DiaSempena

Jatuh Bangun Ramy Kejar Medali

0
Ramy Fitrah Izzah

Sejak SD sudah ikut lomba olimpiade. Pada ajang KN MIPA 2020 lalu, ia satu-satunya peserta dari luar Jawa yang dapat medali.

Oleh Malini

Empat soal disuguhkan dalam satu materi dengan durasi dua jam. Tes berlangsung selama dua hari. Mekanika Klasik dan Elektrodinamika jadi materi pokok yang pertama diujikan. Hari berikutnya, Termodinamika, Fisika Statistika, Fisika Modern dan Mekanika Kuantum.

Ramy sempat alami kendala dan merasa pesimis mendapatkan poin yang diinginkan. “Hari pertama saya pikir hanya menjawab 50 persen, jadi udah ngerasa enggak yakin bisa jawab soal berikutnya,” ujarnya.

Menjelang tes hari kedua, Ramy menelepon ibundanya. Segala kekhawatiran ia curahkan. Dukungan dan doa tiada henti dipanjatkan. Ia pasrahkan semua pada Tuhan.

Tes kedua cukup membuatnya terkejut. Pasalnya, soal yang biasanya berkali lipat lebih sulit dapat ia kerjakan dengan lancar.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini kompetisi dilakukan dalam jaringan (daring). Namun, hal ini tak menyurutkan rasa haru dan bahagia ketika namanya diumumkan sebagai salah satu peraih medali perunggu di Kompetisi Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atau KN MIPA 2020.

KN MIPA sebelumnya dikenal dengan Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ON MIPA). Terdiri dari bidang Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi yang diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia. Kompetisi ini merupakan ajang bergengsi dari Kementerian Pendidikan dan kebudayaan setiap tahunnya.

Ramy Fitrah Izzah—mahasiswi Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Riau angkatan 2017. Ia terpilih jadi satu–satunya perwakilan UNRI di kompetisi KN MIPA tingkat nasional.

Ramy anak sulung dari empat bersaudara. Putri dari pasangan Afrizal dan Dewi Diananda ini bukanlah berlatar belakang keluarga pendidik. Ibunya seorang Ibu Rumah Tangga, sedangkan ayahnya bekerja di kebun sawit. Namun, kedua orang tuanya memandang pendidikan begitu penting.

Dewi akui, anaknya memang gemar membaca dan belajar sejak kecil. Kesehariannya bayak dihabiskan bersama buku, membuat Ramy dijuluki ‘Si kutu buku’.

“Jangan terlalu fokus sama pelajaran. Ramy kan matanya minus, kalau terlalu dipaksakan takutnya bertambah,” kata Dewi mengulang ucapannya kepada Ramy.

Sejak di Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, Dewi ungkapkan bahwa Ramy selalu menjadi juara kelas, bahkan juara umum. Padahal, ia tak pernah memberikan kontrol belajar pada putrinya itu.

“Alhamdulillah bersyukur punya Ramy, prestasinya melambung. Dia bisa membiayai kuliahnya sendiri. Kadang dia yang bantu ayahnya,” pungkas Dewi ketika dihubungi via sambungan telepon.

Kala Sekolah Menengah Pertama, gadis Bangkinang ini berhasil masuk Olimpiade Sains Nasional (OSN) hingga mendapat penghargaan dari Bupati Kampar. Sejak itu ,Ramy mulai aktif ikuti olimpiade yang diadakan perguruan tinggi.

“Saat itu daerah saya enggak termasuk maju, jadi saat masuk tingkat nasional dapat hadiah antusias banget,” cerita Ramy.

Ramy pun mulai tertarik dengan fisika. Ia memiliki sudut pandang baru dalam mempelajari fisika. Namun, Ramy harus menelan kekecewaan saat duduk di bangku aliah. Impiannya harus pupus lantaran saat itu sekolah di bawah Kementerian Agama tidak diikutsertakan dalam olimpiade.

“Niat saat itu harus balas dendam untuk dapat medali emas di tingkat nasional, ternyata enggak dapat kesempatan karena MAN [Madrasah Aliyah Negeri] di bawah Kementerian Agama,” imbuh Ramy.

Tibalah ia di penghujung sekolah menengah. Kegemarannya pada fisika jadi alasan meneruskan jenjang kuliah di Jurusan Fisika FMIPA UNRI. Ramy mulai aktif mencari informasi olimpiade di kampus sejak berstatus mahasiswa baru. Tahun pertama perkuliahan menjadi debut pertamanya mengikuti KN MIPA.

“Saat dari maba [mahasiswa baru] udah dengar KN MIPA dari senior, jadi termotivasi buat menyiapkan diri sejak awal,” katanya.

Sayangnya, keberuntungan belum berpihak. Ramy tak lolos ke tingkat nasional. Meski sempat kecewa, kegagalan itu ia jadikan sebagai salah satu tolak ukur meningkatkan kemampuan agar dapat bersaing di kancah nasional.

Ramy akrab dengan belajar. Gemar membaca dan berdiskusi. Ia selalu berupaya menyempatkan belajar di sela-sela tugas dan organisasi. Hal ini diakui Maya Defrilyana—teman satu kamar indekosnya. Maya melihat sosok Ramy sangat giat belajar, terlebih jika akan menghadapi perlombaan dan ujian.

“Dia suka belajar, apalagi kalau fisika. Dia suka suka suka banget malahan. Saya tiap malam lihat dia belajar fisika sampai pusing.”

Meski begitu, Ramy tetaplah gadis pada umumnya, kata Maya. Yang jika jenuh, menghabiskan waktu dengan bersantai dan berkumpul bersama teman-temannya.

“Dia juga ada kok capek, jenuh. Biasanya dia nonton anime atau drakor [Drama Korea],” tambah Maya.

Setiap hari, jadwal belajar disusun Ramy sedemikian rupa. Meskipun semangatnya sempat naik-turun. “Kadang kita masih lalai. Setidaknya, dengan kita menulis jadwal menjadi pacuan ketika melihatnya.”

Tahun kedua perkuliahan, Ramy kembali ikuti seleksi KN MIPA. Kegigihan membawanya lolos ke tingkat nasional yang diselenggarakan di Makassar. Namun, medali yang diimpikan belum dapat ia bawa pulang.

“Saat itu yang didapat malah rasa kurang percaya diri, bahwa kita tidak mampu bersaing dengan anak-anak Pulau Jawa,” kenangnya.

Tak patah arang, Ramy kembali daftar KN MIPA 2020. Rangkaian kontes berlangsung pada 7 hingga 10 September.

Ramy menyukai Fisika sejak dulu, ia kerap ikuti olimpiade dengan banyak penghargaan. Ia merasa berkewajiban mendalami Ilmu Fisika. Lewat olimpiade, ia bisa dapatkan materi perkuliahan yang seharusnya baru ia terima di semester lanjut. Ia jadi sering membuka buku pelajaran sejak mengikuti berbagai olimpiade. Hal itu juga yang ia jadikan tolok ukur penyemangat belajar.

“Bukan karena kita pintar, kita ikut olimpiade. Tapi, karena kita ikut olimpiade lah kita jadi pintar. Dan seberapa lama kita bisa menyambungkan permasalahan, itulah kuncinya.”

Dari ribuan peserta pada seleksi awal untuk semua bidang, hanya 50 orang yang dapat berkompetisi di tingkat nasional. Ramy jadi mahasiswa FMIPA UNRI pertama yang membawa pulang medali KN MIPA.

Sejak dulu, penyabet medali kemenangan pada kompetisi ini selalu berdomisili di Pulau Jawa. Kali ini, ia satu-satunya penyabet dari luar Jawa, bahkan Sumatra. Ramy mengaku sebagian peserta adalah peraih medali di tingkat OSN.

“Mereka startnya udah di atas, rata-rata peserta nasional tingkat OSN. Kalau aku, mungkin baru dari nol atau bahkan minus. Jadi, memang harus benar-benar ekstra usaha.”

Meski sering berkecimpung dalam olimpiade, Ramy  juga kerap menjajal lomba lain. Tahun 2020 lalu, ia berhasil meraih juara tiga Lomba Debat Mahasiswa Tingkat Provinsi. Juga berhasil jadi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) 1 FMIPA dan Mawapres 3 tingkat universitas.

Tak hanya dalam perlombaan, Ramy juga aktif berorganisasi di kampus. Kini ia menjabat sebagai Kepala Divisi Potensi Pengembangan Akademik di Himpunan Mahasiswa Fisika FMIPA UNRI. Ia juga aktif di Komunitas Riset Fisika bersama teman-teman satu jurusannya.

Di sela aktivitas kampus, ia juga mengajar les privat anak sekolah pada malam hari. Baginya, setiap waktu yang ada harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Ia punya mimpi dan perjuangan yang besar. Setelah kini memasuki semester akhir, Ramy berencana fokuskan diri untuk Tugas Akhir. Usai meraih gelar sarjana, ia berharap dapat melanjutkan studi magister ke luar negeri dengan beasiswa.

“Kadang insecure punya mimpi besar karena merasa dari daerah, kan. Kayak nggak mungkin. Tapi, kita harus mengepakkan sayap selebar selebarnya,” tutupnya.#

Jurnalisme Warga di Tengah Sempitnya Ruang Penyaluran Media

Previous article

Gambus Selodang Warisan Negeri Istana

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *