Malam 1000 Lilin, Peringati 90 Hari Kematian Kristopel

Tepat 90 hari meninggalnya Kristopel Butarbutar, Aliansi Peduli Bully Terhadap Anak menggelar Aksi Malam 1000 Lilin di Tugu Perjuangan Rakyat, Jalan Diponegoro, Pekanbaru pada Selasa 26 Agustus 2025.

Bocah yang akrab disapa Kris itu merupakan korban perundungan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 012 Buluh Rampai, Kecamatan Seberida, Indragiri Hulu, Riau. Pendamping Keluarga Korban, Viator Butarbutar mengatakan kepolisian menutup kasus ini sejak satu bulan lalu. “Aksi ini digelar sebagai bentuk kekecewaan keluarga korban dan masyarakat,” ucapnya.

Viator menilai pidana kasus perundungan yang dialami anak kelas dua SD itu sudah pasti. Terduga pelaku telah memberikan pengakuan. Pun mereka tahu tempat kejadian perkara. Ia mempertanyakan tindakan Polisi Sektor Inhu yang menghentikan penyelidikan. “Kami heran kenapa bisa seperti itu, di awal begitu antusias tapi setelah sampai di Polda malah dihentikan, ucapnya.

Ibu Korban, Siska Yuniati Sibarani berharap kasus ini mendapat perhatian presiden dan menteri terkait. Siska tak ingin ada korban lagi. Sudah tiga bulan sejak kematian sang anak, namun belum ada kelanjutan yang jelas dari kepolisian. “Kami hanya menuntut sedikit saja keadilan di negara ini agar kematian anak saya Kristopel tidak sia-sia dan tidak ada Kristopel lain lagi di luar sana,” ucapnya.

Sementara Ayah Korban, Gimson Butarbutar menolak hasil visum yang menyebut anaknya meninggal karena usus buntu. Jelas-jelas anak saya sudah dipukul, dihina, diejek agama dan sukunya. Polisi seenaknya saja menutup kasus anak saya,” ujar pria itu.

Gimson bilang terduga pelaku sudah mengaku di hadapannya, bahkan di depan orang tua mereka dan kepala sekolah.  Kejadian berlangsung di belakang sekolah. Kristopel ditendang dan dihina. “Kok hukumannya tidak ada?” kata Gimson.

Gubernur Riau, Abdul Wahid tak menghadiri undangan. Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Riau, Rudi Hartono mengatakan gubernur sedang ada agenda. Pihak mereka terus berkoordinasi dengan dinas terkait agar kasus serupa tak terjadi lagi. Ia turut berbelasungkawa atas kejadian yang Kristopel alami.

Pernyataan tersebut ditanggapi kecewa oleh Wakil Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Perlindungan Perempuan dan Anak, Rika Parlina menyinggung soal kehadiran Wahid di Pacu Jalur lalu. Ia menilai seharusnya Gubernur Riau juga bisa hadir. Kalau hanya perwakilan, kami sangat menyesal. Kami ingin berjuang sampai tuntas. Kalau tidak, mungkin ada aksi besar yang akan kami adakan lagi,” ujarnya.

Mereka menghidupkan lilin sebagai simbol doa, harapan, sekaligus perlawanan atas ketidakadilan. Massa aksi berdoa, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Ibu Pertiwi, serta membaca puisi.

Sekitar 100 massa aksi menghadiri kegiatan ini. Di antaranya Persatuan Wanita Kristen Indonesia, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Ikatan Keluarga Batak Riau, Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia, Yayasan Jaga Riau, dan mahasiswa.

Pewarta: Mai Sarah
Penyunting: Fitriana Anggraini