Persiapan Akhir Jelang Robot Beraksi

KRI Persiapan

Jelang Kontes Robot Indonesia (KRI)  Regional I Sumatera 2018 di Gelanggang Olahraga (GOR) Tribuana, panitia mempersiapkan segala kebutuhan pertandingan.

Beberapa pengerjaan fisik masih dilakukan pada Kamis (26/4). Seperti  pemasangan pendingin ruangan tambahan di setiap sudut gedung. Teknisi berbaju biru mengupas kabel dan memasang instalasi listrik. Teknisi lain bongkar kap pendingin untuk diperbaiki.

Di arena lomba, pekerja masih mengecat lantai kayu untuk Kontes Robot Abu Indonesia (KRAI). Warna berbeda-beda sesuai dengan pola. Di setiap sisi arena KRAI dicat  hijau tua dan muda, di tengah biru dan sisi lainnya ada dua pola kotak merah dan satu kotak kuning tepat disudut arena.

Sisi yang berhadapan dengan area VIP masih belum dicat sepenuhnya. Seorang pekerja sedang menyelesaikan dengan cat biru.

Panitia lainnya persiapkan alat pengeras suara di pintu tengah bagian kanan gedung. Sesekali mencoba suara dan memutar musik.

Menurut Dahliyusmanto selaku ketua seksi acara pertandingan, persiapan masih 95 persen selesai. “Selebihnya tinggal pengecatan lapangan KRAI dan pendingin ruangan.”

Dari pintu masuk  bagian depan GOR telihat empat lapangan yang disiapkan sebagai arena kontes.

Arena pertama  untuk Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI). Terdapat dua arena perlombaan KRPAI. Satu arena dengan papan lebar saja. Satu lagi berbentuk persegi dengan ukuran masing-masing  2,48 m x 2,48 m.

Di dalam setiap kotak arena dibagi empat kotak kecil mirip labirin yang diumpamakan sebagai rumah. Di salah satu kotak itu  ada lilin sebagai titik api. Robot-robot akan berlomba untuk menemukan dan memadamkan titik api. Robot tercepat memadamkan api akan menjadi pemenang.

Di samping arena kontes robot pemadam api itu, ada lapangan persegi panjang dengan ukuran 12 m x 6 m. Lapangan hijau ini digunakan sebagai tempat Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI). Ada dua gawang di dua sisi lapangan. Gawang tersebut akan dijaga oleh satu robot beroda dari masing-masing tim.  Tiap tim terdiri dari tiga robot.

Waktu pertandingan selama 2×15 menit dengan istirahat selama 10 menit. Tim yang memasukkan bola lebih banyak ialah tim pemenang.

Beranjak ke lapangan paling luas dibanding dua arena sebelumnya dengan ukuran 14mx14m. Arena berwarna hijau, biru dan merah disisinya itu digunakan untuk Kontes Robot Abu Indonesia (KRAI).

Saat pertadingan nanti, akan diletakkan tiga tiang yang disebut dengan Ring Tree.  Ada lingkaran besar di atas tiang. Mirip arena loncat harimau dengan api di pertunjukan sirkus. Lingkaran tersebut untuk robot melemparkan bola. Setiap tiang memiliki tinggi yang berbeda. Robot yang tercepat melemparkan bola ke tiang tertinggi akan menjadi pemenangnya. Lempar Bola Berkah menjadi tema KRAI ini.

Arena terakhir, digunakan untuk Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI). Lapangan berukuran 3mx2m ini terletak sedikit menjorok kedalam gedung. Bidang ini pun ditinggikan sehingga mirip panggung pertunjukan tari.

Arena tari dibagi menjadi lima zona yaitu, Zona Mulai, Zona A, Zona B, Zona C dan Zona tutup.  Tahun ini, Robot Tari Remo dipilih menjadi tema KRSTI ini.

Persiapan lainnya adalah memberikan arahan kepada wasit dan Liason Officer atau pemandu peserta mengenai teknis di lapangan. Dewan juri setiap divisi perlombaan bergantian berikan arahan.

Tiap kontes akan dinilai oleh juri. Ada 10 juri penilai yang disiapkan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Diantaranya Wahidin Wahab dari Universitas Indonesia, Endra Pitowarno dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Mauridhi Hery Purnomo dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember,  Benyamin Kusumoputro dari Universitas Indonesia, Kusprasapta Mutijarsa dari Institut Teknologi Bandung, Eril Mozef dari Politeknik Negeri Bandung, Gigih Prabowo dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Heru Santoso dari Universitas Gajah Mada, Indrawanto dari Institut Teknologi Bandung dan Djoko Purwanto Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Tidak hanya dewan juri, wasit dan LO pertandingan juga turut membantu.  Wasit merupakan dosen-dosen Universitas Riau, sedangkan LO merupakan mahasiswa dari berbagai fakultas di UNRI.

Setia arena memiliki jumlah wasit dan LO yang berbeda. Di lapangan robot pemadam api ada 31 LO dan tiga wasit di masing-masing kotak arena.  Kemudian, di arena robot sepak bola ada empat wasit dan 10 LO. Begitu pula di arena robot ABU dengan empat wasit dan 10 LO. Lain halnya dengan KRSTI hanya dinilai oleh juri, tanpa bantuan wasit dan LO.

Sampai jelang magrib, Eril Mozef koordinator simulasi pada Kontes Robot bidang Pemadam Api masih memberi penjelasan kepada wasit dan LO.

Ia mengatakan khusus untuk KRPAI teknis perlombaan rumit dan aksesoris yang cukup banyak membutuhkan waktu penjelasan simulasi yang cukup lama. Masih belum terlalu mengerti teknis acara dan beberapa masih bingung.

“Namun hal seperti ini sudah wajar terjadi. Peserta, LO dan wasit  harus memahami saat simulasi kedua dan ketiga dilakukan,” ujar Eril Mozef.

Eril Mozef juga menjelaskan harapannya untuk KRPAI, jika robot bisa memadamkan api satu kali maka kemungkinan masuk ke perlombaan tingkat nasional sudah ada. “Masalahnya tidak banyak robot tim yang dapat memadamkan api karena kesulitan yang cukup tinggi.” *Ambar Alyanada,  Meila Dita Sukmana

Leave a Reply