Respon Mahasiswa UNRI Terhadap Penolakan Neno Warisman

Aksi mahasiswa UNRI penolakan Neno Warisman-min

Penolakan kedatangan Neno Warisman di Bandara Sultan Syarif Qasim II pada 25 Agustus lalu, menuai respon dari mahasiswa Universitas Riau (UNRI). Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNRI merasa adanya pembungkaman demokrasi.

Baca juga : Paradoksnya Sikap BEM UNRI Soal Demokrasi

Niat Neno Warisman hadir atas undangan hadiri acara deklarasi #2019GantiPresiden. Namun, rencana tersebut batal sebab  ditahan oleh massa yang berkerumun di pintu keluar bandara. Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Riau dan aparat kepolisian dituding memaksa Neno kembali pulang ke Jakarta saat itu juga.

Atas insiden ini, Badan Eksekutif Mahasiswa UNRI meminta Rektor Aras Mulyadi membatalkan kuliah umum yang pengisinya adalah Kabinda Riau, Marsma TNI Rakhman Haryadi. Rencananya, Kabinda memberi kuliah umum kepada mahasiswa baru dengan tema mewujudkan kehidupan kampus yang damai dan nyaman dengan sikap anti tindak kekerasan, anti radikalisme dan anti terorisme pada 28 Agustus di lapangan terbuka UNRI.

Aspirasi ini dibawa oleh pengurus BEM  menemui Rektor usai kuliah umum dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Senin siang (27/08). Dalam ruang BPH, Gedung Rektorat, ada Rektor Aras Mulyadi, lengkap dengan wakilnya.

Thamrin Wakil Rektor Bidang Akademik, Sujianto Wakil Rektor Bidang Keuangan, Syapsan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni dan Mashadi Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama dan Sistem Informasi. Diikuti dengan Randi Andiyana selaku Presiden Mahasiswa, Dedy Prianto Wakil Presiden Mahasiswa, Menteri Sosial dan Politik serta Menteri Hukum dan Advokasi Kabinet Harmoni Perubahan.

Awal pertemuan, perwakilan BEM sampaikan “kami seluruh mahasiswa Universitas Riau menolak kedatangan Kabinda ke UNRI untuk mengisi kuliah umum.”

Rektor tidak langsung menyetujui permintaan tersebut.

“Jika Kabinda tetap datang dan kuliah umum tetap terlaksana maka kami akan mengakomodir mahasiswa baru untuk melakukan aksi,” kata Randi.

Perdebatan cukup panjang terjadi antara BEM dengan rektor. Rektor terus mempertanyakan tujuan dan maksud dari penolakan tersebut.

“Penolakan ini karena Kabinda terlibat dalam persekusi terhadap Bunda Neno,” kata Dedy, Wakil Presiden Mahasiswa.

Di akhir pertemuan, Rektor sampaikan bahwa permintaan ini akan dibahas selanjutnya dengan jajaran. Sebelum konsolidasi kelembagaan pada malam harinya, Rektor mengamini permintaan mahasiswa melalui Syapsan.

Syapsan menyampaikan kepada Randi melalui telepon bahwa kuliah umum dengan Kabinda dibatalkan. Penggantinya dengan panggung mahasiswa untuk mengisi kekosongan agenda yang ada.

Tak cukup pembatalan kuliah umum tersebut, BEM juga mengadakan aksi dengan membawa mahasiswa baru UNRI di Tugu Zapin Jalan depan Kantor Gubernur Riau dilanjutkan ke kantor Mapolda Riau. Kapolda Riau, Widodo yang baru menjabat dinilai berpotensi melakukan pembungkaman suara untuk ke depannya.

Dikutip dari Koran harian Tribun Pekanbaru, Kabinda menyatakan bahwa pemulangan Neno dilakukan untuk mencegah kekacauan di Riau. Disitu juga disebutkan pemulangan dengan mengehentikan penerbangan pesawat terakhir tersebut menurut Kabinda adalah strategi yang diambilnya untuk menghindari kekacauan di Riau.

Aksi digelar setelah diadakannya konsolidasi BEM bersama kelembagaan UNRI. Saat konsolidasi, aksi sepakat diadakan pada hari pertama perkuliahan (03/09).

Dalam orasinya, Randi mengatakan Kabinda adalah salah satu pelaku represifitas dan pembukaman demokrasi yang terjadi kepada Neno Warisman. “Apakah kita rela kampus kita diinjak tanahnya, dipijaki rumputnya dan dilalui jalannya oleh orang seperti beliau?”

“Bukan berarti kita membela gerakan ganti presiden atau dua periode. Kita sebagai mahasiswa harus berada di tengah-tengah dan tidak memihak,” lanjut Randi lagi.

Saat itu, pukul 14.15 massa bergerak dari Sekretariat BEM Kampus Bina Widya Panam,  untuk menjemput massa lain yang sudah berkumpul di tiap fakultas. M.Hafizh  beserta beberapa orang naik diatas mobil pick up yang sudah dilengkapi dengan alat pengeras suara. Mereka menggunakan pengikat kepala dari kain hitam lengkap dengan almamater biru langit.

Aksi dimulai pukul empat sore. Selama lima menit mahasiswa unjuk aksi teatrikal dan bakar ban. Dilanjutkan secara bergantian perwakilan mahasiswa orasi. Belasan polisi mengamankan jalanan dan sepanjang gerbang Mapolda Riau.

Pada pukul enam sore, Randi bacakan pernyataan sikap BEM UNRI :

  1. Mengecam keras segala tindakan represif, pembungkaman hak demokrasi dan menodai nilai-nilai budaya melayu
  2. Mendesak oknum yang melakukan tindakan represif, serta menodai nilai budaya melayu dan membungkam hak demokrasi untuk segera meminta maaf secara terbuka kepada seluruh elemen masyarakat Riau
  3. Menuntut BIN untuk menindak oknum BIN Daerah yang melakukan pelanggaran kode etik dan pembungkaman hak demokrasi.
  4. Menuntut Kapolda Riau mengusut tuntas oknum yang melakukan represifitas dan pembungkaman demokrasi pada 25 Agustus 2018 dengan waktu yang ditentukan lima hari kerja dari pernyataan sikap ini dibacakan.

Berikutnya, sambil mengumandangkan lagu darah juang, para mahasiswa berjalan menuju pintu gerbang Mapolda yang sudah dijaga ketat puluhan aparat kepolisian.

Kapolda diminta keluar menemui massa, namun setelah 30 menit menunggu. Kapolda Riau tidak kunjung keluar. Akhirnya presiden mahasiswa dan wakilnya berinisiatif untuk menemui  dalam lingkungan Mapolda. Disepakati 1×5 menit Presma dan Wakil presma diizinkan masuk. Keduanya tak berhasil menemui Kapolda, melainkan hanya bisa memberikan berkas tuntutan kepada perwakilan petugas Kapolda. Aksi pun selesai jelang magrib.#

Reporter : Reva Dina Asri, Olivia Tamando, Humaira Salsabila Nalurita

Penulis : Humaira Salsabila Nalurita

Editor : Ambar Alyanada Numashurayyadewi

Leave a Reply