Aliansi Mahasiswa Riau Gerah (AMARAH) melakukan demonstrasi di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD Provinsi Riau pada Rabu, 17 Juni 2026. Koordinator Lapangan, Bismi Diwa Alhamda menghitung estimasi massa dari Universitas Riau berjumlah kurang lebih 100 orang.

Aksi bertajuk Indonesia Sekarat Pemerintah Keparat itu membawa delapan tuntutan. Di antaranya desakan mencabut revisi Undang-undang Kepolisian Republik Indonesia, menghentikan kenaikan harga bahan bakar minyak dan harga bahan pokok, evaluasi total penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam Proyek Strategis Nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan Sekolah Rakyat.

Baca juga: BEM Fisip Unri Gelar Aksi Simbolik di Depan Gerbang Unri

Massa aksi juga menuntut penghapusan militerisme di seluruh sektor sipil. Kemudian evaluasi Menteri Keuangan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, dan Menteri Hak Asasi Manusia. 

Tidak hanya itu, mereka turut menggesa pemerintah agar tidak boros APBN melalui kunjungan presiden ke luar negeri. Serta melakukan evaluasi kebijakan yang menindas rakyat.

Bismi berharap tuntutan mereka didengar. Sebelumnya mereka telah melayangkan aspirasi ke Badan Aspirasi Masyarakat, namun nihil respons. “Dari aksi tidak ada kejelasan setelah itu. Kami minta komitmen DPRD,” ujar Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik itu.

Tuntutan Diterima hingga Apresiasi untuk Prabowo dan DPR RI 

Tiba pukul 12.50 WIB, massa aksi disambut oleh aparat kepolisian. Tuntutan mereka tidak muluk agar Ketua DPRD Provinsi Riau, Kaderismanto beserta jajarannya mau menjumpai barisan massa.

“Reformasi!” Mereka kompak merapatkan barisan, mendesak maju menembus aparat. Gesekan di antara keduanya tidak terelakkan, namun massa aksi tetap menuntut masuk.

Sampai pukul 14.40 WIB, Kaderismanto akhirnya datang menemui massa aksi. Ia duduk dan mendengarkan aspirasi demonstran meski gerimis membasahi.

Pria kelahiran Rupat itu mengatakan keterlambatan menemui massa aksi disebabkan oleh padatnya agenda dewan daerah. “Kami juga punya kesibukan, yang dalam rangka tentunya melayani masyarakat,” ujarnya.

Usai mendengar aspirasi yang dilayangkan beberapa demonstran, pukul 15.16 WIB Kaderismanto menandatangani tuntutan. Sempat diajak membuat video pernyataan sikap, untuk menolak program seperti MBG bersama mahasiswa namun ia mengelak. 

Ia hanya berjanji akan meneruskan tuntutan yang dibawa dalam aksi ke DPR Republik Indonesia. “Karena apapun yang menyangkut dengan kebijakan pemerintah pusat secara umum adalah [ranah] DPR RI,” katanya.

Lepas Kaderismanto menemui massa. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unri, Azhari menyerahkan dua plakat. Plakat pertama, penghargaan kepada DPR RI atas konsistensinya mendengar suara rakyat sebagai formalitas bukan prioritas. Plakat kedua berupa penghargaan terhadap Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto atas prestasinya sebagai presiden terplenger dalam memutuskan kebijakan negara. 

AMARAH Bawa Delapan Tuntutan dan Plakat Satire/Dok. Pribadi
Azhari menyerahkan plakat satire dan tuntutan kepada Ketua DPRD Provinsi Riau, Kaderismanto beserja jajaran/Dok. Pribadi

Salah seorang demonstran, Siti Nur Azura mengatakan sempat terjadi sikut-sikutan antara mahasiswa dengan aparat kepolisian. Kendati demikian, mereka tidak menghalangi massa untuk menyuarakan aspirasi.

“Aksi berjalan lancar. Walaupun memang tidak bisa dipungkiri ada dinamika-dinamika kecil yang terjadi. Namun tentunya tidak menjadi hambatan kita semua untuk melakukan aksi,” ujar Azura.

Ia berharap permasalahan yang ada di Indonesia saat ini dapat terselesaikan. “Kita berharap Indonesia kembali ke kondisi semula. Kita ingin banyak perbaikan-perbaikan terhadap kebijakan yang ada di Indonesia,” ucapnya.

Tim Medis Gabungan Siaga Beri Pertolongan

Pada aksi kali ini, AMARAH bekerja sama dengan Korps Sukarelawan Palang Merah indonesia (KSR PMI) Unri, BEM Kedokteran, dan Keperawatan Unri. Mereka telah bersiap-siap di lokasi sejak pukul 10.00 pagi, tepat di sayap kiri titik demonstrasi berlangsung.

Total ada 11 personel medis dikerahkan. Lengkap membawa peralatan medis seperti tabung oksigen, kayu bidai, tandu lipat, dan obat-obatan.

Anggota Tim Medis, Yuni mengantisipasi kemungkinan massa mengalami luka-luka, pingsan, hingga sesak napas. Pun dari BEM sendiri membawa tim medis yang masuk ke dalam barisan aksi. “BEM Unri kerjasama ke kami. Bersiap di sayap kiri, sesuai koordinasi dengan mereka,” jelasnya. 

Kala benturan dengan aparat terjadi, tiga mahasiswa mengalami cedera. Dua orang luka di lutut, sementara satu lagi mengalami lecet di kaki. Mereka segera dibawa mundur untuk mendapat pertolongan pertama. 

Dua mahasiswa yang mengalami cedera lutut memang berada di barisan depan saat massa memaksa masuk. Satu mengalami lutut terjepit, sementara yang satu terdorong mundur sampai kehilangan keseimbangan dan keduanya berujung terkilir.

Tim medis segera memberikan pertolongan dengan menyemprotkan pereda nyeri. Yuni bersama tim sempat menganjurkan agar mereka menggunakan perban elastis. Namun dua mahasiswa dengan cedera di lutut itu tetap memilih ke lapangan. “Walaupun mau turun lagi, kami menyarankan [mereka] untuk tetap di belakang. Supaya tidak semakin parah,” ujarnya.

Pewarta: M. Rizki Fadilah, Mutiara Ananda Rizqi
Penyunting: Fitriana Anggraini