DiskusiRehat

Kolaborasi Media, Solusi untuk Cacatnya Penyebaran Informasi

0

“Kolaborasi tidak menghilangkan warna dari suatu media, namun membuka kemungkinan-kemungkinan yang luar biasa.” Hal ini ditegaskan Setri Yasra, Pemimpin Redaksi tempo.co dalam diskusi Bagaimana Kolaborasi Media yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Bahana, Sabtu (26/9).

Tak hanya Setri, Aulia Adam salah satu jurnalis tirto.id turut bergabung dalam diskusi yang diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai kampus ini. Diskusi dibuka pukul 4 sore oleh Iwantono selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNRI.

Setri menceritakan sedikit perjalanan hidupnya sebagai anak kampung yang mengenyam bangku perkuliahan di UNRI. Lebih lanjut ia memaparkan seputar kolaborasi media secara garis besar dan pengalamannya selama berkecimpung di dunia jurnalistik.

Menurutnya, kolaborasi media timbul dari ketidakmampuan satu media jika harus bekerja sendiri. Adanya tanggung jawab media untuk memberikan informasi kepada masyarakat yang terhalang oleh beberapa kendala. Melalui kolaborasi yang dijalin beberapa media, akan timbul berbagai kemudahan.

Terlebih lagi, kolaborasi memiliki sisi positif seperti lebih mudah mengumpulkan dan memaksimalkan informasi yang didapat, serta mampu meningkatkan kepercayaan publik. Hal ini akan berpengaruh terhadap proses produksi berita yang menjadi lebih cepat dan efektif.

“Banyak isu penting yang meskipun sudah diangkat ke media, tapi tidak punya efek yang cukup kuat. Entah itu di masyarakat atau di kampus,” jelasnya.

Hemat Setri, kolaborasi media dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi cacatnya penyebaran informasi terkhusus di era digital seperti sekarang. Untuk membangun kolaborasi perlu mencari kesamaan berpikir. Pada dasarnya, hal ini justru mempermudah proses produksi dalam menggali suatu data dan menjangkau pembaca yang lebih luas.

“Ubah statement bahwa kolaborasi menghilangkan ciri khas tiap media, dengan ini apa yang kita suarakan sebagai media bisa diketahui seluruh masyarakat Indonesia, tidak hanya wilayah tertentu saja,” pungkasnya.

Tak hanya itu, Adam turut berbagi cerita mengenai kolaborasi media bertajuk #NamaBaikKampus yang digarap Tirto bersama Vice Indonesia, BBC Indonesia dan The Jakarta Post. Hasil kolaborasi ini memenangkan berbagai penghargaan oleh Tasrif Award 2020 dari Aliansi Jurnalis Indonesia dan Society of Pubishers in Asia 2020.

Kerja sama ini hadir setelah mencuatnya kasus pelecehan seksual yang dialami Agni, Mahasiswa Universitas Gadjah Mada—pertama kali diberitakan Balairung. Kolaborasi ini, kata Adam tak lepas dari ketidakpedulian kampus terhadap korban. Akhirnya muncul inisiasi untuk mengusut kasus kekerasan seksual di seluruh Perguruan Tinggi se-Indonesia.

Berdasarkan testimoni dari para penyintas kekerasan seksual di lingkungan kampus yang dikumpulkan oleh tim, didapati sedikitnya 207 kasus. Formulir disebar pada 13 Februari hingga 28 Maret 2019. Dengan total 207 testimoni, terdapat 174 kasus yang terjadi di lingkungan kampus.

Dilansir dari laman tirto.id, sebuah studi dari ValueChampion—perusahaan riset yang bermarkas di Singapura, mendapati bahwa Indonesia merupakan negara paling berbahaya kedua bagi perempuan di kawasan Asia Pasifik. India, Indonesia dan Filipina menempati posisi teratas dari 14 negara.

“Kolaborasi media hadir sebagai solusi dari keterbatasan jangkauan media,” tutup Adam.

Penulis: Dwi Ajeng Andini

Editor: Firlia Nouratama

UU Pemira dan Musma Baru, Apa Bedanya?

Previous article

Bagaimana Tahapan Pemira Online UNRI?

Next article

You may also like

Comments

Leave a Reply

More in Diskusi