Hari Ke Dua DJTD AKLaMASI

20161125_235652

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) AKLaMASI, taja Diklat Jurnalistik Tingkat Dasar (DJTD) ke-19 pada 24-27 November. Mengusung tema Jurnalisme di Tengah Masyarakat Urban. Diadakan di Kantor Komite Nasional Pemuda Indonesia, Pekanbaru.

AKLaMASI mengundang beberapa delegasi, yakni LPM Bahana Mahasiswa Universitas Riau, LPM Gagasan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Ruang Ekspresi Fakultas Teknik UIR, UKM Jurnalistik Fakultas Hukum UIR, dan Inkrah Universitas Muhammadiyah Riau.

Hari pertama, peserta datang pukul lima sore. “Semalam cuma persiapan dari peserta, malamnya perkenalan alumni dan games,” ucap Rina, salah satu peserta.

Jumat pagi, peserta yang berjumlah 16 orang sarapan di pendopo. Pukul delapan, peserta menuju aula untuk mulai materi. Materi awal ialah Riset, Tor dan Wawancara oleh Gemal Abdel Nasser Pangabean.

“Wawancara gak ada teori, yang dibutuhin cuma keberanian dan pertanyaan,” ujar Gemal.

Gemal kemudian beri empat buku pada empat peserta yang bisa menjawab pertanyaannya, mereka Murni, Tomy, Irma dan Rina.

Sekitar pukul sebelas, Pemimpin Umum AKLaMASI periode 2010-2012, Puput Jumantirawan beri materi Elemen Jurnalisme

Puput sebutkan elemen jurnalisme terbagi sepuluh, yaitu kebenaran, loyalitas wartawan pada masyarakat, verifikasi, independen, pemantau kekuasaan, sebagai forum publik, memikat dan relevan, berita harus proporsional dan komprehensif, serta hak dan kewajiban terhadap berita.

Puput kemudian jelaskan tiga lingkaran verifikasi. Lingkaran pertama pelaku, korban dan saksi, lingkaran kedua pihak terkait dan lingkaran ketiga yaitu data pendukung.

Materi Puput selesai jelang makan siang. Usai makan siang, materi dilanjutkan Abdul Hamid Nasution.

Ia tampilkan powerpoint tentang straight news dan feature. Usai penayangan slide, peserta diajak berkhayal tentang kamar masing-masing dan membuatnya menjadi berita. Di akhir materi, peserta disuruh kembali membuat berita tentang DJTD yang sedang berlangsung.

Pukul lima sore materi tentang bahasa jurnalistik. Hary B. Koriun jadi pemateri. “Mengubah koma bisa mengubah arti kalimat,” terang Hary diawal materi.

Pukul 20.45, usai makan malam bersama peserta berkumpul di pendopo. Peserta diajak baca buku Wawancara, Wartawan dan Ratu Kecantikan serta Agama Saya Adalah Jurnalisme. Dikarenakan pemateri fotografi tidak dapat hadir.

Peserta dan panitia duduk membentuk lingkaran. Membahas tentang berita dan materi yang disampaikan sebelumnya. Beberapa peserta mempraktikkan bagaimana cara wawancara yang baik dan benar di depan peserta dan panitia. Setelah itu, peserta dan panitia kembali berdiskusi lagi.*Irma Susanti

Views – 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *