AlumniDia

Raja Ritel dari Sungai Piring

0
Wan Muhammad Hasyim/ Foto: majalah.tempo.co

Jatuh bangun Wan Muhammad Hasyim ketika mengelola bisnisnya. Kini usaha retailnya sudah menjamur hingga 85 gerai di Pulau Jawa.

Oleh Raudatul Adawiyah Nasution

Wan Muhammad Hasyim atau akrab dipanggil Suhu Wan merupakan lelaki kelahiran Sungai Piring Kabupaten Indragiri Hilir. Ia pemilik retail bernama Idolmart.

Toko ini Ia buka dengan konsep Palugada alias Apa lu mau gua ada. Menjual berbagai benda, seperti mainan anak-anak, kosmetik, alat tulis, pakaian dalam hingga peralatan elektronik. Kadang, ia juga kerap bingung menjelaskan kategori toko nya.

Pertama kali Wan membuka toko itu Februari 2007.

Ketika itu ia baru saja bangkrut dan sedang tinggal di rumah keponakannya di daerah Tambun—tempat Wan pertama kali membuka Idolmart.

Ia dan Yengki Fujiati—istrinya, sedang menikmati pagi di komplek sekitar rumah itu dengan menapaki Jalan Mangunjaya, sekaligus mencari toko untuk dkontrak. Tapi sepanjang jalan yang ditelusuri, tidak ditemukan yang cocok.

Keduanya putar arah, kembali pulang. Lalu Ia menemukan toko tertutup tanpa ada tulisan ‘dikontrakkan’.

Wan bertanya ke tetangga toko. Ternyata memang dikontrakkan. Ia menelepon pemiliknya dan langsung buat janji temu. Dua belah pihak adakan tawar menawar harga. Hasilnya 20 juta pertahun. Tapi Wan minta undur pembayaran hingga tiga bulan ke depan, karena tidak punya uang.

Mulai dari sinilah kesuksesan Idolmart dimulai. Wan sudah meraup keuntungan sejak hari pertama. Hingga sepuluh tahun kemudian Ia membeli bangunan disebelahnya untuk memperlebar toko. Awalnya hanya seluas 80 meter persegi kini sudah menjadi 340 meter persegi. Cabangnya hingga hari ini juga sudah 85 gerai. Tersebar di beberapa kota di Pulau Jawa.

Lelaki alumni Universitas Riau ini punya teknik sendiri untuk memulai bisnis yang langsung untung.

Pertama adalah pemilihan lokasi yang strategis. Wan menilai kawasan strategis dengan caranya sendiri, yaitu melihat apakah kawasan itu sering dilewati banyak orang atau tidak, sesuai ukuran minimal yang ditetapkannya. Ia memiliki tim survey khusus, kerjanya menghitung jumlah motor dan mobil yang melintas dalam hitungan menit. Lalu melihat perbedaan jumlahnya pada hari biasa dan hari minggu.

Cara gampang menentukan jalan itu ramai atau tidak bagi Wan adalah dengan berjalan bolak-balik sebanyak tiga kali. “Jika selama tiga kali tidak menoleh kiri dan kanan, berarti jalannya memang sunyi,” sahut pria bersuku Melayu ini.

Selain itu posisi toko tidak boleh terhimpit. Soalnya bisnis ini bersifat pasar, tuntutannya harus dapat terlihat dari radius tertentu. Beda halnya jika usaha pabrik atau industri.

Kemudian melihat jumlah penduduk— minimal ada 3000 kepala keluarga di sekitar toko beserta kemampuan beli setiap keluarga tersebut. Idolmart memilih perumahan yang kemampuan belinya lebih tinggi. Juga, tokonya harus menjangkau sekolah. Hal ini berhubungan dengan strategi ke tiga, yaitu mengenali konsumen. Bagi Wan, tempat menuntut ilmu adalah patokan bisnis. Baik kampus atau sekolah. Ia akan menghitung jumlah orang yang bersekolah.

Setelah faktor yang disebutkan tadi selesai, akumulasikan semuanya dengan minimal hasil 75 persen.

Semua faktor belum tentu ideal. Ada faktor terakhir yang menentukan yaitu visualisai. Wan akui bahwa sebenarnya hanya insting yang menjadi penentu. “Jika setelah mendatangi toko dan tidak menemukan bayangan kesuksesan, maka tak bisa saya lanjutkan,” sahutnya.

Tahun 2005, Suhu Wan pernah mengalami kebangkrutan. Hal yang lazim menimpa seorang pengusaha. Bertepatan tiga bulan setelah kisah bisnisnya terbit di salah satu majalah dengan tajuk Sukses Karena Ngutang. “Sebab ditulis ngutang kali,” guraunya sambil tertawa.

Lelaki tamatan Akuntansi UNRI ini membuka satu kios berukuran tiga kali enam meter. Menjual jasa fotokopi dan alat tulis.

Sambil bekerja di salah satu perusahaan sebagai Manager Accounting, Ia membuka kios dengan modal hutang sebanyak 35 juta. “Mau keluar dulu gak berani, makanya saya sekaligus, sambil jalan aja,” kenang Wan.

Wan mendapatkan modalnya dari pinjaman kepada istri—hasil menjual perhiasan, lalu ke kakak ipar, abang dan adiknya. Terakhir Ia pinjam ke kantor tempatnya bekerja dan kredit tanpa agunan.

Selama dua tahun sejak tahun 2000, Ia overlap— antara kerja dan bisnis Ia lakoni dalam waktu bersamaan. Wan sudah membuka tiga toko, lalu berhenti bekerja. “Karena penghasilan sudah lebih dari gajilah,” sahutnya.

Barang yang dijualnya pun bertambah. Tadinya hanya menjual alat tulis, kini sudah bercampur dengan mainan anak-anak, untuk melengkapi permintaan bungkusan kado ke pesta ulang tahun sekaligus isinya. Karena lebih menarik, akhirnya Wan buka Toysmart, malah tak jual alat tulis lagi.

Hingga tiga tahun berikutnya, cabang Toysmart sudah menjadi 36 sebelum kawanan penagih hutang mendatangi rumahnya di Cikarang Baru, Bekasi. Penagih hutang itu bermacam-macam asalnya, ada yang dari Bank hingga pemasok barang. Ketika itu beberapa kali Wan tidak di rumah, pihak penagih hutang tersebut pun menerobos dan menutup paksa tokonya. Karyawan juga dipaksa keluar.

Toko mainan anak-anak yang menjadi tumpuan terakhir pun tamat. Termasuk lima toko di mal yang sempat Ia buka juga. “Karena mainan itu pasarnya kurang kuat dan sistemnya musiman, kalau tidak musim, tidak laku.”

Usai musibah itu, Wan tinggal berpindah-pindah. Mulai dari menumpang di rumah kakak ipar, rumah adik hingga rumah keponakannya di Tambun. Sampai Ia membuka usaha yang sukses tersebut.

Kegigihan Wan untuk menjadi pengusaha tidak lepas dari pengalamannya sejak sekolah. Anak dari pasangan Cik Ahmad dan Nur Jani ini sudah mandiri soal finansial sejak mengenyam pendidikan di sekolah kejuruan. Mulai dari jualan rokok sampai kerja di rumah pemotongan hewan di Pekanbaru.

Hingga masuk kuliah Fakultas Ekonomi Universitas Riau Ia menjadi pengajar di Lembaga Pendidikan Bina Profesi selama tiga tahun sejak 1992. Upahnya mengajar dipakai untuk biaya kuliah. “Malahan saya kalau gak kerja, gak bisa kuliah,” kisahnya saat isi seminar pemberdayataan alumni Universitas Riau di LPPMP 22 April lalu.

Hal ini juga yang memberikan gelar ‘suhu’ pada panggilannya. Julukan itu berasal dari teman-teman kuliahnya, karena sering dimintai mengajar.

Ridwan Parulian, salah satu teman akrab Wan semasa kuliah katakan bahwa lelaki dengan dua anak ini memang orang yang pintar dan baik. “Menguasai betul dia ilmu akuntansi,” ujarnya.

Begitu juga yang dikatakan Al-Jupri, teman Wan sejak Sekolah Menangah Ekonomi Atas Negeri Pekanbaru. Jupri akui kegigihan Wan yang sejak dulu selalu sibuk bekerja. “Wan memang pandai, kalau soal akuntansi, dia tempat bertanyalah,” kenang Jupri.

Pemikiran Wan soal masa depan juga jauh lebih dewasa, berbeda dengan mahasiswa lain. “Misal umur sepuluh tahun, dia udah berpikir dua puluh tahun tu, memang visioner.”

Tahun 1995, Wan menyelesaikan studi. Sebelum diwisuda, Ia telah menikahi Yengki.

Foto: majalah.tempo.co

Bisnis itu aneh. Wan pernah membeli jam di Pasar Senen dengan modal satuannya 25 ribu. Kalau di mal bisa dijual seratus ribuan. Wan memasarkan jam itu dengan harga 49 ribu. Tapi tidak laku, malah dianggap palsu. Lalu Ia mengubah harganya menjadi 89 ribu dan laris terjual.

Selain itu, pernah juga jual aksesoris diskonan dan tidak laku. Karena asumsi pembeli, diskonan adalah barang yang paling buruk kualitas. “Jadi bisnis itu kadang aneh, dijual murah gak laku, dijual mahal malah laku,” jelasnya.

Bercerita soal bisnis, secara umum pemasok yang murah bergantung pada banyaknya pembelian barang. Prinsip Wan sejak dulu adalah tidak memilih yang paling murah, karena beresiko harus mangambil kuantiti yang banyak.

Hal ini bisa berujung overstock atau persediaan barang yang berlebih. Lebih penting mengambil barang yang variatif atau beragam. “Jangan belanja banyak-banyak karena tergoda harga murah,” pesannya.

Perlu memahami dulu ilmu Inventory Turn Over (ITO). ITO merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana tingkat perputaran barang. Rumusnya ialah jumlah stok barang dibagi dengan omset perhari.

Misalkan, antara toko tradisional dan toko swalayan stok barangnya sama-sama 200 juta. Swalayan dengan variasi lima ribu macam dan tradisional dengan seribu macam. Tapi omset swalayan bisa 10 juta dengan perputaran barang 20 hari, sedangkan tradisional hanya 2,5 juta dengan perputaran 80 hari, empat kali lipat lebih lambat dibanding swalayan.

Materi perhitungan ITO inilah yang diajarkan Wan ke Asosiasi Mayarakat Ritel Indonesia (AMRI).

Ada barang dengan perputaran cepat, disebut fast moving ada pula yang lambat atau slow moving.  Lama habis barang tidak terlalu cepat, misal sapu.

Di Idolmart sendiri, ada spidol sebagai barang fast moving. Perkiraannya, setelah seseorang beli spidol, kurun waktu singkat orang itu akan membeli spidol lagi. “Ya kalau sering ngajarin anak, seminggu habislah ya,” kata Wan.

Berbeda dengan pengapus sebagai barang slow moving. Kalau tidak hilang, kita tidak akan membeli lagi setahun kemudian.

Kedua barang itu tetap harus sama-sama dijual. Bedanya, perputaran barang yang cepat tidak boleh kosong, kalau yang lambat tidak boleh berlebih. “Ini nih, yang buat saya bangkrut dulu,” kenang Ketua AMRI tersebut.

Istilah terakhir dalam bisnis ada dead stock, barang yang tidak bergerak atau tidak terjual. Dulu Wan mengalami masa pahit itu, saat bangkrut. Senilai 400 juta stok jualannya menumpuk di gudang.

Ia stress dengan tekanan atas pertanyaan; barang segitu banyak mau diapakan? Belum lagi hutang yang sebanyak satu Milyar.

Hingga barang-barang itu akhirnya dilelang dan bangunan toko dijual. Hal tersebut membuatnya merasa lebih tertantang lagi untuk berbisnis.#

Tips Berolahraga di Masa Pandemi

Previous article

Protokol Keamanan Jurnalis, Lampu Hijau Meliput Isu lingkungan

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *