Aksi Belasungkawa Meranti Ditutup dengan Peringatan 19 Tahun Asap di Riau

Foto: Martha BM

SEORANG perempuan berpakaian hitam sedang menonton tv, di sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Riau. “Yang lain sedang shalat,” kata perempuan tersebut, sembari mempersilakan kru Bahana masuk. Senin 29 Agustus, BEM Universitas Riau akan melakukan aksi damai.

Satu jam kemudian, mahasiswa mulai berdatangan. Mereka kemudian bergerak mengendarai sepeda motor, membawa bendera, mengelilingi kampus dan singgah ditiap fakultas. Mereka mengajak tiap mahasiswa yang ada. Dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan berakhir di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan lalu kembali ke sekretariat BEM.

“Tiap Gubernur Fakultas diharapkan mengikuti rapat di ruang Dewan Perwakilan Mahasiswa,” perintah Adytia Putra G, Menteri Sosial Politik BEM Universitas Riau, dengan pengeras suara.

Rapat tak berlangsung lama. Seorang diantara massa aksi memberi peringatan, agar aksi berjalan dengan baik tanpa adanya kekerasan atau anarkis.

Setelah peringatan tadi, mahasiswa bergerak menuju lokasi aksi melewati gerbang utama kampus atau jalan Muchtar Lutfi—Rektor Universitas Riau pertama—menuju jalan SM Amin. Massa aksi mendatangi kantor Gubernur Riau. Dua orang security kampus, berseragam, ikut mengawasi perjalanan massa aksi.

Massa aksi menyampaikan belasungkawa terkait peristiwa di Selat Panjang ibu kota Kabupaten Kepulauan Meranti. Fauzi, Koordinator Lapangan  mengawali orasinya. Satu persatu Gurbenur Mahasiswa juga berorasi. Lagu Mars Mahasiswa  dan Indonesia Pusaka menyelingi tiap orasi.

Tak ketinggalan, mahasiswa Meranti juga berorasi. “Tragedi Meranti berdarah merupakan pemasalahan nasional yang banyak memakan korban. Dampak yang ditimbulkan merupakan trauma masyarakat Meranti,” ujar salah seorang diantara mereka.

Beberapa minggu yang lalu, Apriyadi Pratama seorang pemuda meninggal dunia setelah ditangkap oleh Polisi dari Polres Kepulauan Meranti.

Sebelumnya, Apriyadi Pratama terlibat perkelahian dengan seorang Brigadir Adil S Tambunan hingga menewaskan seorang polisi tersebut. Dari sini bermula penangkapan terhadap Adi yang akhirnya meninggal dunia setelah mendapat tembakan di mata kaki dan paha. Adi sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong.

Masyarakat Kepulauan Meranti marah atas perlakuan polisi tersebut. Hal ini menimbulkan kericuhan antara masyarakat dengan polisi. Masyarakat mendatangi Mapolres Kepulauan Meranti dan melempar batu. Begitu juga dengan polisi yang membalas lemparan. Seorang meninggal dunia dalam kericuhan ini.

Masyarakat di luar Kepulauan Meranti ikut bereaksi atas peristiwa tersebut. Termasuk BEM Universitas Riau. Satu hari sebelum aksi belasungkawa berlangsung, 15 perwakilan BEM Universitas Riau dan 3 orang mahasiswa Meranti mendatangi Polda Riau. Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan dengan Polda Riau.

  1. Akan memberikan sanksi dan memproses secara hukum oknum polisi yang melakukan pengeroyokan tersangka Apriyadi.
  2. Akan memberikan sanksi dan memproses secara hukum oknum polisi yang melakukan kekerasan pada demonstrasi warga meranti, sehingga berakibat meninggalnya seorang bernama Isrusli.
  3. Kapolda Riau dan Kapolres Meranti harus bertanggungjawab untuk melakukan penyelesaian lanjutan pasca insiden yang terjadi di wilayah Meranti. Serta meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Riau terkhusus masyarakat Meranti dan keluarga Korban.
  4. Kapolda Riau secara berkelanjutan akan melakukan reformasi Polri dalam penegakan hukum.
  5. Membentuk tim khsusus dari kalangan mahasiswa untuk mengawal proses tindak lanjut pasca persitiwa kasus Meranti berdarah.
  6. Kapolda Riau, BEM Universitas Riau dan mahasiswa Meranti sepakat untuk mewujudkan situasi kemananan yang kondusif pasca insiden Kepulauan Meranti Provinsi Riau.

Kesepakatan di atas ditandatangani oleh Abdul Khair Presdien Mahasiswa Universitas Riau, Ayub Habila Mahasiswa Meranti dan Supriyanto Kapolda Riau. Kesepakatan tersebut juga dibacakan oleh Abdul Khair saat aksi belasungkawa.

Sebagai penutup, aksi siang itu juga diselingi pernyataan sikap mahasiswa terkait kabut asap yang kembali melanda Riau. Massa aksi membuat kue dari tanah yang ditambah lilin angka 19. Kue ini kemudian dilempar depan kantor Gubernur. Mereka menamakannya ulang tahun asap yang ke 19.*Martha Novia Manullang.

Views – 943

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *