foto : Wila
BeritaKampus

Tanggapan Soal Sistem Buka Tutup UR

0

Penetapan system baru, gunakan kartu Barrier Gate (BG) bagi pengguna kendaraan dapat tanggapan dari mahasiswa. “Sistem BG masih tidak efektif,” papar Abdi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politi Universitas Riau (FISIP UR). Ia katakan, mahasiswa yang tidak terdaftar juga bisa masuk karena manfaatkan teman—pinjam kartu pada yang sudah terdaftar. Kendaraan juga tidak aman. Jika ada yang ingin mencuri sepeda motor tetap tidak terlalu masalah. Karena kartu bisa di pinjamkan. “Jadi mereka bisa lebih leluasa berniat jahat,” jelas Abdi.

Afni Bupati Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (PAUD FKIP) merasa sangat terganggu di waktu. “Titik portalnya cuma ada empatnya,” jelasnya. Harusnya portal lebih cepat dan dibanyakin. Ia juga menambahkan, kualitas portal saat ini tidak bagus, waktu membuka lambat dan ganggu mahasiswa yang buru-buru.

“Itukan maunya mahasiswa,” tutur Ekki Gaddafi selaku Kepala Bagian Umum, Hukum dan Tatalaksana dan Perlengkapan Universitas Riau (Kabag UHTP UR). Ia katakan, kenapa mahasiswa salahkan system. Tidak mau lagi pake karcis kuning,  alasan kuno dan anggap system zaman batu.

Jika masalah waktu terganggu sederhana saja, kita mikirnya itu tergantung dari mahasiswa. Harusnya mahasiswa lebih tanggap karena jika masuk cepat harus atur waktu sendiri. “Itu masalah dikembalikan saja pada mereka sendiri,” ujar Ekki.

Ia juga katakan, system itu belum selesai karna masih tahap pengenalan. Sehingga mahasiswa masih bisa meminjam kartu BG temannya. “Kedepannya tidak akan ada lagi kelonggaran,” jelasnya. Sebentar lagi akan dibuat BG di tiap fakultas, pengamanan lebih ketat dan terkontrol.

Santari selaku Security yang ditempatkan di parkir FISIP mengaku belum dengar informasi akan diberlakukannya kartu BG di tiap fakultas.  “Kami belum dapat informasi dari pihak universitas tentang diberlakukannya system itu,” ungkapnya. Menurut saya, jika diberlakukan akan makan waktu yang lama, karena akan ngurusin tempat parker di tiap fakultas.

Berlakunya system BG buat mahasiswa tidak was-was.  “Kami jadi tenang jika lagi kuliah, karena kendaraan kami aman dari pencurian,” ungkap Zulfayani, Mahasiswa FISIP. Tidak hanya itu, orang yang masuk ke wilayah UR bukan orang sembarang lagi. System BG ini, kami boleh keluar masuk kampus pada malam hari—mahasiswa yang ikut organisasi rapat hingga malam. “Mereka bisa lebih leluasa untuk beraktifitas dikampus pada malam hari,” tambah Zulfayani.

Ekki berpesan jangan beranggapan yang tidak baik. Jangan salahkan system tapi kultur yang harus dirubah. Terlambat bukan alasan yang dapat diterima karna mereka sendiri yang tidak tanggap. Harusnya kita sendiri yang ubah kebiasaan. Tujuan BG itu untuk filter dan tetapkan keamanan. Kalau tetap ada yang kemalingan, mau bagaimana lagi. Maling itu selangkah lebih maju dari kita.  Ekki berharap mahasiswa  ikuti peraturan yang telah dibuat dan jangan banyak tanggapan yang tidak baik. #Wilingga

Agenda Pembangunan Pasca-2015: Akankah Suara Orang Lapar Didengar ?

Previous article

Yudisium FH UR ke 23 dan 24

Next article

Comments

Leave a Reply