Manajemen Berbatik Bertujuan Menanamkan Budaya Ramah Tamah

rsz_manajemen_berbatik

Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia. Seperti dilansir kompas.com dalam tulisan 2 Oktober 2009, UNESCO Akui Batik sebagai Warisan Dunia dari Indonesia, Batik termasuk dalam Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi.

Batik diakui UNESCO, sebuah organisasi PBB yang berfokus pada Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan pada 2 Oktober 2009. Sehingga 2 Oktober menjadi Hari Batik Nasional.

Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Riau punya aturan baru tentang pemakaian batik. Jurusan ini mewajibkan seluruh mahasiswa angkatan 2017 dan 2018 serta civitas akademika lainnya untuk mengenakan batik setiap Rabu. Rabu menjadi hari yang ditentukan karena pada hari tersebut hampir seluruh dosen Managemen masuk kelas untuk mengajar.

Aturan yang dikenal dengan sebutan Manajemen Berbatik ini sudah dilaksanakan sejak awal masuk perkuliahan 2018.

“Tujuannya untuk menanamkan sebuah budaya yang ramah serta santun di kalangan mahasiswa,” ujar Machasin, Ketua Jurusan Manajemen. Ia juga katakan Mahasiswa terlihat lebih rapi saat menggunakan batik. “Setelah dikenakan, ternyata telihat keren dan intelektual.”

Sedangkan dari segi ekonomi, Machasin akui salah satu tujuan aturan ini untuk meningkatkan industri kreatif yang ada di Bumi Melayu. “Sehingga produksi lokal akan meningkat dan menghidupkan kembali pengusaha-pengusaha batik di Riau,” lanjutnya.

Sama halnya Machasin, Marhadi selaku Ketua Prodi Manajemen juga mengharapkan dengan adanya aturan ini akan meningkatkan industri lokal Riau serta meningkatkan budaya cinta batik.

Dalam aturan juga, mahasiswa baru diminta menggunakan Tanjak, penutup kepala dari Melayu. Sedangkan mahasiswi hanya menggunakan batik biasa. Batik yang  digunakan tidak ditentukan. “Dikarenakan harga Batik Riau yang masih tergolong mahal, berkisar tiga ratus sampai lima ratus ribu rupiah per meter,” ujar Machasin.

Justru dengan adanya peraturan ini Machasin berharap nantinya harga batik Riau bisa dijangkau oleh banyak orang seperti hal nya Batik-Batik Jawa.

Manajemen Berbatik  ini masih dalam tahap uji coba dan sudah berjalan selama empat minggu.

Marhadi berharap aturan ini akan terus berjalan kedepannya, dan tidak ada salahnya hal seperti ini ditiru oleh fakultas lainnya, sehingga membantu perekonomian di Riau dan menaikkan kembali omset Batik Riau. “Mahasiswa antusias mengikuti aturan. Ada sanksi dikeluarkan dari kelas jika mahasiswa tidak melaksanakan kewajiban,” tutupnya.

Ria Harnita, mahasiswa jurusan Manajemen angkatan 2017 merasa senang dan tidak keberatan untuk menggunakan batik di hari Rabu. “Menggunakan batik merupakan salah satu cara untuk mencintai produk Indonesia dan bangga dengan budaya Indonesia,” tutup Ria.

 

Reporter : Sukma Urwafull

Penulis    : Sukma Urwafull

Editor      : Ambar Alyanada

Leave a Reply