BeritaKampus

Peluncuran LSM Paradigma, Kawal Nilai Karbon di Indonesia

0

Sembilan perempuan naik ke panggung. Tangannya membawa alfabet dari gabus. Mereka berbaris menghadap tamu undangan sampai membentuk kata Paradigma. Hari itu, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Paradigma baru saja diresmikan.

Riau jadi salah satu pion utama perencanaan pembangunan rendah karbon di Indonesia. Namun, keterbatasan data dan sumber daya manusia jadi persoalan. Khususnya menganalisis serapan dan emisi karbon. Hal ini disampaikan oleh Gubernur Riau Syamsuar, Rabu (20/4).

Mengatasi hal tersebut, Bumi Lancang Kuning ini kembali luncurkan Lembaga Swadaya Masyarakat atau LSM. Paradigma namanya. Lembaga ini berfokus pada isu lingkungan terutama perubahan iklim, sosial, dan kajian ekologis lainnya.

Direktur Eksekutif Paradigma Riko Kurniawan katakan bahwa harus ada pola pikir baru dalam membangun suatu daerah atau negera. Dengan adanya Paradigma, katanya, diharapkan pembangunan baru untuk mengatasi permasalahan dunia.

Sejatinya, LSM ini sudah ada sejak setahun yang lalu. Namun, baru sekarang diresmikan.

Tak hanya Syamsuar, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga turut mengapresiasi berdirinya Paradigma. Siti mengaku senang sebab baru kali ini ada LSM yang berkaitan dengan karbon. Ia ucapkan terima kasih atas kehadiran Paradigma sebagai Lembaga swadaya masyarakat.

“Yang kita tau diusungkan oleh tokoh lingkungan yang cukup kredibel,” ucap Siti Nurbaya lewat video yang ditayangkan di proyektor.

Acara dilanjutkan dengan diskusi mengenai peluang dan tantangan karbon untuk rakyat. Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Syaiful Anwar maju sebagai pemateri. Ia sampaikan upaya pengurangan karbon melalui perdagangan karbon yang digalakkan baru-baru ini.

Syaiful bilang perdagangan karbon yang diperjualbelikan bukan karbonnya. Melainkan upaya dan kinerja dalam mengurangi emisi tersebut.

Sependapat dengan Syaiful, peserta diskusi dari Zetizen Riau juga mengatakan bahwa pembentukan Paradigma dinilai sangat penting. Apalagi dilihat dari kacamata banyaknya isu perubahan iklim melalui perdagangan karbon yang berkembang saat ini.

Tak jauh berbeda dengan Asgiatul dari Ilmu Komunikasi Universitas Riau. Ia mengaku sangat banyak mendapatkan pengetahuan dari hasil diskusi kolaborasi Jaringan Kerja Penyelamatan Hutan Riau dan Paradigma ini.

“Menurut saya pribadi ya bermanfaat sekali, terutama untuk mengisi waktu luang saya. Materi dari pembahasan dan sesi diskusinya itu bagus banget,” tutupnya.

Penulis: Fitri Pilami

Editor: Sakinah Aidah, Ellya Syafriani

Masa Jabatan Petahana Segera Habis, UNRI Kembali Gelar Pilrek

Previous article

Menjemput Memori: Tiga Laga Terakhir Pilrek

Next article

You may also like

Comments

Leave a Reply

More in Berita