Di Balik Semarak Milad, Mahasiswa Soroti Kolaborasi Unri dengan Nescafe

Universitas Riau (Unri) menggelar perayaan Milad ke-63 dengan tajuk 63 Tahun Universitas Riau Berdampak untuk Negeri pada Kamis, 23 Oktober 2025. Acara berlangsung di Open Space, Kampus Bina Widya, Panam. Total ada ribuan mahasiswa, tenaga pendidik, hingga alumni turut menyemarakkan ulang tahun Si Jantung Hati Masyarakat Riau.

Unri menggandeng Nescafe jadi penyokong tunggal pada perayaan milad kali ini. Keterlibatan merek kopi tersebut menimbulkan tanggapan beragam dari kalangan mahasiswa.

Ketua Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Ar-Royyan, Susilo M. Ridho mengatakan pihaknya mengetahui keterlibatan Nescafe dalam sponsor milad menjelang acara berlangsung. Ia menilai kerja sama tersebut kurang tepat karena perusahaan itu terafiliasi dengan Nestlé. Perusahaan asal Swiss yang berhubungan dengan Israel. “Kampus seharusnya lebih berhati-hati memilih sponsor,” tambahnya.

Susilo menyatakan lembaganya memilih untuk tidak hadir dalam kegiatan milad sebagai bentuk penolakan. Ia berharap universitas lebih peka terhadap isu sosial dan kemanusiaan yang tengah menjadi perhatian global. “Nilai moral dan kepedulian harusnya menjadi dasar dalam mengambil keputusan,” tuturnya.

Mahasiswa Hubungan Internasional, Mifa Melani Yenta Putri menyampaikan Nescafe menjadi salah satu sponsor utama dalam acara tersebut. Menurutnya, dukungan sponsor berperan besar dalam terselenggaranya berbagai kegiatan hiburan. Termasuk mengundang penyanyi Rizky Febian.

Namun Mifa juga menyoroti adanya isu boikot terhadap produk-produk Nestlé. “Karena mereka terafiliasi dengan Israel, seharusnya kampus juga peka dengan isu ini,” katanya.

Mifa menambahkan, meskipun sempat menikmati rangkaian acara dirinya tetap merasa perlu bersikap kritis terhadap kerja sama tersebut. “Jujur aku enjoy [menikmati] konsernya, tapi tetap ada rasa bersalah karena tahu sponsor utamanya Nescafe,” ujarnya.

Ia berharap pihak universitas dapat lebih selektif dalam menentukan mitra kerja sama di masa mendatang. Pihak universitas seharusnya tak hanya melihat segi keuntungan saja, tapi juga dari aspek moral dan nilai kemanusiaan. Mifa berharap mahasiswa harus berani bersuara ketika melihat hal yang dianggap kurang tepat.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Hermandra menjelaskan perbedaan pandangan di kalangan mahasiswa merupakan hal yang wajar. Dirinya memilih untuk tidak banyak memberikan tanggapan terkait isu tersebut. “Wajar jika ada pro dan kontra, karena tidak ada kegiatan yang disukai semua orang,” katanya.

Menurutnya, sebagian besar mahasiswa datang untuk menikmati acara dan suasana kebersamaan. Beberapa dari mahasiswa bahkan ingin Unri mengadakan acara seperti ini lagi. Ia merasa mahasiswa senang karena ada hiburan dan makanan gratis.

Hermandra juga bilang seluruh biaya penyelenggaraan Milad Unri tahun ini sepenuhnya ditanggung oleh sponsor, termasuk Nescafe. Terkait kerja sama, ia menjelaskan Aditya FM selaku media yang menjembatani pihak kampus dengan Nescafe. Ia juga mengakui bahwa waktu persiapan acara tergolong singkat, dengan komitmen awal menghadirkan sekitar 6.000 peserta. “Persiapannya sangat mepet, tapi acaranya berhasil dan ramai,” katanya.

Menurutnya selama perbedaan itu disampaikan dengan cara yang baik, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. “Ada yang pro, ada yang kontra. Yang penting kita saling menghargai pandangan masing-masing,” tutupnya.

Pewarta: Sandriana Dewi
Penyunting: Fitriana Anggraini