Ikuti Program Hibah Bina Desa Bentuk Nyata Pengabdian Mahasiswa

Foto bersama

“MELALUI PHBD ini mahasiswa harus membuktikan pengabdian kepada masyarakat desa secara nyata.”

Hal itu disampaikan Syapsan, Wakil Rektor bidang Kemahasiwaan dan Alumni saat membuka acara sosialisasi Program Hibah Bina Desa (PHBD) Direktorat Kemahasiswaan Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Berlangsung di Aula Rektorat Lantai Empat, Kamis (1/3).

Lazuardi Umar  dan Roza Elvyra keduanya berasal dari dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau menjadi narasumber dalam sosialisasi ini.

PHBD merupakan program Kemenristekdikti. Bertujuan agar mahasiwa membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat desa. Permasalahan tersebut meliputi Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi dan Lingkungan.

Tema yang ditawarkan yaitu pengentasan Kemiskinan, Kesehatan, Pendidikan, Ketahanan dan keamanan pangan, Energi baru dan terbarukan, Lingkungan dan keanekaragaman hayati, Mitigasi bencana, Budaya dan Seni/industri kreatif/pariwisata. Sesuai dengan kebutuhan desa.

“Lokasi PHBD sebagai desa binaan kampus,” kata Lazuardi.

Lokasi desa binaan mudah diakses oleh perguruan tinggi pelaksana. Sebab, untuk mengurangi biaya transportasi menuju desa.

Program PHBD dilaksanakan dalam jangka waktu enam bulan. Dengan biaya maksimum yang didapat sebesar 45 juta rupiah. Hanya dapat diusulkan setiap kelompok mahasiswa tetap yang memiliki Surat Keputusan pemimpin perguruan tinggi. Seperti Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis (IOMS), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan atau Lembaga Eksekutif Mahasiswa.

“Kalian beruntung menjadi anggota suatu kelembagaan mahasiwa,” lanjutnya.

Pengabdian seperti ini bukan hal baru. Ia contohkan kesuksesan di Kampung Patin yang terletak di Kecamatan XIII Koto Kampar. Desa yang menjadi tempat pengabdian beberapa dosen perikanan UNRI. Program budidaya dan pembenihan ikan patin yang cukup maju. Produksi ikan patin mencapai 9 ton per Minggu. Desa ini juga menjadi binaan salah satu penyedia jasa telekomunikasi milik pemerintah.

Untuk pengusulan program ini ada dua tahap yaitu pra-proposal dan proposal. Tahap pra-proposal wajib memenuhi persyaratan administrasi. Seperti jumlah mahasiswa pelaksana minimal 10 orang dari dua angkatan berbeda, menyertakan surat pernyataan kesediaan kerja sama dari masyarakat desa sasaran.

“Itu yang harus dikejar terlebih dahulu,” tegas Lazuardi. Lantaran ada desa yang menolak program seperti ini. “Perlu komunikasi yang baik.”

Pengajuan pra proposal didaftarkan secara daring melalui laman http://phbd.ristekdikti.go.id. Setelah melewati tahap pra proposal, akan dibimbing oleh bagian Kemahasiswaan untuk tahap berikutnya.

Narasumber kedua Roza Elvyra. Lebih banyak sampaikan pengalamannya terjun langsung ke masyarakat. Hal terpenting soal pengabdian adalah memunculkan saling percaya kepada masyarakat. Dengan memilih satu fokus yang benar-benar akan membantu permasalahan mereka. “Diniatkan dari hati untuk menolong masyarakat desa,” tuturnya.

Menurutnya hal utama sebelum memulai program perlu membuat profil desa. Sehingga segala potensi dan permasalahan desa dapat terpetakan.

SESUAI agenda, acara dimulai pukul 9 pagi. Namun, molor hingga 50 menit. Peserta belum memenuhi ruangan. Menurut bagian Kemahasiswaan ada sekitar 100 kelembagaan yang diundang. Mulai tingkat jurusan sampai universitas. Masing-masing kelembagaan diwakili dua orang.

“Yang datang hanya dari 16 perwakilan kelembagaan,” kata Zuchra Helwani, moderator acara—juga staff ahli WR III. Ia berharap pertemuan berikutnya lebih ramai.*Dicky Pangindra

Leave a Reply