RehatUncategorized

Meramal Masa Depan Reformasi

0

Lahirnya reformasi tak terjadi secara tiba-tiba. Sejatinya, ada jejak panjang untuk mencapai cita-cita tersebut. Tercatat ada peristiwa utama yang jadi pakem dari lahirnya reformasi.  Antara lain aksi nasional mahasiswa bersama masyarakat yang menuntut turunnya Soeharto dari tampuk kepemimpinannya sebagai presiden pada 20 Mei 1998. Berbuah manis, esok harinya Soeharto mundur dari jabatan itu.

Dhyta Caturani aktivis sosial Purple Code Collective katakan, sebetulnya yang dikehendaki pada saat itu bukan hanya sebatas tumbangnya Soeharto dari kursi presiden. Ada harapan untuk Indonesia tanpa orde baru secara sistem. Bukan lagi hanya sebatas rezim.

Tak hanya itu, Dhyta bilang, kehendak untuk melahirkan perubahan mendasar tersebut semata-mata menghasilkan reformasi. Hal itu disinyalir untuk memoderasi, walaupun awalnya sempat dibumbui dengan buah manis.

“Reformasi sudah tidak layak dipertahankan jika ditelik dari kondisi hari-hari ini,” lanjutnya saat diskusi virtual bertajuk Perobohan KPK, Cengkeraman Oligarki, dan Masa Depan Reformasi yang diselenggarakan Sahabat Indonesian Corruption Watch pada (23/5).

Selaras dengan Dhyta, Roy Marthado selaku Redaktur Islam Bergerak, setuju bahwa reformasi tersebut telah mengalami pembusukan sejak awal. Ia juga kecewa atas tindakan radikal atau gerakan ekstra parlementer yang pro demokrasi hari ini, dianggap tidak tepat dan tidak konstitusional pada sebagian kalangan masyarakat.

Gus Roy–begitu sapaannya jelaskan, gerakan sosial juga jarang sekali menggugat Undang-Undang (UU) Pemilihan Umum yang menghambat gerakan rakyat. Ia pun menilai, hal itu dapat memberikan ruang kepada seseorang secara formil untuk berkontestasi, meski peluangnya kecil.

Hemat Roy, ia mengamini bahwa reformasi itu sebatas jargon saja. Artinya, substansinya sudah hilang.  Perihal oligarki, Gus Roy menjawab jika diskursus wacananya masih sangat nyata dan relevan. Paling nampak di sektor ekstraktif. Revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Mineral dan Batubara, dan Cipta Kerja merupakan satu paket.

“Ini betul-betul kerja yang sistematis, terencana, masif, duitnya gede, tohirnya besar di belakang, dan hampir gak bisa dikontrol oleh gerakan rakyat,” ungkapnya.

Hal serupa turut dirasakan Lalola Easter atau Lola, Peneliti Indonesian Corruption Watch. Lola memandang, kondisi sekarang sangat berat. Bahkan katanya, seolah-olah bangsa Indonesia berada di radius yang tak jauh dari masa lalu.

“Lebih tepatnya kembali mengulang sejarah yang lalu,” tambahnya.

Melemahnya KPK

Hadirnya KPK setelah masa orde baru, kata Lola, membuka harapan bagi masyarakat yang  saat itu haus kejujuran dari pemerintah. Publik pada akhirnya memiliki sentimen yang relatif lebih positif terhadap lembaga negara yang dapat dipercaya dari sebelumnya. Walaupun KPK sejatinya tidak bisa dikatakan sebagai juru selamat, namun kinerja dari KPK  mampu mengganggu kepentingan dari para oligarki.

Penghancuran lembaga anti korupsi ini jadi gerbong utama praktik oligarki yang semakin parah. Revisi UU KPK sebetulnya telah dicuitkan kisaran tahun 2011 hingga 2012. Namun munculnya masih sebatas wacana dan belum disentuh sedikitpun. Kemudian pada 2017 kembali masuk di program legislasi nasional. Tetapi bukan dibahas sebagai konteks formil di Dewan Perwakilan Rakyat, melainkan lebih ke arah sosialisasi draf.

Puncaknya, pada tahun 2019,  ada banyak dinamika yang mendukung untuk dilakukan revisi tersebut. Ketika itu terjadi aksi reformasi dikorupsi pada 23 hingga 24 September. Namun hanya satu dari tujuh tuntutan yang didorong sebagai bentuk dari protes dari publik.

Lola bilang, pelemahan KPK datang dari mereka para aktor yang telah melakukan pelanggaraan Hak Asasi Manusia terutama Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Ia melanjutkan, tetap ada harapan untuk punya negara yang bersih dari KKN. Caranya dengan menuntaskan pekerjaan rumah yang belum berhasil diselesaikan.

Orde Baru dan Pasca Reformasi

Ada peristiwa besar yang dicatat sebagai tuntutan. Hal itu jadi pengalaman sehari-hari setiap orang yang hidup dimasa orde baru. Semua lapisan masyarakat merasakannya, kecuali mereka yang berada di lingkaran kekuasaan. Seperti Talang Sari, Tanjung Periok, Timor Leste, hingga Papua.

“Kalau kita ngomong reformasi, saya rasa Papua sampai sekarang tidak pernah menikmati reformasi,” sambung Dhyta.

Ia juga ceritakan pengalaman pribadinya di masa itu. Kedua orang tuanya harus berbisik ketika berbicara politik di dalam rumah. Sebab, mereka tak mau sampai didengar oleh tetangga. Pada masa itu, kata Dhyta Soeharto diibaratkan  nabi yang namanya tidak boleh disebut beriringan dengan kata yang buruk.

Perbedaan antara orde baru dan pasca reformasi adalah, di masa orde baru para aktivis masih mendapatkan kemudahan. Semua kekuasaan dan oligarki terkonsolidasi dalam satu cangkang orde baru. Alhasil untuk membentuk aliansi-aliansi mahasiswa dan masyarakat lebih mudah. Singkatnya,  tuntutannya tiap orang masih sama, yaitu untuk menjatuhkan orde baru.

Sementara sekarang ini, semua nampak kebingungan karena induknya terpecah menjadi beberapa faksi. Namun, mereka tetap dalam lingkaran yang sama. Masing-masing bagian ini memiliki strategi yang bagus untuk mengumpulkan para pengikutnya. Hasilnya, politik menjadi terpecah belah.

“Kita tidak bisa melihat korupsi sebagai kegiatan maling duit saja, tapi korupsi ini merupakan kendaraan alat politik konsolidasi oligarki dan power corruption,” Tegas Dhyta.

Gus roy juga tambahkan, sampai di era reformasi ini bimbingan politik tidak berlangsung dengan baik. Sangat banyak masyarakat yang terlalu buta terhadap politik. Mereka  anggap semua kebijakan politik adalah demi kebaikan bersama. Bagi Gus Roy, rezim yang semakin formalistik ini membuat mudah untuk menggiring opini publik. Mereka yang berkepentingan seolah-olah sedang bekerja untuk rakyat.

“Yang sesungguhnya terjadi adalah dari pemodal, oleh pemodal, dan untuk pemodal. Bukan lagi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,” tutup Gus Roy.

Penulis: Almuhaimin Kembara Elmarbuni

Editor: Andi Yulia Rahma

Kilas Balik UNRI di Masa Reformasi

Previous article

IKA UNRI Siap Gelar Kongres ke-5

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *