Mendalami Gaya Tulisan Feature Bersama Mawa Kresna

Mendalami Gaya Tulisan Feature Bersama Mawa Kresna/Dok. Pribadi

Lembaga Pers Mahasiswa Bahana Mahasiswa Universitas Riau (LPM Bahana Unri) kembali taja Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) Kenal Sastrawi X. Mengangkat jurnalisme investigasi, kegiatan bertajuk Kupas Fakta Hingga Tuntas yang berlangsung di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Riau (BPSDM) pada Rabu sampai Minggu, 10-14 Juni 2026.

Sepuluh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dari berbagai wilayah di Indonesia hadir sebagai peserta. Hari pertama dibuka dengan pemateri dari editor Project Multatuli, Mawa Kresna. Ia paparkan materi feature sebagai tulisan yang menggali informasi secara lebih mendalam.

Pria asal Jogja itu menyoroti industri media saat ini semakin jarang memproduksi tulisan berjenis feature. Sebagai gantinya, media daring lebih banyak menyajikan berita dalam format straight news karena tuntutan kecepatan penyampaian informasi. 

Sesi kedua materi dimulai esok harinya. Masih bersama Mawa Kresna, peserta mengikuti pembahasan bertajuk Merancang Tulisan Feature

Ia memaparkan konsep dasar hingga teknik pengembangan feature, juga perbedaan antara straight news dan feature. Menurutnya, straight news cenderung menyajikan informasi secara langsung di permukaan, sementara feature memungkinkan jurnalis menggali cerita secara lebih mendalam.

“Kalau straight news pembahasannya di permukaan saja, tapi kalau feature bisa diulik sampai ke dalam-dalamnya,” ujarnya menjelaskan saat sesi berlangsung.

Lebih lanjut, ada sembilan unsur penting dalam feature. Mulai dari tema, fokus, tokoh, latar, adegan, detail, konflik, alur, dan sudut pandang. Menurutnya, unsur-unsur tersebut menjadi fondasi dalam merancang sebuah tulisan feature

Feature yang kuat tidak dimulai dari kalimat indah. Feature yang kuat dimulai dari rancangan cerita yang jelas,” ujarnya.

Sebagai praktik, alumnus Universitas Negeri Yogyakarta itu menugaskan peserta membuat tulisan profil feature. Para peserta pun dibagi ke dalam beberapa kelompok berpasangan. Mereka diminta untuk saling mewawancarai pasangan kelompok dan menulis profil mereka menjadi tulisan feature, yang kemudian dibedah bersama-sama.

Sesi ketiga bersama Kresna membahas teknik menyusun lead. Lebih dalam ia menjelaskan bagaimana cara mengembangkan detail temuan lapangan, merangkum keterangan narasumber, hingga membuat penutup tulisan yang berkesan.

Ia menekankan agar penulis mempunyai arah dan emosi tulisan yang jelas sebelum mulai menyusun draf. Menurutnya, persiapan tersebut penting agar tulisan memiliki alur yang terarah. “Jadi sebelum kalian memulai bikin lead, kalian tuh harus sudah punya suatu emosi yang sudah  jelas,” ujar Kresna. 

Jurnalis Project Multatuli tersebut juga mengatakan, penulis perlu memetakan beberapa unsur penting. Seperti kutipan utama, struktur alur, hingga akhir cerita (endgame) sebelum masuk ke tahap penulisan.

Pada materi tersebut, Kresna pun membahas teknik menyusun ending tulisan. Ia menjelaskan beberapa cara membuat penutup yang kuat, seperti mengulang adegan awal, menggunakan kutipan penting, menampilkan kontras, kembali ke premis awal, atau meninggalkan pertanyaan bagi pembaca.

Menutup sesi, Kresna menjelaskan bahwa penggunaan gaya bahasa dalam jurnalistik bertujuan memperkuat penyampaian fakta, bukan sekadar memperindah tulisan. 

Pewarta: Aisyah Sakinah Wardani, Atika Sofia, Zahira Rizka Mahdi
Penyunting: Muhammad Naufal Ihsan