Al-Fatih: Pemuda yang Mengubah Sejarah Dunia

Al-Fatih: Pemuda yang Mengubah Sejarah Dunia/Muhammad Naufal Ihsan

“Andaikata dunia ini berbentuk satu kerajaan, maka Konstantinopel akan menjadi kota yang paling cocok untuk menjadi ibu kotanya,” tulis Alwi Alatas (hlm. 13).

Tiada yang menyangka Konstantinopel, kota yang selama lebih dari seribu tahun terkenal sebagai ibukota paling aman di dunia takluk di tangan seorang pemuda 21 tahun. Kota ini adalah pusat Imperium Romawi Timur, salah satu kekuasaan yang paling berpengaruh di dunia saat itu. Bahkan dianggap mustahil untuk ditaklukkan pada masanya.

Terkenal dengan pertahanannya yang luar biasa. Tembok Theodosian yang melindungi Konstantinopel memiliki panjang sekitar enam kilometer, tersusun atas tiga lapis pertahanan: parit selebar 20 meter, tembok luar setinggi delapan meter, dan tembok utama setinggi 12–15 meter dengan ketebalan lima meter, diperkuat menara setiap  55 meter. Selama berabad-abad, tembok ini menahan serangan Persia, Arab, Viking, hingga pasukan Salib. Kota ini dijuluki The Impregnable City, kota yang mustahil ditembus.

Skema Dinding Theodosian di Konstantinopel
Skema Dinding Theodosian di Konstantinopel

Tiada yang membayangkan pria berusia 21 tahun mampu memerintahkan sekitar 70 kapal perang yang berlayar melalui jalur darat sepanjang kurang lebih 3 kilometer, melintasi pendakian Bukit Galata dengan ketinggian sekitar 60–70 meter di atas permukaan laut. Kapal-kapal itu ditarik di atas gelondongan kayu yang dilumuri lemak. Lalu diturunkan ke Muara Tanduk Emas, wilayah laut yang sebelumnya terbentang rantai besi raksasa sebagai penutup jalan armada laut yang ingin menyerang Konstantinopel.

Tak berhenti di situ, dia menggunakan meriam raksasa bernama Basilica Cannon, dengan panjang sekitar 8 meter, dan peluru batu seberat hingga 600 kilogram. Meriam ini membutuhkan ratusan orang dan puluhan sapi untuk dipindahkan. Pertama kalinya dalam sejarah, meriam ini meretakkan tembok yang selama seribu tahun tak tergoyahkan oleh pasukan manapun.

Setelah pengepungan selama 53 hari, pada 29 Mei 1453, Konstantinopel pun takluk oleh pasukan pemuda itu. Dia adalah Sultan Mehmed II, seorang pemimpin kesultanan Utsmaniyah ke-7. Kelak ia dikenal sebagai Al-Fatih, yang berarti sang penakluk.

Peta Peperangan
Peta Peperangan Penaklukan Konstatinopel  

Bagaimana mungkin semua itu dapat dilakukan olehnya? 

Pertanyaan ini mendorong penulis menuntaskan buku ini. Melalui tujuh babnya, buku ini mengajak pembaca mengenali konteks Konstantinopel sebagai kota yang diperebutkan banyak bangsa. Posisi geografis yang strategis, alasan kota ini kerap diperebutkan.

Bukan tanpa sebab. Konstantinopel berdiri tepat di persimpangan dua benua dengan denyut ekonomi tertinggi pada masanya, Asia dan Eropa, sekaligus jadi titik temu antara jalur perdagangan darat, yaitu Jalur Sutra (Silk Road). Ditambah Konstantinopel memegang kunci vital jalur laut perdagangan internasional, antara Laut Hitam dan Laut Tengah melalui Selat Bosporus. Serta memiliki Muara Tanduk Emas sebagai pelabuhan alami yang aman sepanjang tahun. Bersama posisi yang nyaris tak tertandingi, tidak heran Konstantinopel memegang peranan strategis dalam konstelasi politik dan ekonomi global pada zamannya.

Di bab berikutnya, Alwi Alatas menempatkan Turki Utsmani sebagai judul dan pembahasannya. Tentu tidak akan ideal membahas biografi Al-Fatih, tanpa mengenal kesultanan yang membesarkannya. Alwi Alatas merangkum sejarah Turki Utsmani mulai dari pembentukannya hingga pengangkatan Al-Fatih sebagai Sultan. Menariknya linimasa sejarah yang berjalan lebih dari 150 tahun, oleh Alwi dirangkum dalam 16 halaman lengkap dengan gambar dan peta.

Selanjutnya fokus pada sosok Al-Fatih serta peristiwa penaklukan konstantinopel. Alwi menarik pembaca mundur ke beberapa tahun sebelumnya, mengisahkan masa kecil Sultan Mehmed II. Bagian ini penting karena memperlihatkan cara penakluk Konstantinopel tersebut ditempa sejak dini, jauh sebelum dia menoreh namanya dalam sejarah.

Di bab yang paling panjang dalam buku ini, Alwi Alatas merangkum kisah jatuh bangunnya  Al-Fatih sebelum ia dapat menaklukkan Konstantinopel. Dia bukanlah sultan yang langsung berkuasa secara mapan sejak awal. Pertama kali diangkat sebagai Sultan Utsmani pada 1444, ketika usianya masih sangat muda. Namun Kekuasaannya di awal berjalan tidak efektif, otoritas politiknya rapuh, tekanan eksternal dari Eropa meningkat, dan pemberontakan Janissari (pasukan khusus kesultanan Utsmani) di Edirne memaksa ayahnya, Murad II kembali berkuasa pada 1446.

Setelah wafatnya Murad II. Pada 1451, Al-Fatih diangkat kembali untuk kedua kalinya. Berangkat dari tempaan kegagalan masa lalunya, kali ini ia tampil sebagai pemimpin yang lebih siap. Hingga namanya tertulis menjadi satu satunya pemimpin yang berhasil menaklukkan Konstantinopel. Selepas tuntas menyingkap sisi pribadi Muhammad Al-Fatih, Alwi membawa pembaca menapaki perjalanan monumental penaklukan Konstantinopel dengan cara yang kronologis dengan membagi peristiwa pengepungan berdasarkan hari-hari penting.

Alwi menulis momen-momen krusial yang menentukan jalannya penaklukan. Dimulai dari pengumpulan pasukan dari segala provinsi, pembangunan meriam raksasa Basilica Cannon,  pengaturan infanteri dan armada laut, hingga sultan tiba di lokasi penaklukan. Alwi juga menggambarkan shalat Jumat yang diikuti 150 ribu orang, ketika gema takbirnya yang membentur menimbulkan tekanan psikologis pada pasukan Musuh. Dikatakan pikiran mereka takluk sebelum tubuh mereka.

Bab yang sama juga menceritakan perkembangan naik turunnya pasukan Al-Fatih selama pengepungan berlangsung, sempat terjadi upaya diplomasi untuk menghentikan serangan. Sebab beberapa petinggi menyarankan menerima tawaran Kaisar Byzantium berupa pajak 70 ribu keping emas setiap tahunnya.

Muhammad Al-Fatih adalah tokoh Muslim yang menaklukkan kota Kristen Ortodoks, bayangan kontroversi dan citra negatif kerap menyertai namanya. Menyadari hal itu, Alwi membantah persepsi tersebut. Ia menelusuri jejak sejarah dari berbagai sumber, baik yang lahir dari tradisi Muslim maupun dari catatan non-Muslim. Setiap penyangkalannya terhadap perspektif catatan non-Muslim, ia selalu memberikan argumen dan bukti historis yang kuat.

Jika ada kompetisi ringkasan buku biografi tentang Al-Fatih, karya ini pantas menjadi salah satu pemenangnya, inilah yang menjadi keunggulannya. Kisah panjang dan penuh dinamika Al-Fatih berhasil dirangkum dalam buku sebanyak 193 halaman, tanpa kehilangan inti kisah. Maka kita dapat memangkas sejarah yang berjalan ratusan tahun, dengan sekali rebahan sambil membaca buku ini.

Peta dan foto kerap menghiasi halaman hampir di setiap babnya. Seolah menuntun langkah imajinasi pembaca, menghadirkan narasi jadi nyata di hadapan mata. Juga tidak perlu cemas bagi pembaca yang awam sejarah, bahasa yang digunakan buku ini ringan dan mudah dipahami, sehingga setiap kisah tersaji dengan jelas bagi siapa saja.

Terkandung sisi subjektivitas dalam buku ini. Meski Alwi Alatas berusaha menyajikan narasi yang seimbang dengan menghadirkan perspektif Muslim maupun non-Muslim, terasa jelas dari alur narasi bahwa sudut pandang Muslim kerap lebih menonjol. Hal ini wajar, mengingat Muhammad Al-Fatih adalah tokoh penting dalam sejarah umat Islam, dan Alwi  sendiri merupakan penulis Muslim, sehingga setiap penilaian atau narasi yang condong ke sisi Muslim tidaklah mengejutkan. Subjektivitas ini bukanlah kekurangan yang mutlak. Buku ini tetap relevan bagi siapa saja yang memiliki rasa ingin tahu, termasuk non-Muslim yang mampu membaca dengan pikiran terbuka, tanpa dibebani emosi, dan mampu menilai secara jernih.

Kembali pada pertanyaan mendasar di atas—“Bagaimana mungkin semua itu dapat dilakukan olehnya?”—lalu, sejauh mana buku ini berhasil memberikan jawabannya?

Setelah menyelesaikan buku ini, penulis menyadari bahwa pertanyaan tersebut belum terjawab secara tuntas. Demi memahami sepenuhnya cara Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel, diperlukan narasi teknis yang lebih rinci mengenai strategi logistik, taktik militer, manuver armada,  skema manajemen sumber daya, dan detail teknis inovasi pengepungan. Sedangkan buku ini lebih menekankan narasi hidup, menghadirkan alur cerita dan momen-momen penting secara mengalir. Hanya sedikit menyentuh aspek teknis pengepungan dan strategi militer.

Meski begitu, buku ini berhasil menghadirkan wajah sang sultan secara hidup, dari sisi kecerdasan, keberanian, hingga sisi kemanusiaannya. Memberikan pembaca wawasan dan informasi yang juga penting bagi pegiat sejarah. Buku ini dapat dijadikan titik awal bagi kalangan awam yang ingin memahami sosok Al-Fatih, sekaligus menjadi landasan pengantar sebelum menelusuri karya-karya yang lebih detail dan komprehensif.

Identitas Buku
Judul buku: Al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel
Penulis: Alwi Alatas
Penerbit: Zikrul Hakim
Cetakan: Cetakan 1, juli 2005
Jumlah halaman: 192 Halaman
Penulis: Muhammad Naufal Ihsan
Penyunting: Najha Nabilla