BeritaKampus

Jelang Pelaksanaan PLP, Mahasiswa FKIP Diberi Pembekalan

0

Sebanyak 1253 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau mengikuti Pembekalan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di Ballroom Hotel Mona, Rabu (4/9).

Pembekalan diselenggarakan Unit Pelaksana Teknis Program Pengalaman Lapangan atau UPT PPL. Tujuannya memberi arahan kepada mahasiswa sebelum melaksakan PLP periode 2019.

“Ada seratusan lebih sekolah di Pekanbaru yang menerima mahasiswa PLP,” kata Zahirman ketua UPT PPL. “Ditambah guru pamong ada 826 orang dan 215 Dosen pembimbing yang diturunkan”.

Memasuki tahun kedua FKIP beralih dari PPL menjadi PLP. Bedanya, PLP memiliki jadwal yang dapat diukur. Seperti mengajar hanya diwajibkan 3 kali. Sedangkan PPL tidak memiliki batasan jadwal.

Mahdum, Dekan FKIP menyampaikan empat bekal yang harus dikuasai mahasiswa sebelum turun ke lapangan. Biasa  disebut kompetensi guru. Meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesionalisme.

Sekolah di Pekanbaru rata-rata telah mempraktikkan kurikulum 2013. Artinya, sekolah tersebut telah memiliki media, strategi dan metode terbaru di bidang belajar-mengajar. Meskipun pada praktiknya beberapa sekolah masih konvensional. Menggunakan teknologi dalam mengajar menjadi salah satu usaha FKIP UNRI agar seluruh sekolah menggunakan media saat pembelajaran.

Sebagai guru, Peserta PLP nantinya tak hanya mengajar tapi juga mendidik. Didikan ini bermaksud  menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa.

Untuk dapat mendidik, juga dibutuhkan bimbingan yang mengarah pada psikologis peserta didik dan mengarahkannya secara fisik. Hal ini guna tercapainya kedewasaan pada peserta didik secara jasmani dan rohani.

“Selain itu juga butuh latihan secara berulang,” kata Mahdum.

Titi Solfitri, Sekretaris UPT PPL memberi penjelasan soal teknis pelaksanaan praktek di sekolah. Ia katakan mahasiswa yang terkendala jarak tempuh antara tempat tinggal dan sekolah serta memiliki penyakit serius dipersilakan melapor untuk pengubahan lokasi PLP.

Pengumuman pembagian sekolah dapat dilihat pada 4 September melalui website FKIP UNRI. Pengumuman dapat diunduh disini.

Seterusnya mahasiswa dikelompokkan sesuai penempatannya dan memilih ketua tim. Nantinya, ketualah yang mengabil surat keterangan dan lembar observasi ke UPT. Lalu pengantaran ke masing-masing sekolah mulai 9 sampai 14 September nanti.

Untuk mengatur jadwal mengajar dan mengenali lingkungan sekolah, mahasiswa diberi waktu sekitar satu bulan melakukan observasi. Sementara pelaksanaan kegiatan berlangsung selama dua bulan. Terhitung 14 Oktober sampai 16 November. Diakhir PLP akan ada ujian latihan mengajar. Waktunya sesuai kesepakatan antara mahasiswa, guru pamong dan dosen pembimbing.

Bagi mahasiswa yang mengadakan penelitian proposal, UPT hanya memberi izin sehari dalam satu minggu.

“Asalkan izinnya tak bersamaan, supaya sekolah tidak kosong,” tegas Titi.

Terkait penilaian, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan. Mulai dari daftar kehadiran, beberapa lembar penilaian, kepribadian, strategi mengajar hingga telaah kurikulum. Sekaligus perangkat pembelajaran.

Penilaian akhirdiberikan oleh guru pamong dan dosen pembimbing masing-masing berbobot 40 persen. Sisanya masing-masing 10 persen nilai pembekalan dan laporan.

Sebagai catatan, setiap mahasiswa wajib menyiapkan lembar penilaian yang dijilid berdasarkan warna prodi yang ditentukan. Berikut rinciannya :

Pendidikan Matematika dan Kimia : Biru Muda

Pendidikan Fisika dan Biologi : Biru tua

Pendidikan Sejarah dan PPKn : Oranye

Pendidikan Ekonomi : Kuning

Bahasa Indonesia : Cokelat

Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris : Putih

Kepelatihan dan Pendidikan Masyarakat : Hijau

Pendidikan Olahraga dan Bimbingan Konseling : Merah

PGSD dan PG PAUD : Ungu Muda

Usai PLP, mahasiswa akan dijemput kembali pada 15 hingga 21 Desember. Titi menegaskan, tidak adanya kewajiban memberi kenang-kenangan bagi sekolah usai PLP.

“Jika dipungut, laporkan kepada kepala sekolah. Tapi jika masih rasional dan terjangkau silahkan,” tutupnya.

Reporter : Reva Dina Asri

Perlukah Memantau Proses Sidang di Pengadilan?

Previous article

Asap Tiba, ISPA Menyapa!

Next article

Comments

Leave a Reply