Budaya & SastraKilas Balik

“Perdamaian ” Kata Belanda, “Menyerah” Menurut Tuanku Tambusai

0

 

DI wilayah Rokan Kanan ada tiga kerajaan Melayu masing-masing, Tambusai, Rambah dan Kepenuhan. Rambah dan Tambusai merupakan kampung tertua diberi nama Karang Besar.

Pada zaman dahulu dihuni pendatang-pendatang dari Sumatera Timur, Minangkabau, Tapanuli bahkan semenanjung Malaka. Mereka bertemu di pelabuhan, di hulu sungai Sesah bagian Padang Lawas. Dari sekumpulan pendatang ini timbul hasrat untuk menetap dan mencari tempat yang subur. Dari pemufakatan tersebut maka dicarilah sebuah tempat ditepi sungai Tambusai dan disinilah mereka menetap. Kemudian salah seorang diantaranya diangkat sebagai raja.

Konon, sejak itulah tempat itu masyhur dengan nama Tambusai. Raja Tambusai memiliki putra dua orang. Tapi sungguh sayang, keduanya berselisihan paham. Maka, untuk menghindarkan perselisihan yang berkepanjangan antara keduanya, Raja Tambusai mencari suatu daerah untuk putranya tertua yaitu daerah di tepi sungai Lubuh. Karena daerah ini masih baru, maka putra raja itu bersama pengikutnya terpaksa merambah.

Sejak saat itu, tempat itu dinamakan orang Rambah.

Tak lama berselang, penduduk negeri ini bertambah banyak, sehingga perlu diadakan perluasan daerah mengingat negeri itu sudah kepenuhan (berlebihan). Namun, tak cukup hingga disitu, sebab daerah tersebut lalu dinamakan Kepenuhan.

Dimasa kerajaan Tambusai diperintah oleh raja ke-14, Sri Sultan Ibrahim bergelar Duli Yang Dipertuan Besar, islam telah berkembang pesat disepanjang Sungai Rokan. Pada masa pemerintahan Duli Yang Dipertuan Besar, sebagai wali syara di Tambusai adalah Imam Maulana Kali, seorang ulama yang berasal dari Rambah. Dia dikenal sebagai orang yang bijaksana dan lapang dada, sehingga lambat laun sikap kurang senang dari golongan bangsawan dan golongan adat terhadap dia makin lama semakin berkurang. Dia pandai menyesuaikan diri dengan berbagai golongan, malah untuk ini dia sengaja memilih salah seorang gadis Tambusai sebagai teman hidupnya.

Dari perkawinan inilah lahir seorang putra yang kekal mengisi lembaran sejarah Indonesia. Seorang putra yang gagah perkasa dan tiada kenal menyerah dan oleh pihak Belanda diberi julukan De padrieshe Tijger Van Rikan (Harimau Paderi dari Rokan). Sedangkan nama pemberian dari orang tuanya adalah Muhammad Saleh. Dia dididik dengan kasih sayang orang tuanya, namun kasih sayang itu tidak pernah diperlihatkan secara berlebihan. Oleh ayahnya, Imam Maulana. Muhammad Saleh digembleng dengan disiplin yang ketat.

Muhammad Saleh yang telah beranjak dewasa segera diberi kesempatan untuk memperdalam ilmu ke Bonjol, dengan mengambil lokasi di kubung 12 Rao. Dia beguru kepada tokoh-tokoh penganut aliran wahabi seperti Haji Miskin, Haji Sumanik dan Tuanku Nan Renceh. Setelah Muhammad Saleh selesai berguru di Bonjol kepada ulama pengikut aliran Wahabi itu, dia mendapat julukan baru, Pakih Saleh. Lalu, untuk melengkapi rukun islam dia berangkat ke Mekah bersama ayahnya untuk menunaikan haji. Ketika pulang dari Mekah, Pakih Saleh berubah nama menjadi Haji Muhammad Saleh.

Ketika Muhammad Saleh mendengar kabar bahwa telah terjadi pertikaian antara kaum ulama di Sumatera Barat dengan pihak kolonial Belanda, dia merasa terpanggil untuk ikut berjuang membela bangsanya dan kemudian mengumpulkan pengikutnya dengan membawa pasukan yang besar. Sejak saat itu, selama Sembilan tahun (Januari 1830-12 Desember 1839) bersama para pengikut dan para sahabatnya, Tuanku Rao bertungkus-lumus dimedan perang mempertaruhkan jiwa melawan penjajah Belanda.

Disamping itu dia menjadi ulama yang disegani karena telah mengembangkan pendidikan dan pengajaran agama islam ditiap daerah, Minangkabau, Mandailing dan Riau. Sehingga ditiga daerah itu dia mendapat sebutan Tuanku Tambusai.

Setelah Tuanku Tambusai menjadi ulama di tiga daerah itu maka tiap tempat itu secara otomatis menjadi basis kekuatan perang Tuanku

 

Tambusai dan Para Pengikutnya

Tuanku Tambusai tiba dengan pasukannya di Rao pada Februari 1830 dan disambut oleh Tuanku Rao dengan kegembiraan meluap-luap. Tuanku Rao adalah sahabatnya sejak kecil ketika masih belajar di kubung 12 Rao. Pada maret 1830, atas permintaan Tuanku Rao, Tuanku Tambusai berhasil meyakinkan yang dipertuan Rao untuk menyerahkan kekuasaannya kepada Tuanku Rao. Pada saat kekuasaan ditangan Tuanku Rao inilah Tuanku Tambusai menjadi panglima perang Tuanku Rao.

Perang menentang penjajahan yang telah berkorban sampai di Bonjol ikut membakar semangat juang Tuanku Tambusai. Dia ikut menyusun kekuatan dari Rao. Dibeberapa tempat pasukan Belanda berhasil dipukul mundur. Serangan yang banyak mengorbankan pihak Belanda terjadi pada pertengahan Mei 1834 ketika Tuanku Tambusai berhasil mengepung benteng Belanda di Singingu dan kota Nopan.

Sementara itu disektor lain Belanda terus meneris mendapat gempuran sengit dari para pejuang-pejuang Paderi. Tipu muslihat perdamaian yang dilakukan Belanda terhadap Imam Bonjol merupakan pengalaman yang pahit tapi pengalaman itu Tuanku Tambusai mendapatkan pelajaran yang berguna. Kata “perdamaian” bagi Belanda sama artinya dengan “menyerah” menurut Tambusai, dan dia tidak sudi menyerah, dengan tekad yang demikian itu Tuanku Tambusai melengkapi persenjataan dan bersama pasukannya mendirikan benteng yang berjejer dari tanah Mandailing sampai ke Dalu-dalu.

Dengan pasukan berkuda, barisan Tuanku Tambusai bergerak menuju Dalu-dalu lama melalui padang Nunang, kemudian menyeberangi sungai Asik dan terus ke Rumbai. Sebagian besar dari pasukan berjalan kaki terus ke Rokan IV Kota. Dari pasir Pengaraian Tuanku Tambusai bergerak sebelumnya berjuang dibeberapa daerah seperti benteng Rao.

Pada mei 1839 Belanda membawa pasukan yang besar ke Dalu-Dalu. Tuanku Tambusai segera mengumpulkan pasukannya untuk menghadapi segala kemungkinan. Mereka tidak bertahan di bentengnya di Kubu Aur Duri, tetapi datang menyonsong pasukan Belanda. Akibatnya terjadi pertempuran dahsyat selama berbulan-bulan. Dari penyerbuan berkali-kali yang dilakukan oleh Belanda, akhirnya mereka dapat mengetahui rahasia benteng pasukan Tuanku Tambusai.

Alhasil, setelah melakukan perlawanan yang gagah berani, pejuang –pejuang Paderi di bawah pimpinan Tuanku Tambusai terpaksa mengundurkan diri dari benteng terakhir setelah berjuang hampir selama setahun, dan kemudian dia segera mengatur-atur pengungsian keluarganya dan wanita-wanita lain nya kearah Rimba Mahato. Tuanku Tmbusai bersama pengikutnya masuk kehutan rimba Mahato dan sampai ke daerah Kota Pinang menghiliri Aek Pane dan sampai di Bila. Dari sinilah Tuanku Tambusai beserta pengikut setianya menyebrangi Selat Malaka.

Pengikut-pengikutnya berpencar pada beberapa tempat di semenanjung itu, sedangkan dia dan keluarganya menetap disebuah kampung kecil di negara bahagian Negeri Sembilan, Malaysia.

Tuanku Tambusai menghabiskan sisa hidupnya di negeri itu dan meninggal dunia di daerah Seremban, ibu negeri seri Menanti. Makamnya hingga kini masih terdapat di Seremban dan keturunannya banyak terdapat di negeri itu.

 

Edisi April 1995

Akit Nelayan yang Menjadi Petani

Previous article

Dumai dan Legenda Putri Tujuh

Next article

Comments

Leave a Reply