Mahasiswa Baru UNRI Ikut Deklarasi Tolak Radikalisme dan Terorisme, serta Kuliah Umum dari BNPT

Kuliah umum BNPT-min

Lapangan Faperta Universitas Riau (UNRI) tampak ramai oleh mahasiswa baru berseragam hitam dan putih Selasa pagi (28/8). Di bawah tenda yang disediakan kursi, mahasiswa duduk sesuai fakultasnya. Tenda yang disediakan membentuk huruf U menghadap panggung.

Ada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Fakultas Hukum dalam satu tenda sebelah kanan panggung. Di lanjutkan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Pertanian, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Fakultas Teknik dalam satu tenda di tengah, tepat mengahadap mimbar. Kemudian, Fakultas Kedokteran dan  Fakultas Keperawatan pada satu tenda yang sama di sisi sebelah kiri panggung.

Mahasiswa baru kali ini datang untuk mengikuti kuliah umum dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme disingkat BNPT. Di awali dengan kata sambutan oleh Presiden Mahasiswa, Dewan Perwakilan Mahasiswa. Kemudian sambutan  Aras Mulyadi, Rektor UNRI dan Syapsan selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni membuka acara.

Sebelum kuliah umum, Presiden Mahasiswa, DPM dan Resimen Mahasiswa bacakan deklarasi damai  Tolak Radikalisme dan Terorisme Civitas Akademika Universitas Riau. Diikuti oleh seluruh mahasiswa baru isinya  sebagai berikut:

  1. Kami Civitas Akademika Universitas Riau mengecam keras setiap aksi terorisme, tindakan intoleran dan penyebaran paham radikal yang dapat merusak martabat kemanusiaan, memicu keresahan dan kecurigaan di lingkungan kampus dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
  1. Kami Civitas Akademika Universitas Riau bersatu padu melawan tindakan terorisme, intoleransi serta paham radikalisme yang sedang menjangkiti dan merusak generasi muda.
  1. Kami Civitas Akademika Universitas Riau memastikan bahwa Universitas Riau tidak terlibat dalam tindakan terorisme, intoleransi ataupun penyebaran paham-paham radikal dan gerakan terorisme yang ingin mengubah NKRI dan ideologi Pancasila.
  1. Kami Civitas Akademika Universitas Riau meminta para pemimpin dan para tokoh publik di negeri ini agar senantiasa menjunjung tinggi Pancasila sebagai ideologi negara dan falsafah hidup berbangsa dan bermasyarakat, serta tidak mengeluarkan kebijakan ataupun pernyataan yang dapat memecah belah masyarakat yang dapat menyuburkan radikalisme.
  1. Kami Civitas Akademika Universitas Riau akan terlibat aktif dalam mewujudkan proses demokrasi Indonesia yang sesuai nilai-nilai Pancasila, serta akan bahu-membahu untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan terciptanya perdamaian NKRI.

Usai pembacaan deklarasi, dilanjutkan dengan kuliah umum bersama BNPT. Direktur BNPT, Brigjen Pol. Hamli menjadi pembicara.

Ia jelaskan tentang latar belakang BNPT yang didirikan pada tahun 2010 karena kasus bom yang terjadi di Indonesia pada tahun 2000. “Ketika itu pembuat bom berhasil ditangkap, tapi paham radikalnya tetap berkembang.”

Kemudian indeks terorisme seperti Irak, Afganistan, Suriah dan Pakistan mendapat ancaman terorisme yang tinggi.  Sementera indeks terorisme di Indonesia menurun karena penanggulangan dan pengelolaannya dianggap membaik. Meskipun kondisi terorisme ini belum berhenti.

“Oleh sebab itu,  kampus harus segera mengaktifkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dengan baik dan mendukung kegiatan positif setiap UKM agar tidak dijadikan tunggangan oleh terorisme,” sahut Hamli di atas mimbar.

Usai Hamli, kemudian Nuzul Fahri naik ke panggung. Nuzul merupakan seorang lulusan IPDN tahun 2006 yang pernah terpengaruh paham radikal.

“Paham radikal adalah suatu kesesatan yang nyata,” katanya.

Bagi  Nuzul, paham radikal dimulai dari sikap intoleran dengan tidak mengakui perbedaan. Ketika tidak menghargai perbedaan maka, muncul sikap egios bahwa yang sedang dipelajari itu benar dan yang lain itu salah. Ada tiga akibat yang dirasakan oleh Nuzul saat itu, yaitu tereliminasi dari kehidupan sosial, rusak hubungan dengan keluarga, dan bisa jadi manusia yang jahat.

Di atas panggung, Nuzul juga menjelaskan bagaimana ciri-ciri orang yang terpengaruh paham radikal. Seperti orang yang tidak meyakini perbedaan pendapat, merasa paling benar sendiri, intoleransi yang mengarah ke radikalisme.  “Dan bagi yg laki-laki tidak mau shalat ke mesjid karena menggangap bahwa mesjid itu tidak sesuai dengan paham yang dipelajarinya,” tutup Nuzul.

Kuliah umum bersama BNPT ini dilakukan bukan hanya pada kampus yang terindikasi terorisme. Namun, ini adalah bentuk kerjasama Kemenristekdikti dan pihak BNPT untuk melakukan pemahaman dan imunisasi kepada kampus yang ada di Indonesia. Seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Surabaya, Universitas Jember dan Universitas Brawijaya yang sudah memberikan pemahaman dan imunisasi tentang terorisme kepada mahasiswa baru.

“Tujuannya agar mahasiswa lebih memahami bagaimana menyikapi terorisme yang sedang gencar-gencarnya,” kata Hamli.

Terkait terorisme yang pernah terjadi di UNRI, Hamli jelaskan usai acara kepada  Bahana Mahasiswa bahwa kasusnya sudah di ranah hukum dan akan berujung kepada penegakan hukum. Sehingga, pihak BNPT hanya melakukan monitoring dengan pihak-pihak terkait.

Jika ada mahasiswa UNRI yang terpapar radikalisme dan terorisme, sepenuhnya tanggung jawab kampus. Namun tetap bekerja sama dengan BNPT.

Acara ini kemudian diambil alih oleh Badan Eksekutif Mahasiswa dan ditutup dengan bersama-sama menyanyikan lagu Mars Mahasiswa.#

Reporter : Mikhateresia Sidabalok, Olivia Tamando

Penulis  : Mikhateresia Sidabalok

Editor    : Ambar Alyanada Numashurrayyadewi

Leave a Reply