Deni Efizon Peneliti Ikan Terubuk Menantang Petahana

Deni Efizon

DENI EFIZON, memutuskan maju calon rektor Universitas Riau periode 2018-2022. Ia menilai sebagai bentuk kepedulian terhadap kampus biru langit. Disaat banyak guru besar yang dimiliki UNRI tidak ada yang maju menantang sang petahana—Aras Mulyadi. Katanya persoalan kalah menang hanya sebuah proses, terpenting keberanian memberikan sesuatu yang terbaik untuk UNRI.  Dukungan penuh dari keluarga menjadi modal awal. Deni klaim dukungan para tokoh UNRI yang sudah purna tugas datang kepadanya.

Mengusung Visi Membangun Universitas Riau yang Bermartabat, Berakhlak, Berbudaya, Berdaya Saing Unggul Melalui Sinergi Seluruh Potensi. Visi tersebut dituangkan dalam empat program startegis meliputi bidang akademik, kerjasama dan perencanaan, administrasi dan kemahasiswaan.

Di bidang akademik, percepatan doktor dan profesor bagi dosen untuk peningkatan sumber daya manusia. Memperbanyak pembukaan program studi S2 dan S3. “Kampus-kampus yang maju mengarah kesana semua, memperkecil program S1,” jelasnya.

Pembukaan kelas internasional ia tawarkan dalam program kerja. Dengan menargetkan jika terpilih, minimal di tahun 2020 sudah berjalan.

Untuk bidang kerjasama, pendekatan dengan pihak pemerintah ataupun swasta untuk membantu pembangunan akan dilakukan secara intens. Istilahnya langsung jemput bola ke lapangan.

Sementara bidang administrasi, yang saat ini ia nilai sulit mencari data mahasiswa maupun dosen aktif akan dibenahi. Peningkatan pelayanan administrasi serta menjalankan transparansi anggaran dipemerintahannya termasuk  Uang Kuliah Tunggal. “Yang semestinya boleh dibuka, akan kita buka,” kata Deni.

Bidang kemahasiswaan, meningkatkan program kreativitas mahasiswa, sarana dan prasarana olahraga maupun kesenian. Memberi pembekalan soft skill, pendampingan, pembinaan serta mendukung berbagai kegiatan mahasiswa keluar.

Juga memberikan apresiasi kepada  mahasiswa berprestasi berupa penghargaan, beasiswa ataupun uang pembinaan. Menurutnya saat ini kampus hanya menuntut mahasiswanya memberikan prestasi untuk kampus. Sebaliknya justru perhatian yang diberikan tidak sesuai. “Akan kita anggarkan kesitu,” janji Deni.

Deni menyatakan jika dirinya terpilih sebagai Rektor UNRI, didalam jajarannya akan mempresentasikan keterwakilan setiap fakultas. Serta memilih orang yang berkompeten sesuai bidangnya, baik diluar anggota senat maupun di dalam senat.

DENI EFIZON lahir di Sei Salak, Indragiri Hilir, 20 Oktober 1966. Ia anak ketiga dari sepuluh bersaudara pasangan Mustafa Jalal dan Syamsidar. Kedua orangtuanya berasal dari Kuantan Singingi. Kala itu Mustafafa Jalal ditugaskan sebagai guru di Tembilahan dan disanalah kesepuluh anaknya lahir.

Di tanah kelahiran itulah Deni  banyak menghabiskan  masa kecilnya.  Mengenyam Sekolah Dasar di Teluk Pinang. Setiap hari Minggu bersama saudaranya ikut orang tua berladang.

“Itu berjalan kaki. Pulangnya sambil memikul kelapa,” kenangnya.

Selain bekerja sebagai pegawai, untuk mencukupi kebutuhan, sang ayah juga bertani. Menanam padi, mencangkul, membuka lahan kosong untuk berladang.

Tahun 1978 pindah ke Pekanbaru. Keputusan itu diambil ayahnya agar kelak  anak-anaknya bisa bersekolah sampai  kejenjang  yang tinggi. Saat itu Deni masih duduk di kelas satu SMP. Pertama tiba di Pekanbaru, keluarga ini menumpang di rumah saudaranya di Gobah. Disitulah kehidupan baru keluarga mereka dimulai. Ayahnya bekerja di UPT Pendidikan Provinsi Riau sementara ibunya mengurus rumah tangga.

Di Pekanbaru Deni melanjutkan sekolah di SMP 5. Kemudian, Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan atau  SMPP (saat ini SMA 8 Pekanbaru).

Deni banyak belajar dari sosok ayahnya. Rasa tanggung jawab, kesederhanaan, kerja keras. “Visi hidupnya  jauh kedepan,” ucapnya sambil menyeka air mata. Cita-cita ayahnya tercapai menjadikan semua anak sarjana.

PADA awalnya, Deni punya keinginan menjadi dokter. Pada Seleksi Penerimaan Mahasiswa Bara (Sipenmaru) di UNRI pada 1985, ia pilih jurusan Dokter dan Manajemen Sumberdaya Perairan. Namun, justru pilihan kedua  yang lolos. “Tetap jadi Dokter.  Tapi Dokter ikan,” kata ayah seorang anak ini.

Semasa kuliah Deni aktif berorganisasi. Pernah menjadi Sekretaris Senat Mahasiswa Fakultas, juga aktif sebagai pengurus Estuaria, buletin FPK. Bahkan menjadi mahasiswa teladan kala itu.

Gelar sarjana sudah ditangan, Deni memutuskan untuk bekerja di PT. Chaorean Pokphand Indonesia. Perusahaan ini bergerak dibidang pakan , pembibitan dan budidaya ternak. Pekerjaan ini hanya dijalani sampai tiga tahun. Kemudian ditahun 1994 Deni mendaftar  tes Dosen FPK UNRI dan lulus.

Perjalanan pendidikan Deni bisa dibilang mulus. Gelar sarjana saja tidak cukup, ditahun 2000 ia melanjutkan kuliah S2 program Environmental Management di Universitas Kebangsaan Malaysia. Kemudian di tahun 2012, ia menyelesaikan program Doktor kurang dari 3 tahun di Universitas Padjajaran  dan mendapat predikat lulusan terbaik pertama.

Di bidang keagamaan, Deni aktif sebagai pengurus masjid dan menjabat Wakil Ketua PB Nahdlatul Ulama Provinsi Riau. Jabatan saat ini Koordinator Prodi Magister Ilmu Kelautan  Pascasarjana UNRI.

Fokusnya pada penelitian Ikan Terubuk sejak 1993 menjadikan ia sebagai pemegang paten ikan endemik Riau ini. Tak hanya itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan kerap mengikutkannya dalam penyusunan kebijakan perikanan di Indonesia. Tak jarang pula undangan sebagai narasumber seminar nasional kelautan dan perikanan.

Salah satu kepedulian terhadap terubuk diwujudkan dalam pembuatan stasiun terubuk ditengah laut di Bengkalis. Stasiun itu juga dilengkapi dengan laboratorium mini. Ini merupakan hasil kerjasama dengan pemerintah setempat. Serta membuat regulasi penangkapan ikan terubuk bagi nelayan disana. Nelayan tidak boleh menangkap pada empat bulan masa penteluran, yaitu periode Agustus sampai November. Sebab itu merupakan ancaman bagi populasi terubuk yang semakin langka disamping pencemaran sungai yang terjadi.

Deni juga pernah melakukan penelitian untuk memijahkan terubuk di tengah laut. Prosesnya begitu rumit ketika harus cepat memilih ikan yang bertelur. Harus cepat, sebab masa telur ikan terubuk hanya bertahan satu jam saja. Jika terlewat telur akan mati. Begitu juga ketika ada sisiknya yang satu saja terlepas ikan mati. Tetapi dengan penelitiannya itu sudah menghapuskan mitos bahwa ikan terubuk tidak bisa dianakkan.

Penulis : Dicky Pangindra

Editor  : Eko Pemadi

 

Leave a Reply