Panitia Pemilihan Raya Universitas kembali menggelar Kampanye Dialogis Pemilihan Raya Universitas Riau (Pemira Unri) 2025. Boyong tema Pemira 2025 Suara Kita Masa Depan Bersama, kegiatan ini berlangsung pada pukul tiga sore, Rabu, 26 November 2025. Bertempat di belakang Open Space, Kampus Bina Widya, Panam.
Ketua Panitia Pengawas, Rifqy Umar Sikumbang mengatakan kampanye ini hadir sebagai wadah guna berdialog dan berdiskusi dengan mahasiswa Unri. “Ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memberikan pertanyaan secara langsung dan mendengar argumen dari pasangan calon atau paslon,” ujarnya.
Paslon 01, Muhammad Azhari dan M. Yahya Ramadhani hadir dengan moto Arah Aksi Nyata. Visi pasangan ini adalah terwujudnya Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM UNRI sebagai poros pergerakan mahasiswa yang memiliki integritas serta progresif, adaptif, dan berdampak nyata bagi mahasiswa UNRI, masyarakat Riau, dan Indonesia.
Sementara Paslon 02, Ahmad Arifin dan Rakan Tsany datang mengusung slogan Sinergi Bersama Arifin–Rakan. Visi mereka membangun sinergi kolaboratif dalam restorasi gerakan moral mahasiswa yang independen, progresif, dan berorientasi pada kebermanfaatan bagi mahasiswa serta masyarakat.
Pembawa acara memandu sesi tanya jawab. Waktu bertanya hanya satu menit, sedang tiap paslon punya tiga menit untuk menanggapi pertanyaan. Lalu disusul satu menit bagi penanya untuk merespons, dan satu menit bagi paslon memberikan klarifikasi akhir. Kedua paslon akan silih berganti guna menjawab secara perdana.
Pertanyaan pertama perihal tradisi progresif dan independensi BEM Unri. Arifin dapat giliran lebih awal. Ia menyampaikan pandangannya soal gerakan mahasiswa.
“Terkait independensi BEM Unri, gerakan mahasiswa Unri benar-benar gerakan yang berasal dari keresahan kita bersama. Bukan dan tidak akan ternodai oleh hal-hal yang di luar dari gerakan hari ini,” ujar mahasiswa Fakultas Pertanian itu.
Pertanyaan selanjutnya tentang maraknya akun mention dan confess (menfess) kampus yang kerap memberikan kritik keras soal isu internal. Azhari merespons akun ini menjadi salah satu wadah aspirasi mahasiswa. Mendukung demokrasi kampus dan kebebasan berpendapat.
“Kritik itu bukan hal yang harus kita hindari. Kritik itu baik sebagai bentuk upgrade diri kita. Boleh penanya cek akun-akun menfess itu, pasti saya follow [ikuti] semuanya,” ucapnya.
Tidak terlewat, Paslon 02 juga memberi tanggapan terkait menangani akun-akun menfess kampus. “Adanya akun-akun demikian tandanya kawan-kawan masih peduli tentang permasalah dan keresahan-keresahan kampus yang ada. Kita sangat terbantu oleh akun akun tersebut,” ucap Rakan.
Pertanyaan berikutnya singgung isu pergerakan dan pengembangan dalam organisasi mahasiswa. Calon Wakil Presma alias Capresma 02, Rakan memberikan gambaran soal porsi pergerakan dan pengembangan di tiap level organisasi untuk jadi tolak ukur pergerakan.
Ia menjelaskan tiap porsi per tingkat kelembagaan. Himpunan mahasiswa 80 persen pengembangan dan 20 persen pergerakan. Lalu BEM Fakultas 50 persen pengembangan dan 50 persen pergerakan. Sedangkan BEM Universitas punya bobot 80 persen pergerakan dan 20 persen pengembangan.
“Pergerakan dan pengembangan merupakan dua hal yang berbeda. Maka dari itu kami hadir untuk menyinergikan keduanya,” ucap Rakan.
Azhari turut menyampaikan pandangannya mengenai peran lembaga eksekutif mahasiswa. BEM seharusnya lebih condong membawa gerakan mahasiswa yang berintegritas. Menyoal pengembangan jadi ranah himpunan mahasiswa.
“BEM harus menjadi lokomotif utama pergerakan mahasiswa. Saya sebagai menteri sosial politik saat ini [BEM Unri], paham apa yang menjadi kekurangan kami kedepannya. Tentunya itu menjadi amunisi untuk saya memberikan solusi kedepannya,” tutup Azhari.
Kegiatan ini diakhiri dengan kalimat penutup dari masing-masing paslon foto. Mengingatkan mahasiswa yang hadir untuk berpartisipasi dalam Pemira Unri pada Senin, 2 Desember 2025 mendatang.
Pewarta: Naufal Ihsan
Penyunting: Fitriana Anggraini

