Dunia pers Indonesia berduka. Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Zulmansyah Sekedang wafat pada Sabtu, 18 April 2026, dini hari. Akibat serangan jantung.
Malam sebelum berpulang, dedikasinya pada dunia pers masih terpancar. Sempat menghadiri Deklarasi Peluncuran Serikat Wartawan Senior Indonesia di Kampus London School of Public Relations, Jakarta. Disadur melalui antaranews.com, ia bersama sejumlah pengurus PWI lanjut makan malam di Jalan Jaksa. Namun sekitar pukul 21.00 WIB, ia tiba-tiba mengalami sesak dada hebat, lemas, hingga muntah-muntah. Tak lama, ia dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Budi Kemuliaan.
Dokter mendiagnosis serangan jantung, sejalan dengan riwayat penyakit jantung yang diidap. Pihak rumah sakit sempat merekomendasikan rujukan ke RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita. Malang, di tengah upaya medis tersebut, pukul 00.10 WIB Zulmansyah dinyatakan meninggal dunia.
Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, sampaikan duka mendalam atas kepergian sahabatnya. “Kami kehilangan salah satu kader terbaik yang selalu total dalam bekerja untuk organisasi. Semangat dan dedikasi beliau akan selalu kami kenang,” ujarnya kepada ANTARA.
Kata Munir kepergian Zulmansyah merupakan kehilangan besar bagi PWI dan komunitas pers nasional. Almarhum dikenal sebagai pribadi yang ramah, riang, serta memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia jurnalistik dan organisasi.
Jauh sebelum dikenal di tingkat nasional, perjalanan Zulmansyah bermula dari Pekanbaru. Lahir di Banda Aceh pada 2 Juli 1972, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga militer. Sempat bercita-cita menjadi tentara juga. Kendati keinginan itu tak terwujud, ia justru lulus seleksi masuk Universitas Riau saat itu. Ia pun merantau ke Pekanbaru pada 1992, menempuh pendidikan Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Lembaga Pers Mahasiswa (dulu Surat Kabar Kampus) Bahana Mahasiswa mengubah hidup Zulmansyah. Lewat Bahana ia mengenal dan mencintai dunia jurnalistik. Terinspirasi oleh tokoh pers legendaris Adam Malik katanya. Nalar kritis pun mulai terasah lewat karya perdana berjudul “Bebek atau Kambing!”. Hal ini ia ceritakan dalam buku Secuil Kisah 26 Alumni Bahana.
Dari pers kampus, ia merintis karier sebagai wartawan harian Riau Pos. Lanjut menanjak ke berbagai posisi strategis. Mulai dari Pemimpin Redaksi Pekanbaru MX hingga Wakil Pimpinan Umum Riau Pos Group.
Zulmansyah meninggalkan istri tercinta, Hastuti Salta. Juga putra mereka, Abinyu Putra Sekedang. Mengutip cakaplah.com, jenazah diterbangkan dari Jakarta ke Pekanbaru sebelum dimakamkan pada Sabtu, 18 April kemarin. Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kartama jadi peristirahatan terakhir.
Di balik rekam jejaknya yang panjang, Zulmansyah pegang prinsip hidup yang sederhana. Bermuara pada satu pesan sang ibunda sebelum ia merantau. “Menjadi orang baik dan berguna bagi semua orang.”
Pewarta: Mesya Regina Hutabarat
Penyunting: Jericho Carolla Sembiring

