DiaSempena

Mimpi Jadi Nyata dalam Ajang KDI

0
Haviz di panggung KDI. FOTO: Dokumentasi Pribadi

Hobi menyanyi jadi passion yang melekat pada Haviz. Ia bahkan dijuluki “banci panggung” oleh teman-temannya. Bukan karena gayanya, melainkan kesenangannya naik panggung.. 

Oleh Aditia Anhar 

“Saking senengnya nyanyi, kalo di acara tu kayak lebih baik aku gak ikut makan, daripada gak nyanyi,” begitu gurau Haviz.

Haviz persembahkan tembang lagu diiringi tarian Zapin Melayu. Penampilannya sontak mengundang sorai juri. Tersebab pandemi Covid-19, nihil penonton. Hanya dapat disaksikan dari balik layer televisi dan platform YouTube. Ayu Ting Ting yang kala itu jadi juri, beri apresiasi dengan standing applause dan pujian.

Lagu Melayu Cindai ia senandungkan di atas panggung berhiaskan sorot-sorot lampu. Sehelai jas berwarna hitam dan dasi kupu-kupu menyempurnakan penampilannya. Ia bikin lagu itu berpadu dengan musik Rnb, Jazz, Melayu, dan Arab. “Ya, aransemennya aku buat mix biar grande gitu,” kata Haviz mengenang penampilannya kala itu.

Seolah mimpi menjadi kenyataan, begitu Haviz menyebutnya. Ia menangkan posisi ke-2 dengan perolehan poin vote 28 persen. Pencapaian Haviz bukanlah mulus. Beragam ajang sudah ia cicipi. Kontes Dangdut Indonesia (KDI) adalah palagan pencarian bakat penyanyi dangdut yang disajikan MNC TV. 

Kecintaan Haviz akan seni dan musik Melayu sudah tumbuh sejak kecil. Putra dari pasangan Bainur Effendi dan Siti Rahmah ini memang besar dengan lagu Melayu. Ayahnya kerap mengajak Haviz bernyanyi sembari main alat musik. Ada saksofon, piano, gitar, hingga harmonika.

Siti Rahmah akui, putranya itu tak pernah ikut kursus bernyanyi. Bakatnya terasah sendiri dengan bernyanyi dan menonton YouTube. “Dia otodidak, karaokean, nengok YouTube. Bisa dibilang seperti bakat alami, lah. Belajar biola pun dengan Pak Ciknya,” ungkap Siti.

Sejak dari bangku sekolah, Haviz kerap bertanding tarik suara. Mulai dari perlombaan antarkelurahan, antarsekolah, dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional.

Hobi bernyanyi menjadi passion yang melekat dalam diri Haviz. Ia bahkan dijuluki “Banci Panggung” oleh teman-temannya. Bukan karena gayanya, melainkan kesenangannya naik panggung. Sebut saja acara pernikahan, live music cafe, ulang tahun, serta acara berbau musik lain.

Sukri, teman Haviz akui kerap mendengar Haviz bernyanyi di setiap kegiatannya. “Di kamar, kamar mandi, bahkan seperti radio di motor.”

Lomba bernyanyi yang diadakan di kampus jadi tantangan baru bagi. Ia dapat pengalaman dan saingan baru. “Kalau di Dumai kan dah tau aja tu siapa saingannya. Nah, di sini muka-muka baru semua, jadi seru,” ujarnya kepada Bahana Mahasiswa.

Sejumlah perlombaan tarik suara solo yang diadakan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) kerap ia jajal. Posisi tiga besar tak pernah lepas dari genggamannya.

“Sering, tuh, aku ikut perlombaan di FKIP. Bahkan, ada dua sertifikat yang belum kuambil karena keburu pandemi,” tutur Haviz. Menurutnya, ikut lomba jadi suatu perjalanan dan pengembangan potensi di dunia tarik suara.

Hingga sampailah tahun 2019, Haviz coba kebolehannya di Liga Dangdut Indonesia (LIDA) yang disiarkan TV Indosiar. Lolos audisi, ia menjadi satu dari lima peserta asal Riau yang lolos ke babak audisi di Jakarta. Desember, ia terbang dari Pekanbaru ke Ibukota.

Meskipun golden tiket Haviz kantongi, sayangnya ia gagal menjadi duta provinsi. Alhasil, tak bisa lanjut ke babak berikutnya. Ia beranggapan, penampilannya yang kurang menarik menjadi faktor kegagalan.

“Mungkin karena dulu aku berewokan dan gondrong, jadi gak good looking. Gak cocok untuk TV. Mungkin, ya,” kenang mahasiswa Sosiologi 2018 itu.

Tarik mundur, ia juga sempat ikuti audisi Bintang Dangdut TVRI Riau. Namun, acara tak dilanjutkan karena aturan pembatasan akibat lonjakan kasus Covid-19.

Seakan tak ingin berhenti berlaga, Haviz ikut audisi lagi pada 2020. Berbekal informasi dari temannya, Aidil—salah satu kontestan KDI tahun 2016. Mulanya, Haviz tak terlalu antusias dan ragu. Seminggu jelang pendaftaran tutup, ia putuskan mendaftar. Persyaratan pun ia kirim kepada penyelenggara.

Tak berselang lama, tim produser KDI MNC TV meneleponnya. Kabar baik datang, Haviz lolos jalur Special Hunt. Special hunt adalah tahap pertama pencarian bakat melalui media sosial, rekomendasi alumni KDI, dan rekomendasi pemerintah daerah. 

Ia tak percaya begitu saja, bahkan mengira sebuah penipuan. Namun, unggahan Instagram resmi MNC TV meruntuhkan keraguannya. Haviz dan 9 peserta lainnya perlu mengisi biodata dan kirim video bernyanyi tanpa musik via aplikasi RCTI+.

Berlanjut ke tahap audisi online melalui aplikasi Zoom. Haviz bawakan lagu Fatwa Pujangga. Hitungan hari, ia dinyatakan lolos untuk audisi di hadapan juri artis. 

Seminggu usai pengumuman itu, Haviz berangkat dari Dumai ke Pekanbaru. Ia bawa koper besar, berikut keyakinan bahwa akan masuk grand final. Segenap prasyarat perjalanan lengkap, ia lepas landas pada 5 Juli ke Jakarta.

Ia terbang seorang diri. Sampai di Bandara Soekarno-Hatta, tujuannya ke apartemen Somerset Grand Citra, Jakarta Selatan. Kamar nomor 1702 jadi tempat istirahat selama kontes.

Tibalah saatnya audisi. Haviz mendapat Batch 2 tampil di depan juri. Ia tampil dengan biola di tangannya. Lagu Ayu Ting Ting berjudul Sorga di Telapak Kaki Ibu membawanya lolos dengan golden ticket menuju 20 besar. 

Kebahagiaan itu ia bagi kepada ayah dan ibu. Haviz tunjukkan tiket via panggilan video WhatsApp. “Sempat aku prank kalo aku gagal. Tapi pas aku tunjukin tiket itu, loncat-loncat mereka,” cerita Haviz menjelaskan reaksi keluarganya sembari tertawa.

Penampilan perdana, ia berhasil masuk ke 10 besar usai nyanyikan lagu Ridho Rhoma Lets Have Fun Together. Penampilan hari itu menurutnya paling buruk. Juri juga menyatakan ketidakpuasan. Haviz mengaku dalam kondisi lelah, mengantuk, dan suara mulai serak. 

Namun, voting melalui SMS menyelamatkannya. Haviz berada di posisi tertinggi kedua dan lanjut ke babak 5 besar. Kali ini, ia bawakan lagu Iis Dahlia, hingga melenggang ke babak final.

Kebahagiaan tergambar jelas dari pancaran wajah Haviz. Namanya tertulis sebagai runner-up KDI 2020. Gelar pemenang kedua sudah di tangan, Haviz jalin kontrak dengan Manajemen Star Media Nusantara selama 5 tahun. Single perdananya berjudul Hampir Gila.

“Nama Haviz KDI dipake sampai saat ini. Sampai mati pun, mungkin akan dikenal sebagai Haviz KDI,” tukasnya.

Kesibukan Haviz bergulat dengan kontes tarik suara, tak lantas membuatnya padam dalam dunia akademik. Selama audisi, Haviz tetap ikuti kuliah secara daring. Bolos dari kuliah bukan solusi bagi Haviz. Rina Susanti, dosennya mengakui hal itu. Ia beri kelonggaran bila Haviz sedang latihan atau gladi yang tak bisa diundur. 

Muhammad Haviz Burahman nama lengkapnya. Keluarga beri nama akrab Pisbur. Ia anak sulung dari dua bersaudara. Adik perempuannya kelas 2 SMA. 

Putra daerah Dumai ini juga aktif berorganisasi. Ikut Forum Anak Dumai pada 2013 dan jadi duta anak. Sementara di kampus, ia berkegiatan di Ikatan Mahasiswa Sosiologi bagian minat bakat kesenian. Kerap juga maju menjadi moderator dan pembawa acara.

Ibunya berharap Haviz tetap patuh agama, tak sombong, dan tak lupa dengan tujuan awal. “Ya, memang dari kecil cita-citanya jadi artis dan masuk TV, mungkin memang itu jalannya. Selagi positif, kita orang tua pasti dukung terus,” tutup ibu dua anak ini.

Habis Keok, Terbitlah Deni Efizon Jadi Calon Kuat

Previous article

Olahraga di Lingkungan Kampus Panam UNRI

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published.

More in Dia