foto http://news.liputan6.com/read/2069264/mahasiswa-bayar-uang-kuliah-tunggal-maksimal-rp-500-ribu
FeatureLaporan Utama

Sepenggal Kisah diberlakukannya UKT

0

TELEPON seluler sri bergetar. Ada panggilan mauk. Dari layar terlihat, telepon dari orangtuanya. Tak banyak cerita, ia segera diminta kembali ke kampung halaman di Tinada, Pak-pak Barat, Sumatera Utara. Ini terjadi beberapa hari setelah orang tua Sri mengetahui bahwa anaknya masuk kelompok 5 UKT di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atau FMIPA UR.

Sri Wulansari Simanullang kuliah di Jurusan Kimia 2013. Ia berhasil masuk di Universitas Riau melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri undangan disingkat SNMPTN. Sri bukan anak tunggal, ia empat bersaudara. Kakaknya kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Medan semester delapan. Adiknya di bangku Sekolah Menengah Atas dan bungsu masih balita.

Permintaan untuk segera kembali ke kampung halaman berasal dari ayahnya. Bungaran Simanullang, merasa tak mampu membiayai kuliah anaknya. Sehari-hari ia bekerja sebagai petani padi. Ladangnya pun tak begitu luas, hanya 0,2 hektar. Selain berladang, kadang ada juga panggilan kerja sebagai tukang bangunan. “Tapi ini jarang sekali terjadi,” cerita Sri. Sementara sang ibu hanya seorang ibu rumah tangga biasa, bekerja di ladang membantu suami.

Penghasilan orang tua Sri tidak tetap, “Biasanyanya sebulan paling besar satu setengah juta.” Beruntung kakaknya bekerja sambil kuliah, sehingga mengurangi beban orang tua. Sedangkan Sri selama ini dibantu oleh saudara ayahnya. “Kakak ku mengalah jika dikirim uang, katanya aku lebih butuh,” keluh Sri. Untuk bayar uang semester genap kali ini ia harus menguras tabungan keluarga dan meminta bantuan kerabat.

“Aku harap dapat kelompok UKT yang sewajarnya dan sesuai dengan keadaan,” harap Sri. Ia menolak kembali ke kampung halaman dan menanti hasil verifikasi. Ia sangat ingin kuliah.

Ini hanya salah satu dari beberapa mahasiswa yang masuk golongan lima. Beda lagi cerita Fittri Handayani, mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi. Ia ajak ayahnya ikut pertemuan bersama orangtua mahasiswa di Lantai empat Rektorat UR pada 17 Februari. Ghozali, ayah Fittri berangkat dari Air Molek, Indragiri Hulu pakai travel dua hari sebelum acara.

Ia cerita, selain biayai Fittri, masih ada lagi anaknya yang masih kuliah di Universitas Islam Riau. Ghozali petani karet, luas tanahnya kurang dari satu hektar. Setengah ditanami karet, setengahnya lagi untuk bangunan rumah. Istrinya seorang buruh pembuat batu bata disekitar rumahnya.

“Saya merasa tak mampu jika kelompok UKT anak saya tak diturunkan,” ujar Ghozali. Ghozali akan memindahkan Fittri jika tak mampu bayar beban UKT tersebut. “ Tapi serba salah, orang tua mau pindahkan, tapi anak tak setuju ya nggak bisa juga,” ujarnya. Dilema melanda Ghozali, anak ingin kuliah, namun biaya tak mencukupi.

Lain cerita Mulia Rahayu, ia juga Jurusan Kimia di FMIPA. Sejak pertama pengumuman golongan

UKT, dia masuk golongan lima, hingga verifikasi data kedua Ayu masih golongan lima. Ayah ayu, seorang montir jam dengan penghasilan berkisar antara satu sampai 1,7 juta rupiah perbulan. Ibunya bekerja dengan saudara berjualan lontong disekitar rumah Jalan HangTuah, Pekanbaru. Dia tak kuliah sendiri, ada kakaknya yang juga kuliah sambil kerja. “Berada di Kelompok 5 UKT tentu memberatkan orangtua saya,” keluhnya.

Dua hari setelah adanya pertemuan antara pihak rektorat bersama orang tua mahasiswa yang keberatan tentang hasil golongan UKT, Ayu tahu ada pendaftaran dan verifikasi. Ia coba lengkapi semua persyaratan yang diajukan untuk ikut verifikasi ketiga.

Ada delapan poin persyaratan bagi mahasiswa. Melampirkan keterangan pekerjaan dan penghasilan kotor orang tua, jumlah anak yang ditanggung, jumlah tagihan Pajak Bumi dan Bangunan, air dan kendaraan, foto rumah, surat keterangan tak mampu, surat penerima beras miskin dan surat pernyataan dari tenaga medis bahwa anak dan pemohon bukan perokok aktif.

Semua persyaratan tersebut harus diserahkan keruangan Pembantu Rektor II pada akhir Februari. Sama dengan Sri, ia menanti hasil verifikasi data. Namun kata anak ke dua dari tiga bersaudara ini, jika nantinya ia tetap golongan lima, dia akan berhenti sementara dan kuliah di perguruan swasta. “Kata orangtua saya berat kali, padahal negri,” kata Ayu menirukan tanggapan orangtuanya.

Kini, Sri dapat bersenang hati. Setelah ia mengurusi seluruh persyaratan untuk verifikasi data, ia dipindahkan ke kelompok 3. Namun cerita bahagia tak dimiliki Ayu. Ia tetap di golongan 5 dan memutuskan untuk berhenti. #

Menentang UKT

Previous article

Universitas Negeri Atau Swasta

Next article

Comments

Leave a Reply