Wartawan Tua Bercerita

IMG_7861
(Foto: Rizky BM)

Bre Redana meluncurkan buku baru, judulnya Koran Kami with Lucy in the Sky. Cerita tentang wartawan tua menghadapi tsunami informasi dengan mempertahankan media cetak.

“KAU TAHU BRE REDANA?”

“Tau bang, yang pernah nulis Inikah Senjakala Kami. Kenapa?”

“Dia baru nerbitkan buku. Koran kami with apa gitu judulnya, coba kau cari.”

“Ya.”

Buku yang diluncurkan pada 29 November 2017 silam bercerita tentang seorang wartawan senior di ujung masa baktinya pada perusahaan pers. Alih – alih menikmati masa pensiun dengan tenang, ia malah terlibat untuk membuat media cetak yang sebenarnya sulit bersaing dengan media daring.

Santosa Santiana kerap disapa SS telah mengabdi sebagai wartawan selama 35 tahun. Ia kemudian diajak Nindityo, salah seorang sahabatnya yang juga anak dari pemilik media tempat ia bekerja membuat koran. Cukup aneh, fikir SS mengingat industri koran sudah terdesak dengan kemajuan zaman.

Namun ia menerima tawaran. Beberapa teman sejawatnya yang uzur dimakan zaman ikut masuk. Sebagian besar mereka pernah menjadi wartawan seangkatan SS, sebagian lain adalah pemuda masa kini yang ikut membantu .

Salah seorang yang menjadi sorotan di buku ini ialah Lucy, Lucy in The Sky sebutan SS kepadanya. Perempuan pintar nan cantik, hasil produk masa kini. Lucy gemar membaca dan berdiskusi, ia juga mengagumi tulilsan SS. Lucy kemudian diajak Nindityo bergabung.

Setelah melalui perjalanan cukup alot, akhirnya Nindityo berhasil mewujudkan idenya. Wartawan senior berkumpul, penulis muda bergabung, lantai dua kantor Nindityo jadi tempat media.

Nama media disepakati, Koran Kami. Wajah koran juga telah ditentukan. Mereka kemudian berbincang  mengenai tujuan dan dasar dari Koran Kami. Mirip penentuan visi misi—Diksi yang tak terlalu disukai SS.

Beberapa kali diskusi, akhirnya mereka sepakat langsung cetak koran. Rapat proyeksi dilakukan, mereka tentukan tema dari koran terbitan awal. SS beri saran agar cetakan koran pertama berbentuk dummy—contoh awal— namun tetap dikerjakan dengan serius. Tema dari edisi awal tersebut tentang memori. SS yang mengusulkan, menurutnya memori merupakan hal yang perlu dirawat. Masa kini, intelektualitas telah ditumpas dengan distruksi memori.

“Kita masuk pada era pasca kebenaran, dimana tradisi disinformasi yang memercayai apa saja kecuali kebenaran semakin marak,” jelas SS.

Lanjut SS cerita bahwa koran ini menulis tentang apa saja, topiknya bebas, namun bentuknya tetaplah memori.

SS beri usul menulis tentang sinema, Hardoyo rekannya setuju dan beri usul menulis 100 film terbaik dalam sejarah Indonesia. Mereka sepakat, film yang diputar akan dipilih dan sepakati tim Koran Kami secara bersama.  Ada dua sesi dalam edisi perdana ini. Sesi pertama bercerita tentang 100 film, sesi kedua berisi profil tokoh, artikel, diskusi dan sebagainya.

Perbincangan kemudian berlanjut ke bagian yang lebih rinci.Tiap orang mendapat tugas masing-masing.

Usai wawancara sana-sini, riset, memutar film dan segala macam kegiatan jurnalistik dilaksanakan. Dummy Koran Kami pun terbit. Mereka memastikan ukurannya pas dibaca.

Terbitan awal Koran Kami kemudian dibagi ke berbagai kalangan untuk meminta masukan. Pengusaha, dosen, mahasiswa, seniman, pemerintah, penggiat film dan sebagainya. Dummy ini bahkan hendak dicetak ulang karena adanya permintaan khusus dari penyelenggara festival film.

Mereka puas.

Rapat evaluasi koran kemudian dilakukan. Mereka kemudian persiapkan edisi kedua. Usai bahas film, edisi selanjutnya hendak bahas tentang buku yang dibalut dalam nasionalisme. Seluruh anggota sepakat.

Hanya sampai sini pergumulan mereka membahas koran, selebihnya hanyalah mengenang masa lalu SS. Entah berapa kali SS mengenang dan mengenang dalam buku ini.

Alur cerita dalam buku ini maju mundur. Dimulai dari SS yang hendak pensiun, Nindityo yang berusaha mengumpulkan wartawan tua, pergumulan mereka dalam membentuk wajah koran, idealisme mereka dan cerita masa lalu para wartawan. Namun yang paling banyak cerita tentang SS.

Ada banyak hal dikisahkan, tentang temannya yang meliput perang, suka duka mereka mencari berita, bagaimana suasana redaksi media zaman dulu dan perbandingannya dengan masa kini, tentang istrinya Vera atau disapa Ve.

Juga tentang sedikit bumbu romansa diantara SS dan Lucy. Oleh karenanya kita diajak mengikuti jalan pikiran SS dan ikut bernostalgi dalam proyek korannya.

Kenapa nostalgia?

Karena proyek membuat koran kami dalam buku ini adalah proyek mengingat masa lalu. Di dalamnya tergaung nilai nilai jurnalisme murni, idealisme wartawan dulu. Dunia jurnalisme yang tidak diberi embel embel perubahan digital. SS mengenang bagaimana kerja wartawan pada masanya.

Orang paling senang bicara masa lalu: dulu, naliko semono dan frasa sejenis. Masa lalu secara subjektif dikunyah-kunyah, manis, enak seperti permen karet. Sampai kekuasaan diktator pun ada yang mengenang: enak jamanku tho.

Begitu yang termaktub pada bagian awal buku ini. Mengingatkan untuk awas terhadap kenangan tempo dulu. Namun sebagian besar isi buku ini malah mengenang masa itu.

Saya kemudian teringat akan tulisan Bre Redana berjudul Inikah Senjakala Kami. Membaca buku ini seperti mengikuti jalan pikiran SS yang seakan tak rela dunia jurnalistik tergerus ombak digital. Dan kemungkinan SS di buku ini adalah Bre Redana sendiri.

Diluar dari itu, buku ini menarik untuk dibaca. Didalamnya tertuang geliat dan gairah wartawan dulu dalam menggaungkan idealisme mereka. Serta kecemasan mereka terhadap derasnya arus media baru ini. Proyek koran kami ini layaknya proyek yang ingin mengontrol modernisasi dan membahanakan gagasan jurnalisme murni.

Akhir kata, selamat menikmati buku ini. #Rizky Ramadhan

Judul buku : Koran Kami With Lucy In The Sky
Penulis: Bre Redana
Editor Candra Gautama
Tahun terbit : November 2017
Tebal halaman : 194 hlm; 13 cm x 21 cm

Leave a Reply