KampusRehat

Sepenggal Kisah Sukses Dua Alumni UNRI

0

Dua alumni Universitas Riau (UNRI) bagikan pengalamannya meniti karir dari usai dapat gelar sarjana. Keduanya adalah Djonieri dan Sri Mariati. Ikatan Keluarga Alumni UNRI Jabodetabek menyapa almamaternya melalui bincang virtual via Zoom Cloud Meeting.

Djonieri yang kini menduduki kursi salah satu Direktur Otoritas Jasa Keuangan pernah ditolak bekerja, hanya karena ia lulusan UNRI. “Mereka tak menerima lulusan Sumatra,” kenangnya.

Karir Djoni bermula di Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan atau Bapepam-LK. Setelah menerima penolakan, ia coba meyakinkan atasannya akan bekerja dengan baik. Saat itu, ia menjadi pegawai paling tua. Hal ini yang memicu dirinya untuk terus giat belajar. Nasib mujur, Djoni mendapat beasiswa kuliah ke Belanda.

Di Bapepam, alumni Akuntansi UNRI ini sempat menjabat sebagai Kepala Sub Bagian selama enam bulan. Naiknya jabatan bertepatan dengan diterimanya beasiswa di Negeri Paman Sam. Namun, atasan Djoni tak mengizinkannya terbang.

“Jangan pernah bermasalah dengan orang penting di kantor, karena bisa menghambat karirmu,” tuturnya.

Prinsip yang dipegang Djoni, ia tak mau kalah dari orang lain. Tak lupa terus berusaha untuk mengembangkan diri.

Ada pula Sri Mariati yang kini sebagai Direktur Eksekutif Belantara Foundation.

Sri Maryati—akrab dipanggil Cici—mengawali karir sebagai pegawai magang di Wetlands International Indonesia Programme (WI-IP). WI-IP merupakan organisasi non-pemerintah yang konsen dalam konservasi dan pemanfaatan lahan basah.

Cici membelokkan setirnya menjadi Atlet Panjat Tebing Riau pada 1997 hingga 2000. Kemudian, ikut dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XV di Surabaya. Ibunya meninggal dunia usai ia kembali dari PON. Inilah yang jadi alasan Cici berhenti berkakir sebagai atlet.

Pada tahun yang sama, ia mulai bekerja sebagai peneliti di Important Bird Area. Hampir setahun lebih Cici meneliti burung di Bukit Rimbang Baling, Lipat Kain, Kampar Kiri.

Cici katakan, meneliti burung di sana sangat berat. Setiap hari, ia ikut dengan mobil pengangkung kayu untuk bisa naik dan turun bukit. Di mobil itu, Cici duduk di atas kayu balak yang ukurannya cukup besar. Terkadang, binatang buas seperti harimau tampak ketika ia melakukan penelitian.

Tak hanya itu, ia juga bekerja di World Wide Fund for Nature (WWF) sebagai konsultan dan Staf WWF-Comms Officer sembari melanjutkan studi magister. Hingga 2006, ia ditugaskan bekerja di WWF Amerika.

Sebagai seorang wanita, ia ceritakan banyak tantangan yang harus dilewati selama bekerja. Mulai dari meneliti hewan di hutan, hingga persaingan jabatan di kantor. Cici pernah meneliti seberapa banyak wanita yang menjadi pemimpin dalam pekerjaan lingkungan di Riau.

Ia melanjutkan studi doktoral pada 2010. Selang empat tahun, Royal Lestari Utama dan Barito menawarinya pekerjaan. Beberapa bulan setelahnya, Cici bekerja di Belantara Foundation. Di sinilah ia mengabdikan diri hingga sekarang.

Baginya, tidak cukup hanya dengan bekerja keras, namun juga harus memiliki strategi.

“Ketika terjatuh, kita harus mengubah strategi. Dalam bekerja kita harus selalu ikhlas, walaupun hanya staf biasa,” pungkas Cici yang juga Dosen Universitas Trisakti pada Sabtu (19/12).

Reporter: Caesare Fathurrahman

Editor: Firlia Nouratama

Generasi Muda, Bersuara melalui Karya

Previous article

LBH Pekanbaru Terima 158 Aduan Sepanjang 2020

Next article

You may also like

Comments

Leave a Reply

More in Kampus