Bedah FilmRehat

The Bajau: di Laut Dibatasi, di Darat Tak Memiliki

0

“Jangan salah, kita ini berhutang besar sekali ke Bangsa Laut jika melihat sejarahnya,” sahut Marhalim Zaini, pegiat seni lingkungan dan Kepala Suku Seni Riau di acara Nonton Bareng dan Diskusi yang diselenggarakan Bahana, Sabtu (18/01).

Sejarah Bangsa Laut terhadap kemerdekaan Indonesia di masa penjajahan tidak bisa dilupakan begitu saja. Pengabdian mereka terhadap Kerajaan Melayu tidak diragukan. Salah satunya terhadap Sultan Johor. Seperti dilansir historia.id, sebelum abad 18 M Sultan Johor mengerahkan 5.500 pasukan yang direkrut dari orang Suku Laut. Mereka ditugaskan mengamankan jalur pelayaran. Mengingat, dulu perairan adalah jalur transportasi utama.

Kejayaan Bangsa Laut pada zaman itu bertolak belakang dengan yang terjadi saat ini. Mereka hidup dengan keterbatasan dan kesulitan.

Hal ini digambarkan dengan baik dalam film dokumenter berjudul The Bajau. Bajau adalah salah satu suku dari 155 suku Orang Laut yang tercatat secara resmi. Haryono Maha Seri Bijawangsa—Presiden Bangsa Orang Laut se-Dunia katakan masih banyak suku lain yang belum mendaftar.

Film The Bajau dimulai dengan narasi awal tentang Suku Bajau yang ditangkap pada November 2014. Mereka dianggap nelayan ilegal dan pencuri ikan yang berlayar melewati batas teritorial negara. Lalu dilanjutkan dengan gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat Bajau mencari ikan, melakukan ritual adat hingga berinteraksi satu sama lain.

WatchDoc sebagai penggarap film, mengambil dua lokasi yang berbeda dengan cara hidupnya masing-masing.

Salah satu kelompok masyarakat masih mengamini untuk tetap tinggal di atas perahu. Meskipun mereka tahu, kehidupan sekarang tak lebih baik dari dulu. Seperti para tengkulak yang membeli hasil tangakapan mereka dengan harga murah, sehingga terkadang tidak ada keuntungan yang didapatkan. Sedangkan biaya hidup semakin naik.

“Memang kebiasaan di sini, Orang Bajo tinggal di laut, biarlah tetap di laut,” ucap Munu, salah seorang masyarakat Suku Bajau. “Meski rumah di darat, difasilitasi rumah, kami maunya tinggal di laut.”

Beralih dari Munu, kini ada kelompok masyarakat Bajau yang sudah tinggal dan menetap di pinggiran laut. Perpindahan tempat ini diminta oleh pemerintah dengan alasan agar mereka tidak terombang-ambing di perairan. Juga supaya anak-anak mereka menerima pendidikan.

Akhirnya mereka membangun rumah panggung di atas air. Namun sekarang air itu sudah keruh, sejak adanya perusahaan tambang yang dibangun di dekat pemukiman. Dulu, mereka mendapat lahan dua hektar untuk masing-masing keluarga. Tetapi, malah digugat atas lahan mereka sendiri.

Sudah 15 tahun mereka tinggal di pesisir laut wilayah Morombo, Sulawesi Utara itu. Hingga perusahaan datang meminta mereka membuka lahan yang awalnya dipakai untuk berkebun tanpa diberi ganti rugi. “Akhirnya datanglah orang dari luar tinggal di sini. Kami dibodohi,” ucap Belalo.

Film ini kemudian memperlihatkan kilas balik 13 tahun silam di kawasan yang sama, sebelum pembangunan perusahaan. Daerah lereng yang menghadap laut masih dipenuli oleh hutan-hutan. Air laut pun masih jernih hingga ke pinggiran.

Saat itu, mencari ikan dan kerang tidak harus ke tempat-tempat yang jauh. Karena masih ada di sekitar rumah mereka. Sekarang, harus pergi jauh ke pulau-pulau lain untuk memanfaatkan sumber daya laut.

Ramanta, salah satu yang bermukim di rumah panggung itu katakan ketika mereka masih tinggal di perahu, membuang ampas kopi ke laut saja dilarang. Karena akan mencemari laut, sehingga kerang dan ikan akan pergi.

Miris ketika melihat perusahaan membuat air terlihat kecoklatan, sehingga masyarakat Bajau semakin kesulitan. “Laut tidak bisa kembali seperti dulu, mau dibiarkan saja, kasihan,” ucap Ramanta.

Menurut Marhalim Zaini pemerintah terkesan memaksa mereka untuk pindah ke daratan dengan jaminan kehidupan. Bukannya memberikan apa yang orang-orang Suku Bajau butuhkan, alih-alih secara ekonomi dan sosial, semuanya tidak terpenuhi. “Orang-orang Suku Bajau malah merasa bahwa mereka dibatasi di laut, namun tidak pula memiliki di darat.”

Ada tiga poin utama yang didapat Marhalim dari film The Bajau, yaitu kearifan lokal, situasi komunitas untuk pindah ke tempat baru, dan isu lingkungan yang dibalut dengan begitu apik.

Orang-orang Bajau masih menangkap ikan dengan cara tradisional seperti menombak, memanah, menjala dan menyelam sebagai bentuk pemeliharaan laut. Sedangkan orang zaman sekarang memandang alam sebagai objek eksploitasi. “Ingin mengambil semuanya.”

Marhalim berpendapat, seharusnya ada kajian dan evaluasi dari pemerintah, yang juga melibatkan banyak pihak dan memikirkan segala dampak ke depannya. Bukannya malah terkesan “mengusir”.

Belum lagi, kehidupan di darat bukanlah hal yang mudah bagi mereka. Ada banyak perbedaan yang membutuhkan adaptasi baru.

“Ini bukan hal yang bisa terjadi secara instan. Tapi pemerintah kita inginnya yang cepat, maunya praktis. Justru membunuh budaya dan tradisi,” tambah pencipta puisi dan teater Hikayat Orang laut tersebut.

Menanggapi hal ini Haryono akui memang sulit untuk beradaptasi di darat. Butuh waktu bertahun-tahun bagi diri nya sendiri ketika pindah ke Pekanbaru—kota yang jauh dari laut, untuk melanjutkan pendidikan.

“Orang Laut takut melihat hutan, tidak ada yang berani masuk ke hutan itu, sebagaimana kalian yang orang darat takut melihat lautan.”

Namun, bagi Haryono masih ada sisi positif dari pemindahan situasi ini. yaitu pendidikan yang mumpuni. Meskipun hal itu juga masih ia perjuangkan hingga sekarang.

Ia mengharapkan bangsanya bisa lebih maju tanpa membuang budaya, tradisi dan kebiasaan yang sudah ada. Karena hal tersebut adalah identitas yang menjadikan siapa mereka sebenarnya.

“Ketertinggalan itu terjadi karena tidak bisa mengimbangi apa yang awalnya sudah ada, dengan yang baru,” tutup Haryono.

Acara nonton bareng dan diskusi film The Bajau ini dibarengi dengan galang dana. Uang yang dikumpulkan dari acara berjumlah 203.000 rupiah dan sudah di kirimkan ke rekening Aliansi Jurnalis Independen Gorontalo untuk di teruskan ke masyarakat Suku Bajau. Pengiriman dilakukan oleh Bahana Mahasiswa Universitas Riau pada Senin (20/01).

Penulis            : Dwi Ajeng Andini

Editor              : Ambar Alyanada

Situs UNRI Masih Belum Bisa Diakses. Sampai Kapan?

Previous article

Tidak Perlu Manual, Pelaksanaan Kegiatan Akademik Diundur

Next article

You may also like

Comments

Leave a Reply

More in Bedah Film