Menteri Bambang : Harus Ada Sistem yang Mengurangi Konsentrasi Kekayaan di Indonesia

bambang

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Bambang P.S. Brodjonegoro berikan kuliah umum bagi mahasiswa Universitas Riau di Auditorium Sutan Balia FISIP, Sabtu (4/11).

Angkat tema Pemerataan dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan di Universitas Riau. Kuliah umum ini sebagai bentuk penyampaian strategi perencanaan dan kebijakan pembangunan nasional perguruan tinggi di Indonesia.

Bambang yang sebelumnya jabat Menteri Keuangan menyinggung isu ketimpangan sosial. Ia katakan hal ini adalah konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Rasio Gini atau ukuran ketidakmerataan penduduk Indonesia  menyentuh angka 0,41. Semakin besar nilai Rasio Gini, maka makin besar ketidakmerataan antara distribusi penduduk dengan wilayah. Pada periode 2009 hingga 2013 terjadi pertumbuhan ekonomi di atas enam persen. Saat itulah Rasio Gini juga meningkat.

Data terakhir tingkat kemiskinan Maret 2017 sebesar 10,6 persen. Sebanyak 28 juta jiwa penduduk Indonesia yang hidupnya di bawah garis kemikinan. Bambang mengklaim angka kemiskinan ini terendah yang pernah dicapai Indonesia.

Sambil menjelaskan materinya, ia juga menampilkan data tingkat kemiskinan di Riau. Berada diangka 7,89 persen dari skala nasional yang mencapai 10 persen. Serta tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk adalah 0,23 persen. Sedikit mendekati dengan skala nasional yaitu 0,39 persen. Namun, tingkat pengangguran di Riau melebihi batas rata-rata nasional yaitu lima persen. Tepatnya 5,26 persen.

Melihat angka ini, Bambang berharap Riau dapat  bergerak cepat dalam menangani pengangguran khususnya kaum muda yang terpelajar. Padahal menurutnya Riau, provinsi yang memiliki banyak kekayaan alam dengan potensi melimpah.

“Kekayaan Indonesia hanya terkonsentrasi pada sekelompok orang yang menguasai sebagian besar kekayaan di Indonesia. Maka harus ada sistem yang dapat mengurangi konsentrasi kekayaan tersebut,” terangnya soal penyebab ketimpangan pengeluaran penduduk. “Ini  masalah paling berat karena sudah berakar di Indonesia.”

Kedatangan Menteri Bambang adalah kali pertama di Universitas Riau.

Ia disambut civitas akademika UR dengan 682 mahasiswa peserta kuliah umum. Hadir juga Bappeda Provinsi Riau, Rektor UR Aras Mulyadi dan jajaran. Dengan dekorasi panggung dikelilingi berbagai jenis bunga hijau, Rektor Aras membuka acara dan memandu jalannya kuliah umum. Dalam kesempatan itu ia sampaikan Universitas Riau telah hasilkan para sarjana yang berkontribusi di seluruh nusantara.

“Ini adalah bentuk bakti UR terhadap pembangunan nasional. Kita akan tingkatkan terus pembangunan khususnya di UR  untuk meningkatkan inovasi teknologi yang dapat berguna di masyarakat,” katanya.

Di tempat terpisah, Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaan, Azhar Kasymi selaku ketua panitia katakan kedatangan Menteri PPN/Bappenas sebuah penghargaan bagi UR karena telah meluangkan waktu untuk menyampaikan program pemerintah. Harapannya dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan Riau, khususnya bagi UR.

Rorin Astrin, mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP, usai mengikuti kuliah umum, menyadari  Riau memiliki kekayaan alam serta potensi yang melimpah dalam pembangunan ekonomi nasional. “Kita harus bangun skill, bekerja sesuai dengan bidangnya serta turut membantu pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan inovasi,” tambahnya.

Setelah memberi materi kuliah umum, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bagi peserta. Kuliah umum dimulai dari pukul 10 pagi berakhir setengah satu siang. Ditutup dengan sesi foto bersama Menteri, jajaran pimpinan UR dan mahasiswa.

  • Penulis : Annisa Majesti
  • Editor   : Eko Permadi

Views – 70

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *