Bedah FilmRehat

Sexy Killers: Cerita Di Balik Eksploitasi Batu Bara

0

Ada 12 lobang tambang yang belum direklamasi PT Riau Bara Harum atau PT RBH. Hal ini diungkapkan oleh Andi Wijaya salah satu anggota di Lembaga Bantuan Hukum Riau saat diskusi di Bahana Mahasiswa. Bekas galian tambang terletak di Dusun Sungai Arang Kelurahan Pangkalan Kabupaten Indragiri Hulu.

Mengenai hal ini Andi menekankan pada bagaimana pertanggungjawaban perusahaan terhadap bekas galian. Bukan pada berapa jumlah ganti rugi.

Ia paparkan beberapa dampak dari aktivitas tambang ini. Pertama bagi kesehatan. Penyakit kulit saat ini meningkat di Desa Okura, Rumbai Pesisir. Kemudian bagi perekonomian, seperti nelayan yang jumlah tangkapan nya saat ini menurun. Karena getaran akibat galian, sehingga ikan menjauh.

“Pemerintah maupun perusahaan tidak ada berikan sosialisasi pada masyarakat sebelum aktivitas tambang beroperasi.”

Tepat di seberang PLTU ada taman wisata bunga. Kawasan PLTU dijadikan tempat wisata seolah tak ada dampak buruknya bagi masyarakat.

Dampak buruk akibat bekas galian batu bara dan adanya PLTU di sekitar permukiman masyarakat Riau, juga terjadi di beberapa daerah lain. Seperti di Jawa, Kalimantan dan Sulawesi persis yang ditampilkan dengan baik oleh Dandhy Laksono dan Ucok Suparta dalam filmnya dengan judul Sexy Killers. Film terakhir dari serangkaian film lain dalam Ekspedisi Indonesia Biru.

Sexy Killers bercerita tentang apa yang dirasakan masyarakat yang terkena dampak dari perbuatan perusahaan yang tidak bertanggung jawab. Juga oligarki dalam lingkaran tambang batu bara yang disajikan turut membuka mata penonton.

Dalam film produksi Watchdoc Documentary ini ditampilkan keresahan masyarakat dari sisi yang berbeda-beda. Salah satunya yang dirasakan Nyoman selaku petani di Desa Mulawarman Kecamatan Tenggarong. Desa ini pada 2011 pernah ditetapkan sebagai lumbung padi dengan produksi 2.600 ton gabah setiap panen. Namun, perusahaan tambang batu bara merusak jalur air untuk sawah mereka dan mengambil alih lahan. Sehingga lahan sawah yang tadinya subur, kini gersang.

Hal ini semakin melebar kebeberapa lahan masyarakat sekitar, ketika Nyoman dipenjara akibat protes kepada perusahaan pada 2005. Petani lain tidak mau bernasib sama seperti Nyoman, sehingga tidak ada lagi protes yang dilakukan.

“Kami saat ini menunggu keputusan dari perusahaan, apakah tanah kami akan diperbaiki atau dibebaskan,” ucap Mulyono, Kepala Desa Mulawarman.

Dampak lingkungan tidak hanya terjadi di desa tempat Nyoman bernaung. Kepulauan Karimun Jawa juga turut diperlihatkan Dandhy dalam filmnya.

Kali ini nelayan yang menuai aksi protes. Sebab kapal tongkang pembawa batu bara dari Borneo hilir mudik melintasi perairan Karimun.

Kapal mereka akan parkir di Karimun bila kehabisan bahan bakar, rusaknya mesin atau cuaca buruk. Sehingga kapal menyangkutkan jangkarnya di terumbu karang yang menyebabkan kerusakan.

Hal ini dibuktikan oleh Komunitas Alam Karimun (Akar) melalui rekaman foto yang diambilnya di perairan Karimun. Tampak sejumlah terumbu karang yang hancur dilindas kapal tongkang. Belum lagi batu bara yang tumpah. Mengingat sebagian kawasan di Karimun masuk dalam taman nasional yang dilindungi.

Pegiat wisata setempat juga merasakan kegelisahan atas ini. Mereka akan melakukan aksi protes bersama nelayan setempat dan organisasi lingkungan hidup internasional.

“Sebagai orang awam, mau protes ke mana? Paling ke pemerintah setempat,” ucap Mat Juri, salah satu nelayan di Karimun.

Tak jauh dari Karimun, ada PLTU Batang yang masih dalam proses pembangunan. Persisnya di bibir Pantai Ujungnegoro. PLTU ini digadang-gadang akan menjadi salah satu PLTU terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas 2.000 Megawatt. Atau setara jumlah pasokan untuk satu hingga dua juta rumah tangga.

Ringkasnya, dibutuhkan enam ratus ribu ton batu bara dengan rata-rata dua atau tiga kapal tongkang akan melintas tiap harinya.

Tak hanya itu. Di Cirebon, PLTU juga bersinggungan dengan petani garam. Banyak dari mereka yang digusur dengan alasan perintah dari pemerintah.

Juga di Buleleng, Bali. Polusi hasil pembakaran batu bara di PLTU Celukan Bawang berkapasitas empat ratus Megawatt adalah sebabnya. Hasil panen kelapa yang letaknya tak jauh dari PLTU menurun. Sebelumnya, pemilik dapat memanen 9.000 kelapa setiap panen, kini hanya 2.500. Ukuran buahnya juga mengecil. Daun kelapa juga dibuat menguning karena adanya PLTU.

Yang lebih parah adalah dampaknya bagi kesehatan masyarakat setempat. Salah satu korbannya adalah Arsyad di Palu. Rumah tempatnya tinggal hanya berjarak seratus meter dari PLTU. Ia diketahui alergi debu.

“Debu apa lagi, rumah kami jauh dari jalan raya,” ungkap Arsyad.

Satu lagi yang membuat masyarakat setempat geram adalah tidak terkelolanya limbah abu terbang atau fly ash. Pihak perusahaan membuangnya tak jauh dari permukiman penduduk.

“Mereka berjanji akan menutupnya, nyatanya hanya ditutup dengan terpal. Setelah itu ditimbun lagi dengan abu terbang baru,” kesal Arsyad.

Bukan hanya bercerita tentang lingkungan, film produksi Watchdoc ini juga menampilkan duka yang dialami Rahmawati. Ia tinggal disalah satu desa di Kalimantan Timur. Rahmawati kehilangan anaknya, Raihan Saputra yang meninggal akibat tenggelam di lobang bekas galian tambang batu bara.

Raihan tenggelam di lokasi penambangan yang terletak persis di belakang sekolanya. Sebelumnya, perusahaan berjanji akan mereklamasi namun hingga Raihan ditemukan tidak bernyawa, lobang itu masih menganga.

Hal ini tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 4 tahun 2012 tentang Indikator Ramah Lingkungan Penambangan Terbuka Batubara, disebutkan bahwa jarak minimal tepi lubang galian paling sedikit 500 (limaratus) meter dari batas IUP (rona awal  berdekatan dengan permukiman).

Rahmawati ceritakan, pinggir lobang hanya ditutup dengan beberapa lembar seng bekas. Kemudian diberi tulisan yang menghimbau agar anak-anak tidak main di sana.

Raihan tidak sendiri, ada 32 jiwa lagi yang mengalami nasib serupa di Kalimantan Timur dalam rentang tahun 2011 hingga 2018. Sedangkan dalam skala nasional tercatat 115 jiwa.

Film ini memperlihatkan potongan video Isran Noor, Gubernur Kalimantan Timur dalam menanggapi hal ini. “Nasibnya kasian, meninggal di kolam tambang. Ikut prihatin,” kata Isran.

Menurutnya, masyarakat harus waspada karena sudah jelas di sana ada lobang. Ia sudah menyampaikan agar tak bermain di lokasi yang sudah ditandai.

Masih di film Sexy Killers disebutkan sedikitnya ada 3.500 lobang bekas galian di Kalimantan Timur. Menurut aturan, lobang harus direklamasi.

Sampai tahun 2018, tercatat sekitar delapan juta hektar area lobang bekas galian tambang batu bara yang belum direklamasi. Area tersebut milik perusahaan besar dan tambang rakyat. Seluas lima ratus hektar area terindikasi tanpa izin. Bahkan perusahaan telah diminta menyetor uang jaminan untuk biaya reklamasi.

Lain lagi di Sanga-Sanga Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Lima rumah warga dan jalan utama desa amblas pada November 2018. Hal ini disebabkan karena dekatnya lokasi tambang dengan permukiman dan fasilitas umum. Sedikitnya 41 jiwa mengungsi.

Tokoh dibalik musibah ini ialah PT Toba Adimitra Baratama Nusantara. PT ini merupakan salah satu anak perusahaan dari PT Toba Bara Sejahtera yang sebagian sahamnya milik Luhut Panjaitan.

Menurut data dari laporan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), ada empat perusahaan terkait keluarga Luhut memiliki 50 lobang tambang yang masing-masing dikelola oleh PT Adimitra Baratama Nusantara, PT Thisense Mineral Utama dan PT Indomining.

Juga ada PT Kutai Energi, anak perusahaan dari induk Grup Toba Sejahtera. Total lahan konsesi yang dikuasai perusahaan yang terafiliasi dengan Menteri Koordinator Kemaritiman ini berjumlah empat belas ribu hektar.

Kepemilikan tambang batu bara hanya dimiliki oleh sekelompok elit penguasa yang itu ke itu saja.

Diluar dari pada tu, PT Buana Tambang Jaya akan membuat sebuah pertambangan batu bara di Pangkalan Kapas Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Riau. Menurut Suryadi, dari Mongabay yang pernah meliput soal ini katakan, bahwa izin eksplorasi dan operasi nya sudah keluar pada 2017 dengan konsesi tiga ribu hektar.

Terdapat kecacatan pada dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau AMDAL pada PLTU ini. Dimana harusnya dibuat berkapasitas 2 x 100 Megawatt, namun kenyataannya 2 x 110 Megawatt. Saat ini, bahan bakunya dibawa dari Palembang dan Peranap (PT Samantaka).

Kenegerian Pangkalan Kapas berada di Kecamatan Kampar Kiri Hulu. Hutannya masih ‘perawan’ serta sungainya yang bersih. Juga, keanekaragaman hayatinya yang masih terjaga dan dilindungi.

Berdasarkan temuan PT Buana Tambang Jaya, ada singkapan bekas galian tambang batu bara di salah satu desa di Pangkalan Kapas. Tepatnya Desa Kebun Tinggi. Dilansir dari Mongabay.co.id, arah sebaran singkapan batubara umumnya dari barat laut ke tenggara dengan kemiringan 21 – 30 derajat dalam ketebalan 1,8 sampai lebih tiga meter.

Marhalim Zaini selaku Penggiat Seni Lingkungan himbau masyarakat untuk berpikir keras terkait solusi dari masalah ini. Karena baginya, jika tidak memakai batu bara ternyata sulit dan mahal.

“Lalu maukah kita kembali memakai lampu teplok? Seperti yang tadi sekilas ada dilihat.”

Dalam sisi filmnya bagi Marhalim perannya sudah baik. Meskipun yang diperlihatkan angle yang menarik saja.

“Memang mereka nyata. Suara kecilnya dapat,” tambah Kepala Suku Seni Riau tersebut.

Berhubung ia bergelut di dunia seni, Ia menyuarakannya lewat seni. Juga, bekerjasama dengan para pegiat lingkungan. Menurutnya, seni merupakan medium efektif para seniman untuk menyampaikan aspirasi. Saat ini ia tengah menggarap teater berjudul Agama Sungai. Lalu, akan ada Festival Seni Ekologi tahun ini.

Minggu (14/4), Film Sexy Killers resmi dirilis secara online di kanal Youtube WatchDoc Image sebab banyaknya permintaan publik. Hingga Sabtu (20/4), film ini sudah ditonton 16 juta kali.

Penulis: Annisa Febiola

Editor: Ambar Alyanada

Tak Sampai Target, Pemira Berujung Aklamasi

Previous article

Rumah Kaca atau Rumah Hantu?

Next article

Comments

Leave a Reply