Sore itu 28 oktober Wilingga Kru Bahana Mahasiswa datang ke sekre Gobah. Dari gerbang depan kampus raut wajahnya terlihat kesal. Tiba depan pintu keluar suara kesalnya terhadap Hengki staf Pembantu Rektor III. Wila sapaannya, ditunjuk jadi Bendahara diklat jurnalistik dan sering bolak-balik memantau perkembangan proposal diklat. Hari itu selesai jam istirahat siang ia ketemu Hengki tanya perkembangan proposal, setelah beberapa saat ia keluar dan langsung menangis. Ini dikarenakan Wila harus jalankan perintah Hengki lagi.

Wila diminta serahkan daftar hadir peserta diklat jurnalistik lengkap paraf sebanyak 50 peserta yang akan ikut diklat. Padahal diklat baru akan dilaksanakan 21 November mendatang. Sebelumnya, Wila disuruh membelanjakan uang 2,5 juta tapi dengan total kwitansi 6 juta sesuai besaran dana diklat yang diajukan. Padahal acara baru akan selesai pada 23 November tetapi sudah minta Bahana menyerahkan laporan seolah-olah kegiatan sudah selesai. Lagi-lagi Hengki nyuruh yang tidak benar.

Wila dipaksa menyelesaikan tugas itu dengan jaminan kalau tidak selesai maka sisa uang tidak diberi. Jika dikerjakan sisanya akan diberi. Dengan terpaksa Wila lakukan dan mengerjakan laporan meski acara belum terlaksana apalagi selesai terlaksana.

Hengki staf bendahara pengeluaran Pembantu Rektor III. Hengki staf yang susah ditemui, kalau diajak ketemu sekitar pukul 9 pagi sampai siang kadang tidak masuk ruangan kalaupun masuk bisa saja keluar lagi dengan alasan ada urusan. Padahal sudah konfirmasi bisa ketemu sebelumnya. Di ruangnnya juga Hengki selalu menjadi pelayan yang membuat mahasiswa terutama kelembagaan menunggu berjejer duduk di bangku dalam ruangan.

Kebiasaan buruk lain Hengki, selalu memberi harapan pada mahasiswa bahwa uang yang diminta akan cair besok. Didatangi ternyata tidak ada. Hengki bisa janjikan esok siangnya lagi. Di datangi tidak ada juga. Begitu cara Hengki buat orang mengutuknya dalam hati.

Hengki juga sering berbohong pada lembaga mahasiwa yang meminta dana untuk buat kegiatan dan berangkat untuk mengikuti kegiatan di luar. Hengki bilang kita sudah tutup buku, padahal tutup buku itu terhitung pertengahan Desember atau jelang akhir tahun di bulan dua belas. Jurus bohong lain Hengki adalah, selalu katakan uang kita sudah habis. Habis siapa yang memakai? Tahun ini saja UKM hanya diberi jatah 20 Juta tiap UKM. Jika dihitung 20 Juta dikali 9 UKM baru 180 Juta. Zulfikar Djauhari, Kepala BKP pernah bilang, uang untuk lembaga mahasiswa itu lebih dari 1 Milyar dianggarkan. Bahkan uang lembaga mahasiswa selalu bersisa tiap tahunnya.

Kenyataanya mahasiswa harus banyak-banyak berdoa pada Tuhan supaya duitnya lancar cair dan dapat berkegiatan. Sayangnya, Rahmat yang kini sudah tidak jadi Pembantu Rektor III lagi tidak pernah sama sekali mengevaluasi stafnya yang tidak betul bekerja ini. Dan akhirnya kami dari kelembagaan pun harus banyak berdoa semoga Hengki juga pergi dari tepatnya itu. Jangan jadi pelayan mahasiswa lagi.#

Penulis Jeffri Novrizal Torade S, Redaktur Non Liputan Bahana Mahasiswa Universitas Riau