Mici, Duta Lingkungan Hidup Pekanbaru

Foto dari FB Michiko

Prihatin dengan kondisi sampah di Pekanbaru, diajak terbang ke Selandia Baru.

Oleh Eka Kurniawati

PADA malam puncak pemilihan Duta Lingkungan Hidup Pekanbaru di Ballroom Hotel Pangeran, 10 finalis tersisa mengenakan pakaian yang terbuat dari plastik daur ulang. Pakaian ini karya dari siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Pekanbaru.

Tak hanya itu, siswa dari Sekolah Menengah Atas Negeri 1 dan beberapa sekolah lain yang tampil juga menyuguhkan alat musik dari barang-barang bekas. Bahkan, tiap sudut ruangan diisi stand bazar hasil karya siswa mendaur ulang sampah plastik. Kata Elmawati Kepala Bidang Tata Lingkungan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pekanbaru, suasana malam penobatan Duta Lingkungan Hidup waktu itu memang disesuaikan dengan tujuan acara.

Jumat 27 November 2015, Michiko terpilih sebagai Duta Lingkungan Hidup Pekanbaru untuk dua tahun mendatang. Ajang ini pertama kali diadakan oleh BLH Pekanbaru untuk kategori mahasiswa. “Awalnya ditahun 2014, ajang ini hanya untuk siswa menengah atas,” kata Elmawati selaku inisiator.

Sebelum sampai pada tahap penobatan, peserta yang ikut dalam pemilihan ini harus melewati beberapa rangkaian seleksi. Pertama, peserta wajib mengirim karya tulis dengan tema lingkungan. Karya mereka akan dinilai berbarengan dengan administrasi lainnya. Setelah itu, mereka dipanggil untuk memaparkan karya tulis masing-masing. Michiko tampil berbeda dengan peserta lainnya. Ia menampilkan bahan presentasi dengan gambar kartun.

Melalui tahap ini, dewan juri kemudian menetapkan 10 peserta terbaik. Selain karya tulis, latar belakang peserta yang peduli terhadap lingkungan juga jadi alasan penilaian. Setelahnya, peserta yang tersisa diberi pembekalan selama satu minggu, dari pagi hingga siang. Mereka juga diajak keliling Kota Pekanbaru dan mendatangi lokasi pembuangan sampah.

Pada tahap akhir sebelum pengumuman, dewan juri dari Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Pekanbaru, Kepala Pusat Pengelolaan Ekoregion Sumatera, Dosen Universitas Riau dan Elmawati melontarkan beberapa pertanyaan pada peserta. Pemahaman mereka terhadap lingkungan dan penguasaan materi selama pembekalan serta pengalaman saat melihat kondisi sampah di Pekanbaru, kembali diuji.

Akhirnya, Michiko berhak menyandang status sebagai Duta Lingkungan Hidup pertama dari kalangan mahasiswa di Pekanbaru. Ia pun diajak berkunjung ke Surabaya melihat penataan kota dan kondisi lingkungan di Ibu Kota Provinsi Jawa Timur.

“Ke sana itu sebagai referensi untuk buat ide kreatif di Pekanbaru,” jelas perempuan dengan nama lengkap Michiko Jamilah Frizdew.

Kata Elmawati, duta terpilih wajib buat program sendiri dan tidak mesti menunggu instruksi dari BLH.

Status yang disandang oleh Michiko tak lepas dari kepekaannya terhadap lingkungan sekitar. Ketika masih jadi penulis disalah satu media cetak di Pekanbaru, Michiko kerap menulis tentang isu lingkungan. Melihat kepeduliannya ini, rekan kerja Michiko sarankan untuk ikut ajang pemilihan duta lingkungan tersebut.

“Saat masih duduk di bangku SMA, sebenarnya saya sudah dibiasakan mencintai lingkungan,” jelas mahasiswa Jurusan Komunikasi Universitas Riau ini.

Setelah menyandang status duta lingkungan hidup pun, Michiko kini menjalani program duta lingkungan go to school. Ia mensosialisasikan dampak penggunaan kantong plastik dan ide mendaur ulangnya. BLH turut memfasilitasi program ini dengan menyurati sekolah yang akan dikunjungi Michiko.

Dikampus, bersama teman-temannya, Michiko kerap buat diskusi mengenai isu lingkungan. Michiko juga mengkampanyekan bank sampah dan membagi brosur ke mahasiswa. Pada teman-temannya yang aktif dikelembagaan mahasiswa, Michiko menyarankan supaya tak menggunakan kotak kue dan minuman mineral dari kemasan saat mengadakan kegiatan. Karena kemasan ini ujung-ujungnya juga akan menjadi sampah. “Kita bisa lakukan cara lain, seperti menggunakan gelas dan piring.”

Dea Rezki Gerastri temannya satu jurusan, menyebut Michiko mahasiswa yang kritis dan sensitif dalam isu lingkungan.

NOVEMBER 2016, Michiko berangkat ke Selandia Baru. Ia memenangkan kompetisi yang diadakan Jawa Pos Group, melalui Zetizen Riau Pos—rubrik remaja di koran harian Riau Pos. Nama programnya, Zetizen National Challenge Go to New Zealand, memilih remaja yang memberikan aksi perubahan bagi daerah masing-masing. Temanya beragam. Mulai lingkungan, pendidikan, kemanusiaan dan lain-lain.

Prosesnya, peserta diseleksi di provinsi masing-masing. Lima pemenang dari masing-masing provinsi di Indonesia diberangkatkan ke Surabaya—Kantor Pusat Jawa Pos Group. Di sini, peserta akan menjalani seleksi tahap akhir dan selanjutnya dipilih satu orang mewakili provinsi nya masing-masing untuk diberangkatkan ke Selandia baru.

Di Selandia Baru, Michiko merasa banyak dapat pengalaman positif. Terutama saat diskusi di salah satu universitas di negara berjuluk Kiwi tersebut. Kiwi burung yang tak bisa terbang. Sebarannya terbatas di Selandia Baru saja.

Michiko juga tinggal beberapa hari di rumah adat suku Maori, penduduk asli Selandia Baru. Ia menimba pengalaman hidup orang-orang suku Maori. Penduduk negara ini lebih senang menggunakan kendaraan umum dibandingkan kendaraan pribadi. “Bahkan perjalanan jarak 3 kilometer saja mereka lebih memilih jalan kaki.”

Terhadap pengelolaan sampah, penduduk Selandia Baru terbiasa memilah sampah sebelum membuangnya ke tempat penampungan. Tempat sampah dibuat sesuai dengan jenisnya. Untuk botol bekas, tempat sampahnya dibuat menyerupai botol. Begitu juga untuk jenis sampah lainnya.

“Ide-ide yang aku temukan disana, aku sampaikan ke Badan Lingkungan Hidup, sekolah-sekolah dan masyarakat,” tutur perempuan berdarah Minang ini.

Kini, disela jadwal kuliah dan sosialisasi peduli lingkungan di sekolah-sekolah, Michiko jadi penyiar di Green Radio. Ia mengampu program Eco Life Style yang membahas gaya hidup ramah lingkungan. Tayang dari Senin sampai Jumat pukul lima sore hingga pukul tujuh malam.

Sebagai pengampu program ini, Michiko juga dituntut jadi produser sebuah acara. Buat tema harian dan mengundang bintang tamu. Saat off air, ia kadang turun ke lapangan ikut terlibat dalam program penanaman pohon. Bersama Green Radio, Michiko juga berpartisipasi dalam persoalan kebakaran hutan dan lahan di Riau. Ia didapuk sebagai juru kampanye.

Budi Iswanto rekan kerja Michiko di Green Radio mengaku, sering diskusi mengenai lingkungan disela-sela jeda iklan.

Dari sekian banyak aktifitas, yang paling sering jadi bahan sosialisasi Michiko adalah persoalan sampah. Menurutnya, sebagian warga Pekanbaru kurang ramah terhadap lingkungan terutama dalam menangani sampah. Seperti tak memilah sampah, mendaur ulang sampah, kurang keinginan menabung di bank sampah dan boros penggunaan kantong plastik.

“Bahkan suka membakar sampah,” keluh perempuan kelahiran Ujung Batu Kabupaten Rokan Hulu 10 desember 1996.*

Views – 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *