“Pergi lah dulu, saya masih mau lihat air naik.”
Pada malam kejadian, tepatnya Selasa, 26 November 2025 dini hari beberapa warga tengah duduk di pinggir Bendungan Karet Krueng Peusangan. Permukaan air semakin naik, mereka berangsur pergi dari tepi bendungan. Tak termasuk pria berusia 56 tahun yang masih memantau air di tepi dam meski sudah diajak beringsut.
Lima belas orang tidak cukup mengajaknya beranjak dari sana meski air sudah seperti air ombak, bergulung-gulung. Sedang yang lain telah pergi dari sana. Hingga kini keberadaannya masih belum diketahui.
Lima hari belakangan, hujan tak henti-hentinya turun. Debit air mulai naik dengan cepat. Mereka gundah melihat kondisi air sungai Krueng Peusangan yang kian meluap. Pun dari arah belakang, luapan persimpangan sungai kampung atau Gampong Pantee Lhong telah menggenangi jalanan. Akses jalan keluar dari Gampong Kapa jadi putus. Setidaknya begitulah situasi genting yang dialami pemukim Kampong Kapa, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.
Keuchik sebutan untuk Kepala Desa Gampong Kapa, Evendi pada pukul 03.20 pagi segera bergerak menuju Meunasah atau Musala Kapa. “Bangun, air sudah naik ke atas!” Suaranya bergema, membangunkan beberapa yang masih tertidur pulas.
Satu per satu rumah warga pun ia ketuk. Evakuasi dilakukan dengan cepat, mengingat air terus meluap dari dua arah mengepung gampong mereka. Beberapa dari warga yang telah sadar akan situasi berhasil meninggalkan gampong. Sementara yang lainnya terjebak akibat debit air kian naik hingga menutupi akses jalan.
“Pak Keuchik, kemana kita?” tanya seorang warga dengan panik. Sekitar 129 kepala keluarga berhasil dievakuasi. Evendi hanya memikirkan satu tempat pada saat itu, Meunasah Kapa.

“Ada Rumah Allah. Kalau di ambil, ambillah bersama Rumah Allah,” jawabnya dengan pasti. Bersama seluruh warga Gampong Kapa mereka mengungsi ke bangunan sederhana itu. Gaya bangunanya memang terbuka tanpa jendela atau pintu, tampak semi-outdoor.
Dua hari dua malam terjebak di Meunasah Kapa, membuat mereka terpaksa bertahan hanya dengan meminum air hujan tanpa makan. Sedangkan anak balita bertahan dengan minum susu formula dan air mineral yang sempat dibawa.
Beberapa warga, anak-anak, hingga orang tua yang tidak mampu berenang diungsikan di atap meunasah. Tangga besi yang disambung di atas mobil pick-up jadi alat bantu. Sementara warga lainnya tetap berada di dalam, menyaksikan derasnya air banjir menerjang kebun dan rumah-rumah warga.
Seorang wanita paruh baya, Siti Halimah tetap berada di dalam meunasah. Dikarenakan lututnya yang sakit, ia tak dapat naik ke atas. Pada akhirnya ia memutuskan untuk mengurus anak-anak bersama beberapa orang. “Ada satu ibu-ibu yang tak bisa bangun lagi,” jelasnya melanjutkan cerita pada Senin, 19 Januari 2025.
Bertahan selama itu sudah sangat berat baginya, namun harus menenangkan anak-anak yang kian merengek kehausan adalah persoalan baru lagi. Cucunya baru menginjak kelas tiga Sekolah Dasar bersama sang adik yang masih balita. “Mi, minta air. Lapar,” ujarnya menirukan perkataan cucunya.
“Sebentar lagi datang Tim SAR [Search and Rescue] kata Pak Keuchik,” bohong Siti mencoba menenangkan hingga cucunya terlelap. Kala ia bangun, hal yang sama kembali ditanyakan kepada sang Nenek. “Mi, dah ada orang Tim SAR datang bawa makanan?”
“Belum, dak [Tim SAR tidak] bisa jalan. Banyak air,” ucap wanita yang juga Kepala Dapur Umum Pengungsian Gampong Kapa itu. Dengan terpaksa mereka menampung air hujan untuk membuat susu. Sementara beberapa anak termasuk cucu Siti hanya mampu tidur sambil menangis menahan lapar dan haus.
Tiba hari Jumat kala air mulai surut, tersisa lumpur setinggi paha orang dewasa. Bantuan air mineral datang dari seorang warga, Pak Subarni namanya. Siti tertawa saat menceritakan kembali betapa gembiranya warga saat menerima air layak minum, meskipun satu gelas air harus dibagi empat orang. “Kami loncat-loncat nampak Aqua [air mineral],” tawanya berlanjut.
Di lain sisi, Evendi memutuskan untuk mengungsi ke Gampong Raya Dagang bersama beberapa warga. Berjalan kaki menempuh perjalanan sejauh dua kilometer, dengan harapan agar mendapat bantuan. Mereka bertahan selama dua hari di sana. “Supaya ada penerus nantinya. Kami keluar mencari solusi,” jelas Keuchik Gampong Kapa itu.
Sempat juga terjadi pertingkaian antar warga saat mengungsi. Pada akhirnya Evendi bersama warga Gampong Kapa memilih untuk pulang. Tidak dengan tangan kosong, mereka beranjak dari Gampong Raya Dagang dengan beras seberat 100 kilogram dari kantor camat setempat. Setengah dari berat tersebut mereka konsumsi bersama di tempat. “Masyarakat sudah menunggu dan mereka sudah sangat kelaparan. Berasnya dimasak terus,” ujarnya.
Siti membenarkan hal itu, sebab dirinya sendiri yang memasak tanpa henti menggunakan satu kompor yang masih dapat digunakan. Beruntung mereka masih bisa menemukan kompor yang berfungsi dan sekarung beras di salah satu rumah. Kendati kondisi bekas banjir dan lumpur, beras tetap dimasak demi bertahan hidup.
“Nyuci beras harus ngambil ke sungai. Kencang kali ngalirnya [air],” kata Siti. Banyak warga yang mengantri berharap beras bisa segera menjadi nasi dan dapat dimakan. Meskipun tidak ada lauk atau piring sebagai alat makan. Dengan terpaksa mereka makan dari tangan mereka sendiri.
“Anak-anak dah [sudah] nangis semuanya. Nasi tok digenggam, makan kek [seperti] kue,” ucapnya sembari mengepalkan tangan, meniru bagaimana warga harus bertahan dengan bahan makanan seadanya pada saat kejadian. Siti termasuk beruntung, rumahnya tetap berdiri meski tertimbun lumpur.
Berbeda nasib dengan Jamilah, rumah yang ditempatinya itu berada tak jauh dari Sungai Krueng Peusangan dan sudah rata dengan tanah. “Kalau mau cerita sedih banget. Udah ga [tidak] ada apa-apa lagi,” lirih suara wanita yang kerap berjualan mie di persimpangan tak jauh dari Bendungan Karet.
Ia termasuk salah satu warga yang berhasil meninggalkan desa sebelum banjir menutup akses jalan. Lima hari ia dan Badriah, warga yang juga biasa berjualan di sekitar bendungan harus mengungsi ke tempat lain.
Jamilah beruntung bisa keluar pada malam kejadian. Saat itu debit air sudah menyentuh leher, tak banyak yang bisa diselamatkan. “Beres-beres anak, keluar aku,” ucapnya. Ia mengaku sempat tidur di depan kios orang demi bisa bertahan. Tanpa uang sepeser pun, ia tidak bisa beli apa-apa.
Saksi Mata dari Titik Pertama Luapan

Sekitar tujuh menit perjalanan dari Gampong Kapa, Martini yang merupakan Bidan Desa Pantee Lhong harus merelakan harta benda miliknya saat air pertama kali meluap. Dataran di tempat ia tinggal memang lebih rendah, tak jauh dari Sungai Krueng Peusangan.
“Kebetulan yang pertama naik air di daerah saya,” jelasnya. Hujan memang sudah turun delapan hari sebelum kejadian. Sekitar pukul setengah dua malam, air sudah menyentuh leher. Ia sungguh tak dapat tidur tenang pada malam itu.
Tanpa pikir panjang ia langsung membangunkan anak-anaknya. Rencana awal mengungsi bersama mobil mereka pun tak dapat dilakukan, saat pagar rumah mereka tak sanggup dibuka. Bersama suami dan dua anaknya, mereka harus berlari menuju dataran yang lebih tinggi. “Kami lari pun ga [tidak] jauh kali. Sejauh mobil itu lah,” ujarnya menjelaskan dan mengira-ngira jarak yang tak sampai 50 meter.
Jam setengah enam pagi, saat air makin naik, keluarganya harus kembali mengungsi. Hingga pukul dua siang baru ada kapal evakuasi. Ia bersama dua anaknya, suami, dan balita di evakuasi ke jalan besar.
Bidan itu mengungkapkan dua orang meninggal dunia di dekat daerah ia tinggal. Salah satunya seorang balita berusia satu bulan. Tak jauh dari lokasi ada bangunan pesantren dengan pondok tinggi dan Taman Kanak-Kanak yang didatangi oleh korban, berpikir tempat tersebut aman. Tak dapat dihindari pesantren yang mereka jadikan tempat berlindung pun rubuh, mengingat arus air yang kuat di tempat.
Sempat mencoba menyelamatkan diri dengan upaya naik ke atas atap TK, namun rubuh juga. “Rubuh lagi [TK] akhirnya mereka kepencar semua dibawa arus,” kata Martini.
Genap Dua Bulan Warga Masih Bertahan
Hingga kini beberapa warga baik di Gampong Kapa maupun Desa Pantee Lhong masih membersihkan rumah mereka dari lumpur. Sedangkan yang lainnya harus merelakan tempat tinggal mereka dan menetap di rumah keluarga atau tenda pengungsi.
Jamilah merasa sangat sedih atas kejadian yang menimpa dirinya dan keluarga. Suaminya sudah meninggal 18 tahun silam, dan sekarang ia sudah tak punya apa-apa lagi. Badriah juga demikian, mereka berdua biasanya akan berjualan kala memasuki bulan suci Ramadhan. “Biasanya kami jualan buka puasa, ini sekarang dak [tidak] ada lagi,” jelas Jamilah.
Posko Pengungsian Gampong Kapa tepat berada di meunasah. Di seberangnya ada Dapur Umum Pengungsian. Setiap hari tidak pernah sepi meskipun kebanyakan dari warga telah pulang ke rumah masing-masing. Siti sebagai Kepala Dapur Umum tidak pulang ke rumahnya atas keinginan pribadi.

Ia sudah duduk di pondokan sederhana yang jadi tempat mereka memasak sejak bencana banjir terjadi. Tempatnya sederhana, tapi tak pernah sepi dari aktivitas sejak pagi hari. Wanita paruh baya itu akan mulai masak bersama ibu-ibu lainnya sesuai giliran jadwal yang dibuat. Kendati sudah kembali pulang ke rumah, warga akan tetap selalu datang dan berkumpul di posko sembari menyantap sepiring nasi dan lauk yang sudah disiapkan oleh Siti dan ibu-ibu lainnya.
Pewarta: M. Rizky Fadilah
Penyunting: Amelia Rahmadani

