Mahasiswa Budidaya Perairan (BDP) angkatan 2024 tenggelam di Waduk Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau (FPK Unri) pada Kamis malam, 4 Juni 2026.
Selepas salat Isya, korban berinisial D menyelam guna mencari ikan bersama dua orang temannya, M dan A. Saat sedang menyelam, korban tak kunjung naik ke atas permukaan. Saksi mata kejadian sekaligus teman korban, Eko sebut kedalaman waduk mencapai dua meter dengan dasar dipenuhi lumpur.
Lebih lanjut Eko bercerita. D menghubungi Eko sekitar pukul tujuh malam, mengajaknya untuk menembak ikan. Lantaran sedang ada urusan, ia melarang ketiganya agar tidak turun ke waduk dan menunggu ia pulang, namun pesan tidak diindahkan.
Saat ia tiba di lokasi pukul delapan malam, Eko mendapati ketiganya sudah berada di ujung waduk. D dan A menyelam, sementara M menunggu dari perahu berbahan drum.
D sempat mengajak Eko bergabung, tetapi ia tolak. “Gak lah,” balasnya malam itu sebelum pergi ke kolam pemijahan ikan, tempat ia menetap tak jauh dari lokasi waduk.
Pukul 20.33 WIB, M tiba-tiba menelepon. Mendesak Eko untuk mencari pemadam kebakaran (damkar) lantaran D tak kunjung naik ke permukaan. Alumnus FPK itu sontak panik dan bergegas menghubungi satuan pengamanan Universitas Riau (Satpam Unri) dan beberapa orang lainnya untuk membantu sebelum kembali ke waduk.
“Bang, damkar tolong cepat bang!” seru M waktu kejadian. Di pinggiran waduk, Eko bersama satpam sibuk mencari bantuan.
Banyaknya pihak yang akan dihubungi guna pinta bantuan sempat menjadi kendala. Terlebih damkar dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Pekanbaru juga tersesat kala mencari jalan masuk lewat Kolam Percobaan. Mobil mereka juga mogok, tepat di jalan dekat Arboretum menuju FPK.
Eko bersama mahasiswa dari Marine Science Diving Club (MSDC) berinisiatif turun mencari D, namun dicegat atas alasan keamanan. Panik tanpa kepastian, sekitar pukul sebelas malam perahu Basarnas akhirnya datang. Keluarga korban dari Kampar pun juga tiba.
Basarnas Pekanbaru menerima laporan mengenai tenggelamnya korban sekitar pukul 20.57 WIB dan segera menuju ke lokasi kejadian. Pada pukul 23.15, bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB), damkar, serta kepolisian setempat langsung melakukan penyisiran di titik terakhir korban terlihat.
Komando Tim Rescuer Basarnas Kota Pekanbaru, Supratman mengatakan dua orang penyelam diturunkan guna menemukan korban. “Kita pergi dengan dua korban yang selamat tadi, menunjukkan arah. Kalau untuk pencarian langsung penyelamnya,” jelasnya saat ditemui pada pukul 02.57 WIB dini hari.
Jarak pandang yang tidak ada serta kondisi dalam waduk yang dipenuhi kayu-kayu tajam menghambat proses pencarian. “Visibility-nya [jarak pandang] nol, tidak tampak,” ujarnya.
Setelah beberapa menit melakukan pencarian, korban masih belum ditemukan. Basarnas menghentikan sementara pencarian korban karena kondisi yang gelap. “Pukul 00.30 kita cut [menghentikan] pencarian. Jadi kita kosongkan lokasi, rencana pagi ini pukul enam baru bergerak ke sana,” katanya.
Pencarian Dihentikan, Keluarga Melanjutkan
Saat pencarian berujung nihil, keluarga D datang membawa perlengkapan selam. Mulai dari tabung oksigen, selang sepanjang 20 meter, dan kacamata renang. Peralatan yang biasa digunakan warga sekitar Sungai Kampar untuk mencari ikan. Keluarga berinisiatif mencari D, melanjutkan pencarian setelah mendapatkan izin dari pihak kampus agar korban segera ditemukan.
“Mereka [Keluarga] akan turun lagi mencari D, tetapi atas inisiatif keluarga. Maksudnya jika ada apa-apa mereka menanggung resiko sendiri,” ucap Eko menjelaskan.
Menunggu air kembali jernih, sekitar pukul 01.55 dini hari pencarian mandiri dilakukan. Eko, paman D, seorang alumni BDP yang juga kerabat korban, A, serta ayah A yang akan menyelam, menaiki perahu membawa perlengkapan sebelumnya.
Tabung oksigen ditaruh di atas perahu. Disusul selang oksigen yang sengaja dililitkan ke paha ayah A sebagai tali pengaman. Sedangkan perahu bertengger di titik terakhir D terlihat.
“Kami ambil 90 derajat ke selatan, [menyelam] sampai habis selang 20 meter. Siap itu balik lagi,” ujarnya.
Pencarian terus berlanjut sampai tiga kali, sedikit menyerong dari jalur pencarian awal. Pada pencarian keempat saat ayah A menyelam ke arah barat, korban D akhirnya ditemukan pukul 02.10 dini hari. Sedikit mengambang dalam posisi telungkup dari dasar waduk sekitar tiga sampai empat meter dari tepian semak.
“Ketika selang itu sudah tegang, perahu kami pun ikut tertarik. Disentaklah oleh dia [ayah A], disitulah ketemu rupanya,” jelas Eko.
Lebih lanjut, Eko mendeskripsikan lokasi penemuan D ada di bawah tanaman yang mengapung di pinggir waduk. Semak tersebut membentuk formasi mirip tanjung dan menebal di sisi kiri seperti daratan, dan jarak antara semak ke dasar waduk menyisakan ruang kosong sekitar satu meter. Menepis kabar bila korban terjerat akar tanaman.
Keluarga menyimpulkan D meninggal akibat kehabisan napas dan tersesat dalam air. Kondisi di bawah semak tersebut membentang luas lebih dari 20 meter sehingga menyulitkan korban untuk mencari arah keluar ke permukaan.
“Beberapa kayuh lagi masih bisa selamat dia sebetulnya. Jadi kami beranggapan memang sudah habis nafas, dia tidak tahu arah ke mana. Mau keluar pun tidak bisa,” Simpulnya.
Privasi Korban yang Dilanggar
Saat korban akhirnya dinaikkan ke atas perahu karet, mereka sontak berteriak meminta kantong mayat. Evakuasi dilakukan cepat, ayah korban bersama Basarnas yang tengah beristirahat di musala cepat dihubungi.
Eko menjelaskan beberapa pihak telah menunggu di tepi waduk dengan kamera ponsel merekam. Mencoba mengabadikan momen yang dengan cepat ditepis keluarga yang masih berada di tengah waduk. Mereka berusaha menutupi wajah dan dada korban, namun kondisi semakin tidak kondusif saat permintaan tidak digubris.
“Kami minta tolong lah, jangan divideokan!” hardik paman D dari atas perahu karet yang diperagakan Eko.
Eko semakin jengkel saat kantong jenazah berupaya dibuka oleh seseorang. Lengkap dengan gawainya yang tengah ia pegang. “Langsung kami pegang resletingnya. Paling menjengkelkan malam itu,” seru Eko.
Tidak hanya privasi korban yang dilanggar, Eko mengaku dihambat saat pencarian oleh beberapa wartawan. “Orang-orang ini menanyakan info semua. Ini kami dihambat sama wartawan tu.”
Hambatan lain datang saat motor terparkir liar di depan waduk yang menutup jalan akses masuk kendaraan Basarnas. Mau tak mau, terpaksa perahu karet harus mereka angkat menuju waduk.
“Orang-orang tu cuma nengok [menonton] aja. Motor diparkir sembarangan, entah siapa lah yang ngasih info [kejadian] itu,” ungkap Eko dengan kesal. Meski sudah diperingatkan agar motor diparkir rapi, perintah tersebut tidak dilaksanakan.
Ayah korban yang akhirnya tiba tidak kuasa menahan tangis saat melihat jasad anaknya. Ambulans didatangkan guna mengangkut jasad menuju Rumah Sakit Pendidikan Unri. Usai dibersihkan, keluarga memutuskan membawa jasad kembali pulang. Berdasarkan keterangan tambahan Eko melalui telepon WhatsApp pada Jumat, 5 Juni pukul 15.22, korban telah dimakamkan sebelum tengah hari di Kampar.
Pewarta: Mutiara Ananda Rizqi, M. Rizki Fadilah
Penyunting: Jericho Carolla Sembiring

