peserta terlihat senang dan sering tertawa saat Kang Arul berbicara. Selain peserta PJTLN, peserta workshop juga di hadiri oleh mahasiswa Unila dan umum, serta hadir pula komunitas Tapis Blogger. *Martha

Views – 18

Leave a Reply